IATA Genjot Produksi Batu Bara di Sumatera Selatan

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 06 Jul 2022, 12:56 WIB
Diperbarui 06 Jul 2022, 12:56 WIB
FOTO: Ekspor Batu Bara Indonesia Melesat
Perbesar
Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten, Kamis (21/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk pertambangan dan lainnya pada September 2021 mencapai USD 3,77 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), anak perusahaan PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) mulai produksi di konsesi 15.000 hektar (ha) yang berlokasi di Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Direktur Indonesia Batu Prima Energi, Leader DS Daeli mengatakan, IBPE dengan luas 15.000 Ha, merupakan salah satu konsesi terbesar perseroan. Konsesi ini belum mencapai potensi penuh karena masih dalam proses eksplorasi di sebagian besar area pertambangan.

"Saya yakin IBPE akan meningkatkan produksi perseroan secara signifikan, serta meyakinkan investor bahwa Perseroan masih memiliki potensi berkembang dengan rencana output produksi yang lebih tinggi untuk tahun-tahun mendatang," kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (6/7/2022).

IATA melalui IBPE telah menandatangani kontrak 5 tahun dengan kontraktor pada 9 Juni 2022 untuk memulai produksi dengan target sebesar 500 ribu MT untuk tahun pertama, periode Juli-Desember 2022.

"Dalam kurun waktu tersebut, perseroan menargetkan total output 7,5-8 juta MT atau 1,5 juta MT pada tahun kedua, dan 2 juta MT setiap tahun untuk sisa kontrak dari Pit Corundum, Beryl, dan Amethyst," tutur Daeli.

Pit Corundum dan Beryl adalah 2 tambang yang akan ditambang dalam 2 tahun pertama. Sedangkan penambangan di Pit Amethyst akan dimulai pada tahun ketiga, bersamaan dengan pit-pit baru yang sedang dan akan disiapkan, mengingat luas area penambangan 15.000 Ha belum sepenuhnya IBPE mengekspor sekitar 75 persen produksi batu bara ke negara-negara seperti India, China, Vietnam, dan Thailand, sedangkan 25 persen sisanya dijual di dalam negeri untuk memenuhi Domestic Market Obligation (DMO).

Pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 6 Juli 2022, saham IATA melonjak 8,16 persen ke posisi Rp 159 per saham. Saham IATA dibuka turun dua poin ke posisi Rp 145 per saham. Saham IATA berada di level tertinggi Rp 160 dan terendah Rp 145 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.391 kali dengan volume perdagangan 574.246 saham. Nilai transaksi Rp 8,9 miliar.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


IATA Akuisisi 85 Persen Saham Perusahaan Migas di Papua Barat

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan mengambil gambar layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) akuisisi 85 persen saham PT Suma Sarana (SS). Rencana akuisisi telah dituangkan dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pada Senin (18/4/2022).

Proses akuisisi dilakukan secara dua tahap:

1. Sebanyak 49 persen saham dibeli langsung oleh PT Bhakti Migas Resources (BMR), anak usaha MNC Energy Investments yang difokuskan pada investasi minyak dan gas. BMR merupakan salah satu pilar Utama IATA selain PT Bhakti Coal Resources (BCR).

2. Sebanyak 36 persen saham diakuisisi oleh BMR dalam bentuk PPJB (Pengikatan Perjanjian Jual Beli) di mana kemudian akan ditingkatkan menjadi AJB (Akta Jual Beli - Final) setelah memperoleh persetujuan Pemerintah untuk perubahan Pemegang Saham Pengendali.

Setelah Pemerintah menyetujui akuisisi 36 persen, IATA melalui BMR akan menguasai 85 persen saham SS. Adapun PT Suma Sarana telah menandatangani Production Sharing Contract (PSC) Blok Semai III di Papua, dan memiliki 100 persen dari Participating Interest (PI) di PSC Blok Semai III.

Blok Semai III merupakan salah satu peluang eksplorasi terbaik di Indonesia Timur, dengan estimasi 30 triliun cubic feet (TCF) sumber daya gas yang belum teruji. Pada Semai III sendiri terdapat empat prospek area yang meliputi Cucak Ijo, Murai Batu, Poksai, dan Kaleyo-Opior.

Semai III terletak pada pusat hidrokarbon produktif di mana kandungan minyak dan gas yang signifikan telah ditemukan di sekitar Lapangan Gas Tangguh, Asap, Merah, Pulau Seram, Andalan (Semai V) serta Abadi dan Lapangan Gas NW Shelf di selatan.

Berdasarkan keterangan resminya, ke depan, IATA akan mengundang operator internasional untuk bermitra dalam mengoperasikan Blok Semai III.

"Hal ini menjadi salah satu strategi Perseroan dalam rangka mengurangi belanja modal dan meningkatkan efisiensi produksi,” tulis perseroan.


Strategi IATA

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sementara itu, IATA resmi berganti nama menjadi PT MNC Energy Investments Tbk untuk mencerminkan perubahan kegiatan usaha Perusahaan dan memperkuat posisinya di industri terkait.

Dengan nama baru, Perseroan juga telah mengakuisisi PT Bhakti Coal Resources (BCR) yang memiliki 9 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Secara organik BCR akan terus fokus untuk meningkatkan produksi pada IUP-IUP yang telah beroperasi dan memulai produksi di IUP-IUP baru. Hal ini dilakukan semaksimal mungkin memanfaatkan momentum harga batu bara yang masih sangat tinggi.

Secara inorganik, IATA akan terus mencari peluang akuisisi tambang baru baik batu bara maupun mineral lainnya seperti emas dan nikel serta menakar prospek lain yang berkaitan dengan energi terbarukan.

Selain itu, IATA akan terus berevolusi guna meningkatkan sinergi dan efektifitas di semua lini. Perseroan berencana untuk terjun di usaha kontraktor, logistik & transportasi, trading, dan lain sebagainya.

Hal-hal yang disebutkan di atas ditambah dengan rencana akuisisi Blok Semai III milik PT Suma Sarana, semakin memantapkan langkah Perseroan di sektor energi. IATA juga terus akan fokus pada kegiatan eksplorasi untuk mencari cadangan baru dan menjalin kontrak penjualan jangka panjang dengan para pembeli. 

Manajemen Perseroan yakin segala upaya yang ditempuh akan semakin mendorong kinerja dan profitabilitas IATA melesat diantara para kompetitornya serta membawa dampak positif bagi para pemegang saham.


IATA Genggam 100 Persen Saham Putra Muba Coal

IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki duduk di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) melalui anak usaha PT Bhakti Coal Resources (BCR) telah menandatangani perjanjian jual beli untuk akuisisi 46,16 persen sisa saham PT Putra Muba Coal (PMC) melalui anak usahanya PT Sumatra Resources (SR).

Usai akuisisi, SR akan memiliki 100 persen PMC dari sebelumnya hanya 53,84 persen. Langkah sejalan ini dengan perseroan untuk memperkuat posisinya di sektor energi, terutama pertambangan batu bara.

PMC memiliki cadangan 54,8 juta MT dari 2.947 hektar (ha) konsesi yang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. PMC berencana meningkatkan produksi dari 2 juta MT pada 2021 menjadi 4,5 juta MT pada 2022.

PMC menyumbang 58 persen dari total target produksi BCR 7,8 juta MT pada 2022. "Akuisisi ini tentu akan meningkatkan profitabilitas IATA,” tulis perseroan dalam keterbukaan informasi Sabtu, 9 April 2022.

Kegiatan operasional PMC pada 2021 mencatat pendapatan USD 56,32 juta dan memiliki EBITDA USD 24,01 juta.

Dikaitkan dengan meroketnya harga batu bara akibat meningkatnya permintaan dan masalah rantai pasokan yang timbul dari konflik antara kekuatan global. Manajemen optimistis akuisisi itu akan meningkatkan posisi keuangan PMC dengan perkiraan laba dua kali lipat pada 2022.

PMC juga memiliki pelabuhan yang terletak di Sungai Tungkal dengan jarak sekitar 10 KM dari tambang dan sekitar 161 KM ke area transhipment di pelabuhan Tanjung Buyut.

 


Perusahaan Induk

Pembukaan Awal Tahun 2022 IHSG Menguat
Perbesar
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

BCR merupakan perusahaan induk dari sembilan perusahaan batubara dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang meliputi:

- PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC) dan PT Putra Muba Coal (PMC). Keduanya sudah beroperasi dan aktif menghasilkan batu bara dengan kisaran GAR 2.800 – 3.600 kkal/kg.

BSPC memiliki perkiraan total sumber daya 130,7 juta MT, sementara PMC memiliki 76,9 juta MT, dengan perkiraan total cadangan masing-masing sebesar 83,3 juta MT dan 54,8 juta MT.

-PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE). Keduanya ditargetkan untuk memulai produksi batu bara pada 2022. Selain itu, PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Primaraya Energi (PE).

Selain itu, PT Putra Mandiri Coal (PUMCO) yang sedang disiapkan untuk beroperasi dalam satu atau dua tahun dari sekarang. Tujuh IUP ini memiliki estimasi total sumber daya sebesar lebih dari 1,4 miliar MT, jumlah yang sangat menjanjikan bagi bisnis baru Perseroan.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya