Wall Street Loyo Tersengat Koreksi Saham Micron Jelang Rilis Data Inflasi

Oleh Agustina Melani pada 10 Agu 2022, 06:31 WIB
Diperbarui 10 Agu 2022, 06:31 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Selasa, 9 Agustus 2022. Wall street tertekan seiring investor navigasi hasil laporan keuangan perusahaan yang mengecewakan jelang rilis data inflasi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 merosot 0,42 persen ke posisi 4.122,47. Indeks Nasdaq anjlok 1,19 persen ke posisi 12.493,93. Indeks Dow Jones melemah 58,13 poin atau 0,18 persen ke posisi 32.774,41.

Koreksi wall street melemah setelah produsen chip Micron memperingatkan pendapatan dapat turun dalam jangka pendek dan tidak sesuai dengan panduan sebelumnya seiring faktor makro ekonomi dan kendala rantai pasokan. “Sahamnya turun lebih dari 3 persen.

Ini adalah pekan yang berat bagi produsen chip. Pada Senin, 8 Agustus 2022, panduan pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan dari Nvidia membebani grup. Saham tersebut memperpanjang koreksi pada Selasa, 9 Agustus 2022.

"Ini adalah dua pemain besar yang menurut saya investor berada dalam posisi yang lebih baik untuk menavigasi beberapa masalah rantai pasokan baru-baru ini. Saya pikir ada kekhawatiran ini benar-benar akan membebani teknologi,” ujar Senior Market Analyst Oanda, Ed Moya, dikutip dari CNBC, Rabu (10/8/2022).

Indeks S&P 500 telah naik selama tiga minggu berturut-turut, tetapi musim laba telah menampilkan peringatan permintaan dari eksekutif perusahaan besar. Investor mengamati dengan cermat untuk menentukan bagaimana perjuangan the Federal Reserve (the Fed) melawan inflasi.

“Semua yang kami dapatkan adalah menunjukkan inflasi memiliki dampak jauh lebih keras pada pandangan perusahaan Amerika, dan itulah mengapa saya pikir pasar ini akan sulit untuk terus membeli saham,” ia menambahkan.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Menanti Data Inflasi AS

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Di luar chip, sepasang saham yang terdaftar di Nasdaq juga terpukul. Saham Novavax merosot hampir 30 persen setelah memangkas panduan pendapatan setahun penuh karena permintaan  buruk untuk vaksin COVID-19nya. Saham Upstart turun lebih dari 11 persen setelah perusahaan pemberi pinjaman konsumen melaporkan hasil kuartal II yang meleset dari harapan laba dan pendapatan.

Di sisi lain, investor sedang menunggu pembacaan terbaru dari indeks harga konsumen Juli yang akan rilis Rabu pekan ini. Laporan itu diperkirakan menunjukkan sedikit perlambatan inflasi, sebagian berkat koreksi harga minyak yang dapat menginformasikan pasar tentang langkah selanjutnya untuk the Federal Reserve.

Imbal hasil treasury atau obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) lebih tinggi menjelang rilis inflasi Juli. Laporan tersebut diharapkan menunjukkan inflasi utama berada pada laju tahun ke tahun sebesar 8,7 persen pada Juli, turun dari 9,1 persen pada Juni, menurut Dow Jones.

Pelaku pasar mengatakan agar pasar melihatnya secara positif, inflasi harus sesuai dengan harapan dan bahkan lebih rendah.

 


Imbal Hasil Obligasi AS

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Menjelang laporan, selisih antara imbal hasil obligasi dua tahun dan 10 tahun terus melebar, dengan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun naik lebih jauh di atas 10 tahun. Fakta obligasi bertenor dua tahun lebih tinggi berarti kurva imbal hasil terbalik, dan itu terkadang merupakan sinyal resesi.

Andy Brenner dari National Alliance menuturkan, inflasi dapat menjadi titik balik bagi pasar. “Jika kami mendapatkan laporan inflasi yang bagus yang diharapkan banyak orang, saya pikir Anda dapat mengubah kurva imbal hasil dan Anda dapat mengubah peluang the Fed menjadi kurang agresif dari lebih agresif,” kata Brenner.

Ia menambahkan, jika itu angka yang buruk dan masih 9 persen serta masih tinggi dari bulan ke bulan, pasar akan mencoba mengunci  75 basis poin untuk September. The Fed diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin pada pertemuan September. Sejumlah ekonomi mengharapkan kenaikan 50 basis poin.


Penutupan Wall Street pada 8 Agustus 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street berjuang mempertahankan posisi pada perdagangan Senin, 8 Agustus 2022 karena kekhawatiran permintaan untuk industri semikonduktor bebani saham teknologi. Pergerakan wall street ini juga seiring indeks S&P 500 mencatat kenaikan tiga mingguan berturut-turut.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 melemah 0,12 persen menjadi 4.140,06. Indeks Nasdaq susut 0,10 persen menjadi 12.644,46. Indeks Dow Jones menguat 29,07 poin ke posisi 32.832,54.

Nvidia mengumumkan pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan pada kuartal II 2022 memberikan tekanan pada saham semikonduktor. Saham raksasa chip itu turun lebih dari 6 persen, dan saham saingannya seperti AMD dan Broadcom juga berada di bawah tekanan.

Sejumlah saham terkait energi bersih diperoleh setelah Senat meloloskan Undang-Undang Pengurangan Inflasi. Langkah itu mencakup miliaran dolar AS yang ditujukan untuk mengatasi perubahan iklim. DPR AS diperkirakan meloloskan langkah tersebut akhir pekan ini.

Di sisi lain saham Disney memimpin kenaikan di indeks Dow Jones. Saham Disney menguat lebih dari dua persen. Selain itu, pergerakan wall street mengikuti kenaikan mingguan untuk S&P 500 dan Nasdaq Composite karena laporan pekerjaan bulanan yang sangat kuat meredakan beberapa kekhawatiran resesi.

Data tenaga kerja yang tangguh juga isyaratkan ekonomi dapat menahan lebih banyak kenaikan suku bunga dari the Federal Reserve (the Fed).

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya