PT PP Raup Pendapatan Rp 9 Triliun, Tumbuh 39,74 Persen pada Semester I 2022

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 10 Agu 2022, 05:00 WIB
Diperbarui 10 Agu 2022, 05:00 WIB
Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Liputan6.com, Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mengumumkan kinerja semester I 2022. Pada periode tersebut, perseroan mengukuhkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 86,96 miliar. Naik tipis 1,07 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 86,04 miliar.

Raihan itu berbanding lurus dengan pendapatan usaha yang naik 39,74 persen menjadi Rp 9,02 triliun pada semester I 2022 dari Rp 6,46 triliun pada semester I 2021.

Mengutip laporan keuangan perseroan, Rabu (9/8/2022), pendapatan perseroan ditopang oleh jasa konstruksi yang tumbuh 47,1 persen menjadi Rp 7,13 triliun pada semester I 2022. Disusul segmen properti dan realti sebesar Rp 1,08 triliun.

Kemudian segmen EPC(engineering, procurement-construction) sebesar Rp 593,19 miliar, energi Rp 80,75 miliar, persewaan peralatan Rp 63,14 miliar, pendapatan keuangan atas konstruksi aset keuangan konsesi Rp 54,11 miliar, dan pracetak Rp 26,8 miliar.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan turut naik menjadi Rp 7,79 triliun dari Rp 5,66 triliun. Meski begitu, laba kotor masih tercatat naik 53,79 persen menjadi Rp 1,23 triliun dari Rp 798,28 miliar pada semester I 2021.

Pada periode tersebut, PT PP Tbk mencatatkan beban usaha sebesar Rp 332,72 miliar, kerugian penurunan nilai Rp 83,89 miliar, dan beban keuangan Rp 594,45 miliar. Kemudian beban lainnya Rp 60,93 miliar serta beban pajak final Rp 230,3 miliar.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Aset

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)

Perseroan juga mencatatkan bagian laba ventura bersama sebesar Rp 136,47 miliar, bagian laba entitas asosiasi Rp 968,51 juta, dan pendapatan lainnya Rp 69,99 miliar. Dari rincian tersebut, setelah dikurangi pajak, perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 112,25 miliar. Naik 1,84 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 110,22 miliar.

Dari sisi aset perseroan sampai dengan Juni 2022 tercatat sebesar Rp 58,27 triliun, naik dibanding posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 55,57 triliun. Terdiri dari aset lancar sebesar Rp 34,74 triliun dan aset tidak lancar Rp 23,53 triliun.

Liabilitas sampai dengan Juni 2022 tercatat sebesar Rp 43,71 triliun, naik dibanding posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 41,24 triliun. terdiri dari liabilitas jangka pendek rp 31,09 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 12,62 triliun. Sementara ekuitas naik tipis menjadi Rp 14,56 triliun pada Juni 2022 dibanding posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 55,57 triliun.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kontrak Baru hingga Semester I 2022

PT PP Tbk
Perbesar
(Foto: Istimewa)

Sebelumnya, PT PP (persero) Tbk membukukan perolehan kontrak baru Rp 10,93 triliun hingga semester I 2022.

Sekretaris Perusahaan PT PP Tbk, Bakhtiyar Efendi menyebutkan, raihan kontrak baru itu tumbuh 27,9 persen dibandingkan periode saham tahun lalu sebesar Rp 8,55 triliun.

"Dengan total perolehan tersebut, PTPP masih terus mengejar perolehan kontrak baru di tahun ini untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh manajemen. Untuk memaksimalkan perolehan kontrak baru di tahun ini, PTPP akan berfokus kepada proyek-proyek strategis yang dimiliki oleh Pemerintah dan BUMN," kata dia dalam keterangan resmi, Selasa (12/7/2022).

Perolehan kontrak baru itu terdiri dari proyek-proyek, antara lain pembangunan proyek Terminal Kalibaru Tahap 1B Pelabuhan Tanjung Priok sebesar Rp 3,83 triliun, proyek pekerjaan Pipeline Semarang-Batang sebesar Rp 1,06 triliun, dan proyek Landmark BSI Aceh sebesar Rp 296 miliar. 

Kemudian pekerjaan interior gedung Kejaksaan Agung RI sebesar Rp 286 miliar, proyek Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta sebesar Rp 207 miliar, dan proyek anak usaha sebesar Rp 3,66 triliun.

Kontrak baru dari BUMN (SOE) mendominasi perolehan kontrak baru PTPP dengan kontribusi sebesar 75 persen. Disusul proyek pemerintah (government) sebesar 24 persen, dan swasta (private) sebesar 1 persen.

"Komposisi perolehan proyek tersebut terdiri dari induk sebesar 66,49 persen dan anak usaha sebesar 33,51 persen,” imbuh Bakhtiyar.

 


Belanja Modal 2022

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT PP Tbk (PTPP) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 4,3 triliun pada 2022. Belanja modal itu lebih kecil dibanding alokasi belanja modal yang direncanakan untuk tahun buku 2021 sebesar Rp 6,2 triliun.

"Untuk tahun ini kita menganggarkan kira-kira Rp 4,3 triliun. Di mana sekitar 80 persennya itu untuk proyek-proyek yang eksisting. Ada tol Semarang—Demak, ini menjadi prioritas utama karena harus kita selesaikan di tahun ini. Juga menara danareksa yang mana juga harus selesai di Oktober,” kata Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PT PP Tbk, Agus Purbianto dalam konferensi pers, Selasa, 5 April 2022.

Selain itu, juga ada alokasi belanja modal yang sifatnya pergantian alat. Seperti untuk PT PP Presisi, di mana alat yang rusak diganti dengan yang baru.

Lalu ada juga yang dicadangkan untuk proyek Rumah Indonesia di Mekkah. Adapun pendanaan untuk belanja modal tahun ini berasal dari dana hasil rights issue (RI) maupun IPO.

"Di samping itu juga kita masih punya saldo piutang yang akan dibayar di Juni nanti terkait penjualan atau divestasi tol Pandaan—Malang dan Medan—Kualanamu—Tebing Tinggi akan dilunasi di Juni nanti,” imbuh Agus.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya