IPCC Tebar Dividen Rp 42,04 Miliar, Catat Jadwalnya

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 05 Jul 2022, 12:55 WIB
Diperbarui 05 Jul 2022, 12:55 WIB
Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pemegang saham PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) menyetujui pembagian dividen atas laba bersih tahun buku 2021. Rencana ini telah mendapat persetujuan RUPS yang digelar pada 30 Juni 2022.

Indonesia Kendaraan Terminal akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 42,04 miliar. Total dividen yang dibagikan setara 70 persen dari laba bersih perseroan pada 2021 yakni sebesar Rp 60,06 miliar.

"Pembagian dividen sebanyak Rp 42,04 miliar tersebut setara dengan besaran dividen sebesar Rp 23,12 per lembar. Adapun jumlah lembar saham yang akan diperhitungkan dalam pembagian dividen ialah sejumlah 1.818.384.823 lembar saham," ujar Sekretaris Perusahaan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk, Sofyan Gumelar dalam keterangan resmi, Selasa (5/7/2022).

Dengan asumsi harga saham IPCC ialah sebesar Rp 630, dividen yield yang dapat dinikmati oleh para pemegang saham ialah sebesar 3,67 persen. Selain ditetapkan sebagai dividen, sebear 3,33 persen atau Rp 2 miliar dari laba bersih 2021 akan digunakan sebagai cadangan wajib untuk memenuhi Pasal 70 ayat 1 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Sisanya sekitar 26,67 persen atau Rp 16,02 miliar akan dibukukan sebagai laba ditahan.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 5 Juli 2022 sesi pertama, saham IPCC melonjak 3,74 persen ke posisi Rp 555 per saham. Saham IPCC dibuka stagnan Rp 535 per saham.

Saham IPCC berada di level tertinggi Rp 555 dan terendah Rp 520 per saham. Total frekuensi perdagangan 412 kali dengan volume perdagangan 19.135 saham. Nilai transaksi Rp 1 miliar.

Jadwal:

Cum date dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 8 Juli 2022.

Ex date dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 11 Juli 2022.

Cum date dividen di Pasar tunai: 12 Juli 2022

Ex date dividen di Pasar Tunai ialah pada tanggal 13 Juli 2022.

Recording date: 12 Juli 2022

Pembayaran dividen: 3 Agustus 2022. 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Indonesia Kendaraan Terminal Kantongi Pendapatan Rp 150 Miliar, Tumbuh 25 Perse

Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat kinerja positif pada kuartal I 2022. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk pada kuartal I 2022 ini menorehkan laba tahun berjalan sebesar Rp35,26 miliar atau meningkat  97,10 persen dari periode sama tahun lalu Rp17,89 miliar.

Berdasarkan keterangan resminya, pencapaian peningkatan laba tahun berjalan di kuartal I 2022 didorong pertumbuhan pendapatan 25,12 persen di atas pencapaian pertumbuhan pendapatan di kuartal I tahun lalu yang turun 3,23 persen.

Indonesia Kendaraan Terminal mencatat pendapatan operasi Rp 150,04 miliar pada kuartal I 2022 jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 119,92 miliar.

Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan pelayanan jasa terminal yang menyumbang 92,51 persen porsi pendapatan seiring dengan maraknya kegiatan bongkar muat kendaraan di terminal IPCC di sepanjang kuartal I 2021, terutama dari naiknya jumlah bongkar muat di kendaraan berat.

Selain ditopang oleh peningkatan dari sisi pendapatan operasi, bertumbuhnya laba tahun berjalan juga ditopang oleh adanya upaya efisiensi yang dilakukan oleh IPCC. Meski melakukan upaya efisiensi namun, tidak mengganggu jalannya operasional perusahaan.

Sementara itu, tercatat, penanganan bongkar muat kendaraan untuk segmen CBU secara total baik di terminal internasional maupun terminal domestik mengalami kenaikan 5,34 persen dari 133.213 unit pada kuartal I 2021 menjadi 140.321 unit pada kuartal I 2022.


Beban Biaya Merosot

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Untuk segmen kendaraan berat (gabungan antara Alat Berat, Truck/Bus) meningkat 217,47 persen menjadi 25.147 unit pada kuartal I 2022 dari 7.921 unit pada kuartal I 2021.

Pada segmen General Cargo naik 7,77 persen dari 23.254 M3 pada kuartal I 2021 menjadi 25.060 M3 pada kuartal I 2022 dan segmen Motor naik 549,80 persen menjadi 55.525 unit sepanjang kuartal I 2022.

Dari sisi beban biaya pada kuartal I 2021 menurun. Pada beban pokok pendapatan susut 6,81 persen menjadi Rp 71,78 miliar dari periode sebelumnya Rp77,03 miliar dan beban umum dan administrasi mengalami penurunan 7,31 persen dari Rp 26,19 miliar menjadi Rp 24,28 miliar di kuartal I 2022. 

Sejumlah beban biaya yang mengalami penurunan diantaranya, beban kerjasama mitra usaha yang turun 0,01 persen menjadi Rp 35,30 miliar sepanjang kuartal I 2022 dari periode sebelumnya Rp 39,86 miliar; Beban Penyusutan turun 6,87 persen dari Rp 25,51 miliar di kuartal I 2021 menjadi Rp23,76 miliar dan sejumlah beban lainnya. 

Di sisi lain, meski IPCC masih terimbas adanya penerapan pencatatan beban sewa berdasarkan ketentuan PSAK 73 tetapi, dengan meningkatnya pendapatan perseroan mampu menutup timbulnya beban tersebut.


Upaya Efisienkan Biaya

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sedangkan, upaya perseroan dalam mengefisiensikan beban biaya di mana seluruh kegiatan operasional dilakukan secara tepat guna dengan melakukan pengaturan shift kegiatan operasional maupun kegiatan perseroan lainnya, pengaturan biaya dengan memilah must have-cost dan nice to have cost hingga pengawasan terhadap control cost-budget perseroan mampu menurunkan beban biaya. 

Meski penurunan tersebut belum terlalu signifikan tetapi upaya ini terus dijalankan oleh perseroan untuk menjaga posisi beban Perseroan sehingga tidak terjadi peningkatan secara signifikan yang pada akhirnya dapat menggerus pendapatan perseroan. 

Di sisi lain, upaya penerapan digitalisasi dalam setiap kegiatan bisnis perseroan membuat flow of cargo, flow of document, hingga flow of money berjalan lebih efisien.

Ada pencapaian ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah tidak hanya bagi IPCC namun, juga bagi para pemegang sahamnya.

Selain itu, juga menjadi penyemangat bagi IPCC untuk tetap dapat mempertahankan pencapaian kinerja yang ada serta berupaya untuk lebih meningkatkan lagi kinerja terbaiknya.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya