Bank Mandiri Siapkan Belanja Modal Rp 2 Triliun untuk Genjot Digitalisasi

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 28 Jul 2022, 18:46 WIB
Diperbarui 28 Jul 2022, 18:46 WIB
Bank Mandiri Pimpin Pangsa Pasar Sindikasi Indonesia
Perbesar
Ilustrasi nasabah melakukan transaksi di cabang Bank Mandiri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2 triliun untuk memperkuat layanan digital.

Direktur Information Technology Bank Mandiri, Timothy Utama mengatakan, belanja modal itu mengambil porsi separuh dari total belanja modal Bank Mandiri pada 2022.

“Sejalan dengan strategi dan komitmen kami dalam proses digitalisasi, kami anggarkan capex IT di 2022 sekitar Rp 2 triliun atau kira-kira 50 persen dari total anggaran capex,” kata dia dalam paparan kinerja perseroan, Kamis (28/7/2022).

Timothy mengatakan, belanja modal itu akan dialokasikan untuk investasi dan pembaharuan yang berkelanjutan dari core bank, pengembangan channel digital, maupun untuk melengkapi infrastruktur smart branch Bank Mandiri. Ia menilai, digitalisasi yang digagas Bank Mandiri terbukti mampu berkontribusi pada kinerja Bank. Utamanya dari sisi fee base income (FBI).

“Pertumbuhan FBI bank mandiri hingga kuartal II 2022 menunjukkan tren positif. Di mana digitalisasi terutama Livin dan Kopra. FBI dari Livin tumbuh 17 persen yoy dan Kopra tumbuh 13 persen yoy,” beber dia.

Sejak diluncurkan Oktober 2021 hingga pertengahan 2022 Livin' by Mandiri telah diunduh lebih dari 14 juta kali. Jumlah transaksi Livin' by Mandiri hingga juni 2022 secara year to date (ytd) juga telah mencapai 881 juta transaksi dengan nilai lebih dari Rp 1.080 triliun atau tumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan periode Juni 2021.

Sedangkan untuk nasabah wholesale, Kopra by Mandiri juga berperan besar dalam meningkatkan transaksi wholesale secara signifikan. Tercatat, jumlah transaksi wholesale Bank Mandiri hingga semester I 2022 tumbuh 72 persen yoy menembus 326 juta transaksi.

Platform digital wholesale andalan Bank Mandiri ini juga mampu mencatatkan peningkatan pengguna sebesar 137 persen dari 23 ribu pengguna pada akhir 2021 menjadi 55 ribu akhir Juni 2022 lalu. Dengan nilai transaksi mencapai Rp 8.053 triliun atau tumbuh 29 persen yoy pada semester I 2022.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kinerja Semester I 2022

FOTO: Uang Beredar pada November 2020 Capai Rp 6.817,5 Triliun
Perbesar
Tumpukan uang terlihat di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (20/1/2021). BI mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tinggi pada November 2020 dengan didukung komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengumumkan kinerja perseroan untuk periode yang berakhir pada Juni 2022. Pada periode tersebut, perseroan mengantongi laba bersih sebesar Rp 20,2 triliun, tumbuh 61,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pada periode tersebut, perseroan dapat mencatatkan pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan industri yang sebesar 10,7 persen yoy.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan, realisasi pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi per kuartal II 2022 menembus Rp 1.138,31 triliun atau tumbuh 12,22 persen. Lewat pencapaian tersebut Bank Mandiri juga menjadi bank dengan penyaluran kredit terbesar di Indonesia.

"Perbaikan kinerja Bank Mandiri selaras dengan kondisi perekonomian nasional yang masih bertumbuh. Hal ini juga mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia masih relatif stabil meski diterpa oleh ketidakpastian global," ujar Darmawan dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Bank Mandiri Kuartal II 2022 di Jakarta, Kamis (28/7/2022).

Kredit korporasi yang menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan sebesar 10,6 persen yoy, yakni dari Rp 369 triliun menjadi Rp 409 triliun pada akhir Juni 2022. Pertumbuhan kredit ini juga turut mendorong pertumbuhan total aset Bank Mandiri secara konsolidasi yang mencapai Rp 1.786 triliun atau tumbuh 13 persen yoy sampai dengan akhir Juni 2022.

"Melihat kinerja yang membaik, kami optimis pertumbuhan kredit Bank Mandiri mampu tumbuh di atas 11 persen sampai dengan akhir tahun dengan kualitas aset yang terjaga optimal," imbuh dia.

Dari sisi profitabilitas, bank berkode emiten BMRI ini berhasil mencatat perbaikan. Hal ini terlihat dari net interest margin (NIM) secara konsolidasi yang mencapai 5,37 persen pada Juni 2022, tumbuh 32 basis poin (bps) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, return on equity (ROE) Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sebesar 23,03 persen pada periode yang sama, meningkat 791 bps secara tahunan.

 

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Laba Bank Mandiri

Livin' by Mandiri
Perbesar
Livin' by Mandiri. (Dok. Bank Mandiri)

Berkat profitabilitas yang membaik, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 20,2 triliun, tumbuh 61,7 persen secara yoy. Adapun dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri hingga Juni 2022 mencapai Rp 1.318,42 triliun, tumbuh 12,76 persen yoy. Pencapaian tersebut juga menjadikan Bank Mandiri dengan total DPK terbesar di industri perbankan Indonesia.

"Bank Mandiri mencatatkan kinerja keuangan progresif sampai kuartal II dan berhasil menjadi grup keuangan terbesar yang memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi, antara lain terlihat dari pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar 61.66 persen yoy, rasio kredit macet yang turun menjadi 2,47 persen, serta rasio imbal hasil terhadap ekuitas atau return on equity (ROE) sebesar 23 persen,” beber Darmawan.

Performa kredit Bank Mandiri pun diikuti oleh kualitas aset yang terjaga. Darmawan menjelaskan, Bank Mandiri secara konsisten berhasil menjaga perbaikan lewat monitoring serta manajemen risiko yang ketat.

Hasilnya, hingga pertengahan 2022 posisi rasio non performing loan (NPL) Bank Mandiri (bank only) turun menjadi 2,47 persen. Tidak hanya itu, berkat optimalisasi kualitas aset serta efisiensi, biaya kredit atau cost of credit (CoC) Bank Mandiri pun berhasil ditekan menjadi 1,27 persen pada semester I 2022.

 


Bank Mandiri Yakin Pertumbuhan Kredit Sentuh 7,5 Persen pada 2022

FOTO: Uang Beredar pada November 2020 Capai Rp 6.817,5 Triliun
Perbesar
Petugas menata tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (20/1/2021). BI mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tinggi pada November 2020 dengan didukung komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk optimis pertumbuhan kredit perbankan mencapai 7,5 persen hingga akhir 2022. Hal ini sejalan dengan kian membaiknya kinerja perbankan nasional pasca meredanya pandemi Covid-19.

"Kami melihat pertumbuhan kredit perbankan akan membaik dan mencapai 7,5 persen pada akhir tahun," ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam JobStreet Job Outlook Report 2022, Jakarta, Rabu, 22 Juni 2022.

Andry menerangkan, kinerja sektor perbankan terus mengalami perbaikan hingga memasuki kuartal II-2022. Menyusul, pulihnya permintaan domestik seiring menurunnya kasus dan membaiknya penanganan pandemi.

Menurutnya, pertumbuhan kredit terus terakselerasi dan tumbuh positif. Pada bulan April, pertumbuhan kredit mencapai 9,1 persen secara year-to-date.

Kemudian, pertumbuhan kredit perbankan nasional telah mencapai 3,8 persen. Di sisi lain, dana pihak ketiga perbankan terus tumbuh tinggi, sebesar 10,1 persen yoy pada April 2022.

Tingginya pertumbuhan DPK mendorong terjaganya likuiditas perbankan. Rasio loan to deposit (LDR) yang mencerminkan likuiditas perbankan masih rendah pada 80 persen, meski jika dibandingkan bulan sebelumnya rasio LDR terlihat meningkat sejalan akselerasi pertumbuhan kredit.

Ke depan, sektor perbankan akan menghadapi tantangan normalisasi kebijakan, terutama dengan adanya kenaikan rasio GWM yang berpotensi mengurangi likuiditas secara bertahap.

Namun, pihaknya tetap optimistis intermediasi perbankan akan terus membaik, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional.

"Kami melihat pertumbuhan kredit perbankan akan membaik dan mencapai 7,5 persen pada akhir tahun," ucap dia menekankan.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya