Wall Street Menguat di Tengah Kekhawatiran Potensi Resesi di AS

Oleh Agustina Melani pada 06 Jul 2022, 06:59 WIB
Diperbarui 06 Jul 2022, 08:02 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Selasa, 5 Juli 2022. Penguatan wall street terjadi tengah kekhawatiran tentang kemungkinan resesi di AS membebani sentimen investor tetapi suku bunga lebih rendah mendorong sektor teknologi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Nasdaq menguat 1,75 persen ke posisi 11.322,24 setelah alami koreksi tajam. Indeks Nasdaq menguat tipis 0,16 persen menjadi 3.831,39 setelah turun lebih dari 2 persen. Indeks Dow Jones melemah 129,44 poin atau 0,4 persen ke posisi 30.967,82 tetapi sempat turun 700 poin sebelumnya.

Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi menjadi sentimen investor. Bursa saham AS terlihat pulih setelah semester I 2022 yang sulit.

Pasar telah turun dalam empat minggu dari lima minggu terakhir. Indeks S&P 500 lebih dari 20 persen di bawah rekor tertingginya. Beberapa ekonom percaya produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat turun untuk dua kuartal yang menjadi sinyal resesi.

Pada Selasa, 5 Juli 2022, imbal hasil treasury atau obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun dan dua tahun berbalik. Ini sebuah langkah yang memiliki rekam jejak historis yang kuat sebagai indikator resesi.

Ketika imbal hasil treasury jangka pendek diperdagangkan di atas imbal hasil jangka panjang, itu dapat menjadi tanda investor memperkirakan perlambatan ekonomi akan mengarah pada penurunan suku bunga.

Saham yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi turun tajam pada Selasa, 5 Juli 2022 seiring saham Deere dan Caterpillar masing-masing susut 3,2 persen dan 2,5 persen, sehingga sentuh level terendah pada 2022. Saham pertambangan Freeport-McMoran merosot 6,6 persen.

“Pasar Amerika Serikat adalah semua tentang harga dalam perlambatan, dan harga pada kenyataan kalau the Fed dipaksa untuk menaikkan suku bunga menjadi perlambatan,” ujar Chief Economic Advisor Allianz, Mohamed El-Erian dikutip dari laman CNBC.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Gerak Saham di Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Namun, penurunan suku bunga mungkin telah mendorong saham teknologi yang berorientasi pada pertumbuhan membantu Nasdaq mengungguli. Saham Docusign dan Zoom Video masing-masing naik 6,7 persen dan 8,5 persen. The Ark Innovation ETF melonjak lebih dari 8 persen.

Di sisi lain, harga minyak juga menurun sehingga mencerminkan kemungkinan perlambatan ekonomi. Harga minyak patokan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah USD 100 per barel. Harga saham Chevron turun 2,6 persen.

Saham consumer discretionary yang telah mencatat kinerja buruk dalam beberapa pekan terakhir membantu pasar pulih dari posisi terendah dalam sesi tersebut. Saham Amazon dan Nike naik lebih dari 3 persen, sementara saham Target menguat 2,3 persen.

Harga minyak yang lebih murah dapat menjadi dorongan untuk saham tersebut karena konsumen menyesuaikan pola pengeluaran di tengah inflasi yang tinggi.

Selain itu, saham Ford turun 1 persen setelah penjualan kuartal II naik lebih lambat dari yang diharapkan.Sejumlah pihak di wall street percaya perlambatan ekonomi telah pengaruhi saham.


Prospek Semester II

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Prospek pada semester II 2022 Ini terlihat suram. Credit Suisse Strategis Jonathan Golub berharap AS hindari resesi tetapi memangkas target S&P 500 untuk akhir tahun menjadi 4.300 dari 4.900. Target baru itu berarti wall street mengembalikan sekitar setengah dari kerugiaannya dari enam bulan pertama 2022.

"Resesi paling akurat dicirikan oleh data pekerjaan yang buruk disertai dengan ketidakmampuan konsumen dan bisnis untuk memenuhi kewajiban keuangan mereka. Sementara kami saat ini mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berarti (dari tingkat yang sangat tinggi), tidak satu pun dari kondisi di atas yang terjadi hari ini,” tulis Golub.

Investor pun menantikan rilis data laporan pekerjaan Juni 2022 pada Jumat pekan ini. Menurut perkiraan Dow Jones, pertumbuhan pekerjaan kemungkinan melambat pada Juni dengan bertambah 250.000 nonfarm payrolls, turun dari 390.000 pada Mei 2022. Ekonom yang disurvei memperkirakan tingkat pengangguran akan bertahan di 3,6 persen.

Pesanan pabrik pada Mei yang dirilis Selasa pekan ini menunjukkan pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan. Di bidang politik, investor mengamati keputusan yang membayangi dari Presiden AS Joe Biden tentang apakah pemerintahannya akan menurunkan tarif era Trump untuk barang-barang China. Pejabat Gedung Putih berharap peralihan itu akan membantu meringankan beban inflasi.

Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi juga tumbuh di tempat lain. Bank of England mengatakan prospek ekonomi global telah memburuk secara material. Di pasar mata uang, euro merosot ke level terendah dalam 20 tahun terhadap dolar AS pada Selasa pekan ini.


Penutupan Wall Street 1 Juli 2022

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Jumat, 1 Juli 2022. Wall street memulai kuartal baru dengan kinerja positif setelah indeks S&P 500 menutup kinerja semester I terburuk dalam beberapa dekade.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones menguat 321,83 poin atau 1,1 persen ke posisi 31.097,26. Indeks S&P 500 naik 1,1 persen ke posisi 3.825,33. Indeks Nasdaq bertambah 0,9 persen menjadi 11.127,85.

Saham homebuilder berkontribusi mendorong kenaikan wall street. Saham PulteGroup naik 6,5 persen, sementara Lennar dan D.R Horton masing-masing bertambah lebih dari 5 persen. Saham Etsy melambung 9 persen sehingga mendorong kenaikan indeks S&P 500.

McDonald memimpin Dow Jones lebih tinggi dengan kenaikan 2,5 persen. Saham Coca-Cola dan Boeing juga naik lebih dari 2 persen. Terlepas dari kenaikan, semua rata-rata indeks utama membukukan koreksi mingguan dalam lima minggu. Indeks Dow Jones turun 1,3 persen pada pekan ini. Indeks S&P 500 susut 2,2 persen, dan indeks Nasdaq merosot 4,1 persen.

Investor tetap fokus pada tanda-tanda peringatan dari beberapa perusahaan yang menurunkan panduan labanya sehingga menambah kekhawatiran investor terhadap inflasi. Inflasi yang terus menerus ke level tertinggi selama beberapa dekade dapat terus menekan harga saham.

Saham General Motors naik 1,4 persen, bahkan setelah perusahaan memperingatkan tentang masalah manufaktur pada kuartal II 2022 yang dapat membawa laba bersih untuk kuartal itu menjadi USD 1,6 miliar-USD 1,9 miliar. Analis memperkirakan laba bersih GM menjadi sekitar USD 2,5 miliar selama kuartal II, berdasarkan FactSet.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya