PP London Sumatra Tebar Dividen 2021 Rp 51 per Saham

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 24 Jul 2022, 12:52 WIB
Diperbarui 24 Jul 2022, 12:52 WIB
Pembukaan Awal Tahun 2022 IHSG Menguat
Perbesar
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) akan membagikan dividen tunai 2021. Pembagian dividen perseroan telah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 21 Juli 2022.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (24/7/2022), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk akan menebar dividen Rp 51 per saham dan akan dibayarkan pada 19 Agustus 2022.

Selain pembagian dividen, pada RUPST, pemegang menyetujui laporan tahunan direksi mengenai kegiatan usaha dan kinerja keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2021.

Selain itu, menerima baik pengunduran di seluruh anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sehubungan dengan telah berakhirnya masa jabatan mereka sejak ditutupnya RUPST dengan disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian, kontribusi dan jasa-jasa mereka terhadap perseroan.

Selain itu, mengangkat anggota dewan komisaris dan direksi perseroan yang baru untuk masa jabatan terhitung sejak ditutupnya RUPST ini hingga penutupan RUPST Perseroan pada 2025:

Dewan Komisaris:

Presiden Komisaris: Moleonoto (Paulus Moleonoto)

Komisaris: Axton Salim

Komisaris: Hendra Widjaja

Komisaris Independen: Edy Sugito

Komisaris Independen: Agus Rajani Panjaitan

Direksi:

Presiden Direktur: Benny Tjoeng

Wakil Presiden Direktur I: Tan Agustinus Dermawan

Wakil Presiden Direktur II: Tio Eddy Hariyanto

Direktur: Johny Ponto

Direktur: Joefly Joesoef  Bahroeny

Direktur: Alamsyah

Direktur: In She

Direktur: Peter Kradolfer

Direktur: Ferdi Gunawan

“Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang terus menerus dari seluruh pemegang saham Lonsum dalam masa-masa sulit ini,” ujar Presiden Direktur Lonsum, Benny Tjoeng.

Ia menambahkan, Lonsum tetap fokus dalam pengendalian biaya dan efisiensi, meningkatkan produktivitas serta memprioritaskan belanja modal. “Kami juga terus menerapkan praktik-praktik agrikultur yang baik secara berkelanjutan sebagai bagian dari pendekatan keberlanjutan kami,” kata dia.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Juli 2022, saham LSIP stagnan di posisi Rp 1.230 per saham. Saham LSIP dibuka stagnan Rp 1.230 per saham.

Saham LSIP berada di level tertinggi Rp 1.240 dan terendah Rp 1.215 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.762 kali dengan volume perdagangan 56.638. Nilai transaksi Rp 6,9 miliar.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Kinerja 2021

Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Sebelumnya, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan kinerja yang positif sepanjang 2021. Pada periode tersebut, PP London Sumatra Indonesia berhasil mencatatkan pendapatan Rp 4,53 triliun, naik 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan menjadi Rp 2,72 triliun dari sebelumnya Rp 2,46 triliun. Sehingga PP London Sumatra Indonesiamembukukan laba bruto sebesar Rp 1,8 triliun, naik 68 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2020.

Pada periode ini, perseroan mencatatkan laba atas perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 49,58 miliar dan penghasilan operasi lain Rp 79,7 miliar.

Pada saat bersamaan, perseroan mencatatkan beban penjualan dan distribusi sebesar Rp 42,8 miliar, beban umum dan administrasi Rp 256,15 miliar, dan beban operasi lain Rp 447,37 miliar. Sehingga diperoleh laba usaha sebesar Rp 1,19 triliun, naik 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Setelah dikurangi beban keuangan dan pajak penghasilan, perseroan berhasil mengukuhkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 990,45 miliar. Naik 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 695,5 miliar.

Laba per saham dasar juga naik dari sebelumnya Rp 102 per lembar pada 2020 menjadi Rp 145 per lembar pada 2021.

Dari sisi aset perseroan sampai dengan Desember 2021 tercatat sebesar Rp 11,85 triliun, naik dari Rp 10,92 triliun per akhir Desember 2020. Rinciannya, terdiri dari aset lancar Rp 4,31 triliun, dan Rp 7,54 triliun merupakan aset tidak lancar.

Liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 1,68 triliun pada 2021. Naik dari posisi akhir Desember 2020 sebesar Rp 1.64 triliun. Rinciannya, terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp 696,56 miliar, dan sisanya Rp 982,12 miliar merupakan liabilitas jangka panjang. Sementara ekuitas perseroan sepanjang 2021 tercatat sebesar Rp 10,17 triliun.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kinerja Kuartal I 2022

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)

Sebelumnya, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mengumumkan kinerja keuangan untuk periode tiga bulan pertama 2022. Pada periode tersebut, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan Rp 764,93 miliar.

Pendapatan itu turun 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,19 triliun. Meski begitu, perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp 325,05 miliar pada kuartal I 2022 dari Rp 770,02 miliar pada kuartal I 2021. Dengan demikian, laba bruto masih tercatat naik tipis 3,33 persen menjadi Rp 439,88 miliar.

Pada kuartal I 2021, perseroan mencatatkan laba atas perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 8,41 miliar, beban penjualan dan distribusi Rp 10,04 miliar, serta beban umum dan administrasi Rp 53,78 miliar. Di saat bersamaan, penghasilan operasi lain tercatat sebesar Rp 34,77 miliar dengan beban operasi lain Rp 361,76 miliar.

Dari rincian tersebut, laba usaha sedikit turun menjadi Rp 361,76 miliar dari Rp 366,94 miliar pada kuartal I 2021. Pada periode ini, penghasilan keuangan tercatat sebesar Rp 17,95 miliar, beban keuangan Rp 198 juta, dan bagian atas laba entitas asosiasi Rp 229 juta.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan, perseroan mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp 304,33 miliar. Naik 2,46 persen dibanding kuartal I 2021 sebesar Rp 297 miliar.

Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 2,5 persen menjadi Rp 304,63 miliar di kuartal I 2022 dari Rp 297,24 miliar di kuartal I 2021. Laba per saham dasar menjadi Rp 45 dari sebelumnya Rp 44.


Aset dan Produksi

Ilustrasi laporan keuangan.
Perbesar
Ilustrasi laporan keuangan. (Photo by Serpstat from Pexels)

Aset perseroan hingga Maret 2022 tercatat sebesar Rp 12,21 triliun, naik dibandingkan posisi akhir Desember 2021 sebesar rp 11,85 triliun. Terdiri dari set lancar Rp 4,78 triliun dan aset tidak lancar Rp 7,43 triliun.

Liabilitas hingga Maret 2022 tercatat sebesar Rp 1,72 triliun, naik dari posisi akhir Desember 2022 sebesar Rp 1,68 triliun. Terdiri dari Rp liabilitas jangka pendek Rp 717,78 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp 1,01 triliun.

Sementara ekuitas hingga akhir Maret 2022 naik menjadi Rp 10,48 triliun dari posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp 10,17 triliun.

Selain itu, produksi tandan buah sawit (TBS) inti susut 29 persen yoy pada kuartal I 2022 menjadi 226 ribu ton. Hal ini karena pengaruh cuaca yang tidak mendukung dan kegiatan replanting.

Seiring penurunan produksi TBS inti dan eksternal, total produksi CPO turun 39 persen yoy menajdi 53 ribu ton.Seiring penurunan produksi, volume penjualan CPO merosot 66 persen yoy menjadi 33 ribu ton sementara itu volume penjualan produk PK susut 29 persen yoy menjadi 18 ribu ton.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya