Sektor Saham Teknologi dan Komoditas Jadi Pilihan pada Semester II 2022

Oleh Elga Nurmutia pada 10 Agu 2022, 07:30 WIB
Diperbarui 10 Agu 2022, 07:30 WIB
IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Perbesar
Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan,sektor yang memiliki fundamental menarik antara lain sektor teknologi dan komoditas pada semester II 2022.

Senior Portfolio Manager MAMI, Samuel Kesuma mengatakan, sektor teknologi dan komoditas menjadi pilihan investasi pada semester II 2022 karena fundamental yang menarik. Ia menilai, sektor teknologi yang sempat menjadi primadona dan kini koreksi, tetapi sudah mulai stabil.

"Ada dua sektor yang menurut kita fundamentalnya cukup menarik, karena pasar belum sepakat, jadi yang pertama sektor teknologi sempat jadi primadona dan terkoreksi sekarang cukup menarik karena setelah terkoreksi sentimen investor sudah kembali stabil,” kata Samuel dalam konferensi pers MAMI, Selasa (9/8/2022).

Dia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan bank sentral memberikan dampak yang baik bagi sektor teknologi dengan pangsa pasar yang besar.

"Menurut kita dengan situasi kenaikan suku bunga sekarang, uang enggak lagi murah seperti dahulu itu harusnya sangat bagus untuk pemain teknologi yang memiliki market share besar,” ujar dia.

Samuel menuturkan, sekarang hampir semua investor menuntut perusahaan teknologi untuk mulai memikirkan caranya untuk mendapatkan keuntungan atau profit.

"Kalau dulu mengumpulkan customer dulu, kumpulkan market share dulu, sekarang dituntut buat profit,” ujar dia. 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Sektor Komoditas

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selanjutnya, tugas investor dalam menyaring serta melakukan evaluasi terhadap saham teknologi yang bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan. Sehingga tidak membutuhkan investasi dari investor.

"Sekarang tugas investor menyaring dan mengevaluasi mana perusahaan teknologi yang akan survive dan mana yang akan bisa mencapai profit, sehingga tidak membutuhkan investasi lagi dari investor,” ujar dia.

Selain itu, sektor komoditas juga potensial bagi investor untuk mencermati sektor tersebut.

"Kalau situasi kasus di China membaik, bisa dibayangkan ekonomi China re-opening nanti permintaan akan energi akan naik juga, komoditas juga akan buka,” kata Samuel.

Sementara itu, pada semester II 2022, akan ada musim dingin di Eropa dan juga Amerika, yang membuat permintaan komoditas energi akan naik. 

"Harus kita monitor nanti akan menentukan emiten mana yang akan diperhatikan,” pungkasnya.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Manulife AM Prediksi IHSG Sentuh 7.600 pada Akhir 2022

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT Manulife Asset Manajemen Indonesia (MAMI) prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2022 mencapai 7.600. Lantaran, kondisi makro ekonomi saat ini mendukung penguatan pasar modal. 

"IHSG menyentuh ke level 7.600 hingga akhir tahun,” kata Senior Portfolio Manager, Equity, Manulife Asset Manajemen Indonesia Samuel  Kesuma dalam konferensi pers MAMI, Selasa, 9 Agustus 2022.

Samuel menuturkan, terkait risiko yang perlu dicermati bagi para pelaku pasar, salah satunya pengetatan kebijakan bank sentral yang terlalu agresif yang berdampak buruk pada laju pertumbuhan ekonomi global. 

Selain itu, konflik geopolitik Rusia- Ukraina yang berdampak pada harga komoditas dan tekanan inflasi yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral global.

Pelaku pasar juga perlu mencermati pemulihan ekonomi di tengah inflasi yang meningkat sehingga ketidakpastian keberlangsungan pemulihan permintaan, dan potensi pemangkasan subsidi pemerintah.

Sementara itu, Samuel mengatakan, investor asing membukukan aksi jual yang cukup menyeluruh di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Hal ini karena adanya sentimen kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang diakibatkan pengetatan moneter yang agresif.

"Namun, kondisi  makro Indonesia yang lebih solid disertai dengan pertumbuhan earnings perusahaan yang diperkirakan  tumbuh pada laju yang sehat, diharapkan dapat mendorong pergerakan pasar saham, terutama ketika  sentimen global sudah lebih membaik,” ujar Samuel. 


Sentimen Suku Bunga

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Di sisi lain, Director & Chief Investment  Officer, Fixed Income, Ezra Nazula menuturkan, suku bunga global sudah mendekati puncak siklus pengetatan.  

"Kebijakan pengetatan moneter secara ‘front load’ di dua bulan terakhir membuat Fed Funds Rate mendekati level netral di 2,25-2,5 persen. Kondisi ini membuka peluang kenaikan Fed Funds Rate ke depan  berkurang agresivitasnya dan membawa turun volatilitas di pasar obligasi," ujar Ezra.

Dia menambahkan, normalisasi suku bunga BI  di tengah pengetatan global yang agresif dapat mendukung pasar obligasi dan nilai tukar Rupiah. Sentimen juga akan menjadi semakin positif ketika tingkat inflasi, terutama di Amerika Serikat dan  Eropa, sudah mencapai puncak. 

"Akhir dari siklus kenaikan Fed Funds Rate sudah mulai terlihat. Dalam  jangka menengah, kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bisa kembali ke  kisaran 6,5 persen - 7 persen," kata Ezra. 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya