Wall Street Anjlok, Indeks S&P 500 Catat Kinerja Terburuk Semester I Sejak 1970

Oleh Agustina Melani pada 01 Jul 2022, 06:57 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 06:57 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Kamis, 30 Juni 2022. Indeks S&P 500 menutup paruh pertama terburuknya dalam lebih dari 50 tahun.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones turun 253,88 poin atau 0,8 persen ke posisi 30.775,43. Indeks S&P 500 turun hampir 0,9 persen ke posisi 3.785,38. Indeks Nasdq tergelincir 1,3 persen ke posisi 11.028,74.

Indeks Dow dan S&P 500 membukukan kuartal terburuk sejak kuartal I 2020 ketika lockdown COVID-19 membuat saham tertekan. Indeks Nasdaq turun 22,4 persen pada kuartal II, kinerja kuartalan terburuk sejak 2008.

Indeks S&P 500 membukukan paruh pertama tahun terburuk sejak 1970, tertekan oleh kekhawatiran tentang lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed), serta perang berkelanjutan Rusia terhadap Ukraina dan lockdown COVID-19 di China.

"Kami mengalami pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya baik fiskal dan moneter,” Chief Investment Officer Homrich Berg, Stephen Lang, dilansir dari CNBC, Jumat (1/7/2022).

"Ini menciptakan badai yang sempurna sehubungan dengan lonjakan permintaan dan gangguan rantai pasokan dan sekarang ada inflasi yang belum pernah kita lihat dalam beberapa dekade dan Fed yang lengah,” ia menambahkan.

Lang menuturkan, saat ini pasar dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan baru dengan the Fed mencoba mengatasi ketertinggalan dan memperlambat pertumbuhan.

Lonjakan imbal hasil obligasi pada awal tahun ini dan valuasi saham yang secara historis mahal sehingga membuat saham teknologi tertekan terlebih dahulu.

Hal ini seiring investor keluar dari area pasar yang berorientasi pada pertumbuhan. Kenaikan suku bunga membuat keuntungan masa depan seperti yang dijanjikan perusahaan sedang berkembang menjadi kurang menarik.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Gerak Saham di Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Indeks Nasdaq sangat terpukul pada 2022. Indeks Nasdaq merosot lebih dari 31 persen di bawah level tertinggi pada 22 November.

Beberapa perusahaan teknologi terbesar telah mencatat koreksi cukup besar pada 2022 dengan saham Netflix turun 71 persen. Saham Apple dan Aphabet masing-masing turun 23 persen dan 24,8 persen. Saham induk Facebook Meta merosot 52 persen.

Pada Kamis, 30 Juni 2022, saham Universal Health Services turun 6,1 persen dan mendorong pasar lebih rendah setelah mengeluarkan pendapatan kuartal II dan panduan pendapatan di bawah harapan.

Saham HCA Healthcare susut 4,3 persen, saham Abiomed dan Viatris merosot lebih dari tiga persen. Saham farmasi Walgreens Boots Allince mencatat penurunan terbesar di Dow. Saham Walgreens Boots Alliance melemah 7,2 persen usai mengulangi perkiraan kinerja setahun penuh dengan pertumbuhan laba bersih per saham hanya satu digit.

Saham kapal pesiar juga tertekan setelah Morgan Stanley memangkas target harga Carnival setengahnya. Saham Carnical turun lebih dari dua persen pada Kamis pekan ini. Royal Caribbean dan Norwegian Cruise Line masing-masing turun lebih dari 3 persen.

Saham ritel rumah juga merosot. Saham RH, perusahaan furnitur kelas atas turun sekitar 10,6 persen setelah keluarkan panduan kinerja laba untuk setahun penuh. Saham Wayfair dan Williams-Sonoma masing-masing turun 9,6 persen dan 4,4 persen.


Inflasi

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Departemen Perdagangan melaporkan, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti, ukuran inflasi the Fed naik 4,7 persen pada Mei 2022. Dow Jones menyebutkan indeks diharapkan meningkat 4,8 persen yoy pada Mei 2022.

IMF Chicago yang melacak aktivitias bisnis di wilayah tersebut berada di 56 pada Juni 2022, sedikit di bawah perkiraan StreetAccount di 58,3.

The Federal Reserve telah mengambil tindakan agresif untuk mencoba dan menurunkan inflasi yang merajalela yang telah melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester mengatakan pihaknya mendukung kenaikan 75 basis poin pada pertemuan bank sentral Juli 2022 jika kondisi ekonomi saat ini bertahan.

Sebelumnya pada Juni 2022, the Fed menaikkan suku bunga acuan 0,75 persen, kenaikan terbesar sejak 1994.

Sejumlah pengamat wall street khawatir tindakan yang terlalu agresif akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

"Kami belum percaya pasar saham telah mencapai titik terendah dan kami melihat penurunan lebih lanjut ke depan. Investor harus memegang kas dalam jumlah lebih tinggi saat ini,” ujar Chairman Sanders Morris Harris, George Ball.


Pasar Bakal Perhitungkan Resesi

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Ia melihat indeks S&P 500 mencapai titik terendah sekitar 3.100 karena tindakan agresif the Federal Reserve, tetapi diperlukan untuk meredam inflasi yang akan menekan laba perusahaan. Hal tersebut beri tekanan ke saham.

Konsultan senior Payne Capital Managmenet, Courtney Garcia menuturkan, jika inflasi memuncak itu akan bertahan lebih lama, tetapi masih ada peluang bagus bagi investor.

"Pasar akan memperhitungkan resesi sebelum resesi benar-benar terjadi dan itulah yang perlu Anda fokuskan sebagai investor,” ujar dia.

Ia menuturkan, saat pasar turun lebih dari 15 persen pada paruh pertama 2022 yang telah terjadi beberapa kali dalam sejarah, cenderung memiliki paruh kedua tahun yang sangat bagus dengan rata-rata sekitar 24 persen.

Namun, Lang menuturkan, dalam koreksi saat ini,the Federal Reserve (the Fed) cenderung tidak mengambil langkah dengan kebijakan mudah untuk membantu atasi tekanan besar dalam saham, yang telah dikenal sejak masa mantan ketua the Fed Alan Greenspan.

"Inflasi akan bertahan untuk sementara waktu, jadi harapan kami the Fed akan tetap maju dan Anda tidak akan membiarkan the Fed menempatkan seperti yang telah kita lihat di setiap aksi jual besar lainnya dalam dekade terakhir,” ujar dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya