Direktur Widodo Makmur Unggas Beli 600 Juta Saham WMUU Rp 85,2 Miliar

Oleh Agustina Melani pada 27 Jun 2022, 07:03 WIB
Diperbarui 27 Jun 2022, 07:03 WIB
IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Perbesar
Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) Wahyu Andi Susilo menambah kepemilikan saham WMUU pada 23 Juni 2022.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Senin (27/6/2022), Wahyu Andi Susilo beli 600 juta saham Widodo Makmur Unggas atau setara 4,64 persen dengan harga Rp 142 per saham di pasar negosiasi.

Dengan demikian, total nilai pembelian saham WMUU Rp 85,20 miliar. Adapun transaksi tersebut masuk pengalihan yang tidak akibatkan perubahan pengendalian perseroan.

“Tujuan transaksi pengalihan kepemilikan yang tidak mengakibatkan perubahan pengendalian PT Widodo Makmur Perkasa Tbk sebagai pengendali di WMUU,” tulis Direktur Keuangan PT Widodo Makmur Unggas Tbk Wahyu Andi Susilo.

Setelah transaksi tersebut, Wahyu memiliki 608 juta saham WMUU atau setara 4,7 persen dengan status kepemilikan saham langsung. Sebelumnya Wahyu memiliki 8 juta saham WMUU atau setara 0,06 persen.

Selain itu, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk juga menyampaikan keterbukaan informasi mengenai laporan kepemilikan atau setiap perubahan kepemilikan saham perseroan pada 24 Juni 2022.

Perseroan mengalihkan saham WMUU melalui transaksi pasar negosiasi di BEI sebanyak 521.066.700 saham. Dengan demikian, setelah transaksi, kepemilikan PT Widodo Makmur Perkasa Tbk di WMUU menjadi 7,156 miliar saham atau setara 55,29 persen dari seluruh saham dalam WMUU.

Perseroan mengalihkan saham WMUU dengan harga Rp 142 per saham yang dilakukan di pasar negosiasi di BEI pada 23 Juni 2022. Sebelum transaksi, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk memiliki saham WMUU sebanyak 7.677.200.800 atau 59,32 persen dari seluruh saham dalam WMUU.

Berdasarkan data RTI, pemegang saham WMUU per 30 April 2022 antara lain PT Widodo Makmur Perkasa Tbk sebesar 63,46 persen, PT Maybank Sekuritas Indonesia 9,35 persen, dan masyarakat sebesar 27,19 persen.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juni 2022, saham WMUU stagnan di posisi Rp 140 per saham. Saham WMUU berada di level tertinggi Rp 142 dan terendah Rp 138 per saham.Total volume perdagangan 17.169.000 saham dengan nilai transaksi Rp 2,4 miliar. Total frekuensi perdagangan 1.246 kali.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Tebar Dividen 2021

Ilustrasi dividen (Photo by Gerd Atlmann on Pixabay)
Perbesar
Ilustrasi dividen (Photo by Gerd Atlmann on Pixabay)

Sebelumnya, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2021 sebesar Rp 1,62 per saham.

Direktur PT Widodo Makmur Unggas Tbk, Wahyu Andi Susilo menuturkan, dividen tersebut setara 10 persen dari laba bersih berjalan 2021. Dividen tersebut setara Rp 20 miliar.

"Selain itu sisa laba bersih Rp 5 miliar untuk dana pencadangan perseroan. Sisanya belum ditetapkan penggunaannya," ujar dia saat paparan publik, Rabu (15/6/2022).

PT Widodo Makmur Unggas Tbk mencatat penjualan bersih Rp 3,09 triliun pada 2021. Penjualan bersih tumbuh 168,87 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,14 triliun. Beban pokok penjualan naik menjadi Rp 2,66 triliun, dari periode sama tahun sebelumnya Rp 988,59 miliar.Laba kotor bertambah 164,39 persen menjadi Rp 424,85 miliar pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 160,68 miliar. 

 


Belanja Modal yang Terserap

Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Laba usaha naik 200,07 persen dari Rp 107,02 miliar pada 2020 menjadi Rp 321,17 miliar pada 2021.

Dengan melihat kondisi itu, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melambung 186,78 persen dari Rp 72,968 miliar pada 2020 menjadi Rp 209,26 miliar pada 2021.Selain itu, perseroan juga telah realisasikan belanja modal Rp 900 miliar pada 2021. Belanja modal 2021 untuk meningkatkan kapasitas produk dari sisi peternakan.

"Target 2022 belanja modal Rp 800 miliar-Rp 1 triliun. Penggunaan dana untuk tingkatkan kapasitas produk, integrasi feedmil, breeding farm dan rumah pemotongan ayam," kata dia.

Andi menuturkan, belanja modal terserap sudah mencapai 25 persen hingga kuartal I 2022.Adapun Widodo Makmur Unggas menganggarkan belanja modal dari pinjaman perbankan.

 


Malaysia Setop Ekspor Ayam Jadi Peluang Widodo Makmur Unggas

IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki duduk di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Malaysia memberhentikan ekspor ayam ke Singapura pada Juni 2022 dinilai menjadi peluang bagi PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU).

"Lihat kondisi Singapura. (Malaysia-red) tutup ekspor, peluang market luar biasa bagi kami karena fasilitas yang kami miliki di Wonogiri, Jawa Tengah didesain support ekspor, sertifikasi untuk food secure sehingga tinggal G to G (government to government-red)," ujar Presiden Direktur PT Widodo Makmur Unggas Tbk, Ali Mas'adi, saat paparan publik, Rabu (15/6/2022).

Ia menambahkan, jika bisa dibuka, pihaknya siap langsung ekspor. "Bisa dibuka, langsung go ekspor," kata dia.

Selain itu, perseroan juga memiliki strategi berbeda dalam hadapi kenaikan harga pakan ternak. Saat ini perseroan fokus di bisnis downstream atau rumah pemotongan hewan sehingga tidak terlalu terpengaruh harga pakan ternak. Ali menuturkan, kontribusi pendapatan yang mencapai 90 persen berasal dari produk daging ayam.

"Yang fokus di bisnis pakan berpengaruh cukup besar, fokus bisnis di pakan. Kami di industri pengolahan untuk hasilkan produk daging ayam tidak terlalu signifikan, memang beda strategi," ujar dia.

Selain itu, perseroan juga hadapi tantangan untuk mengurangi kebergantungan terhadap produk kedelai seiring harga komoditas bahan pakan yang naik. 

"Jadi PR di komoditas kedelai masih impor jadi tantangan kita bersama, substitusi dan kurang kebergantungan dari kedelai, kaya sumber protein, strategi tingkatkan kualitas bahan baku lokal beberapa teknologi di WMUU melakukan riset kurangi ketergantungan produk buntil kedelai biasa dipakai 25 persen kurangi 15 persen, cost pakan lebih kompetitif," ujar dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya