Investasi di Tengah Sentimen Suku Bunga Acuan

Oleh Liputan6.com pada 26 Jun 2022, 19:47 WIB
Diperbarui 26 Jun 2022, 19:47 WIB
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Pada hari ini, IHSG melemah pada penutupan sesi pertama menyusul perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Volatilitas rupiah dan imbal hasil obligasi berkurang setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan pertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate atau BI7DRRR di level 3,50 persen pada Juni 2022. Di tengah sentimen suku bunga, investasi disarankan tetap dilakukan terutama di saham.

Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (26/6/2022), Bank Indonesia pertahankan suku bunga acuan 3,5 persen pada Juni 2022 dan sesuai harapan konsensus.

BI pertahankan suku bunga acuan meski bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif selama pertemuan terakhir dan keinginan untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Imbal hasil obligasi telah turun, sementara rupiah stabil.  Meski demikian, BI isyaratkan upaya untuk menormalkan kurva operasi pasar terbukan.

Lalu bagaimana itu dilakukan dan mengapa penting? Faktanya BI tidak menaikkan suku bunga akan menempatkan dalam posisi yang tidak menguntungkan mengingat spread atau jaraknya menipis antara Indonesia dengan negara lain terutama dengan peringkat lebih tinggi.

BI pun berencana mengelola imbal hasil melalui operasi pasar terbuka dengan memberikan lebih dari permintaan biasanya yang dilelang dalam jangka pendek (7 day reverse repo rate) yang tenornya berdekatan (14 day reverse repo rate) akan diambil.

"Ini kemungkinan akan hasilkan OMO lebih curam yang mungkin menyerupai kebijakan kenaikan suku bunga yang akhirnya meningkatkan daya saing pemerintah Indonesia,” demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Secara keseluruhan langkah ini menunjukkan Indonesia tidak di belakang kurva dalam tingkat kenaikan dan dapat mengurangi tekanan dari arus keluar asing dari obligasi pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, makro ekonomi Indonesia pun masih lebih kuat meski tekanan inflasi. Di sisi lain, transaksi berjalan tetap solid ditopang harga komoditas dengan struktur neraca yang relatif lebih baik.

Ashmore Asset Management Indonesia melihat volatilitas indikator mata uang dan imbal hasil obligasi pemerintah telah berkurang usai keputusan BI. “Mengulangi rekomendasi tetap investasi terutama di saham,” demikian mengutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pelonggaran Lockdown di China hingga Harga Komoditas Jadi Sentimen Positif

IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pengurangan kebijakan penguncian karena COVID-19 di China dan harga komoditas masih tinggi menjadi sentimen positif untuk pasar modal.

Dalam satu minggu terakhir, saham dan pendapatan tetap pulih dari aksi jual yang ditunjukkan dari indeks volatilitasi yang juga menurun, demikian mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia.

Katalis positif dari pengurangan kebijakan penguncian di Shanghai dan Beijing serta bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve kurang hawkish. Di sisi lain, harga komoditas tetap tinggi dan mencapai level tertinggi sepanjang masa, dan hal itu memberikan sentimen positif untuk pasar berkembang dan maju yang andalkan ekspor komoditas.

Namun, hal yang menjadi pertanyaan, di tengah tekanan inflasi dan maslah rantai pasokan, negara mana yang akan dapat ambil rezeki nomplok dari komoditas?  Melihat hal tersebut, apakah China dapat mengambil kesempatan?

Dengan banyak masalah rantai pasokan karena perang Rusia-Ukraina, tindakan keras regulasi China sendiri dan penguncian pada Mei berdampak buruk terhadap keseluruhan mitra dagang negara berkembang. Akan tetapi, pekan ini, pertemuan Dewan Negara China mengumumkan beberapa tindakan, total ada 33 untuk menstabilkan ekonomi.

Hal ini termasuk potongan pajak lebih dari RMB 140 miliar untuk industri, memperpanjang penundaan pembayaran asuransi sosial hingga akhir tahun, melipatgandakan kuota dukungan pinjaman usaha kecil inklusif.


Aliran Dana Asing Masih Akan Masuk ke Indonesia

20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, pemangkasan pajak pembelian mobil penumpang sebesar RMB 60 miliar, mendukung permintaan perumahan, memulai serangkaian energi proyek. Pada saat yang sama hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat yang lebih baik dan sentimen itu positif secara keseluruhan.

“Ini adalah jalur positif untuk negara berkembang secara keseluruhan, termasuk Indonesia, meskipun makro Indonesia kuat, kurangnya pertumbuhan China pada akhirnya mungkin pengaruhi pertumbuhan wilayah secara keseluruhan,” demikian mengutip riset Ashmore.

Relaksasi pada pembatasan serta langkah-langkah meningkatkan ekonomi China adalah positif. Jika melihat berdasarkan valuasi, price earning di MSCI negara berkembang 10,5 kali, lebih rendah dibandingkan S&P 500 16,7 kali.

Melihat hal tersebut, negara berkembang menawarkan level menarik untuk investor. Indonesia pun terus menawarkan pertumbuhan positif  dalam laba, dan ini sebaliknya China yang alami penurunan. Hal ini memungkinkan aliran dana asing berlanjut masih masuk ke Indonesia.

 


Kinerja IHSG pada 20-24 Juni 2022

Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat selama sepekan. Pergerakan IHSG dibayangi sentimen global terutama kekhawatiran resesi dari Amerika Serikat (AS) dan ada pemangkasan ekonomi global.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (25/6/2022),  IHSG naik 1,53 persen ke posisi 7.042,93 pada periode 20-24 Juni 2022 dari pekan sebelumnya 6.936,96. Peningkatan juga diikuti kapitalisasi pasar bursa yang naik 0,93 persen menjadi Rp 9.171,842 triliun. Kapitalisasi pasar tersebut naik Rp 84 triliun dari pekan lalu Rp 9.087,68 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas Herditya menuturkan, IHSG sepekan dipengaruhi pergerakan dan sentimen global seiring ada pemangkasan ekonomi global dan kekhawatiran resesi di AS.

“Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan 7DRRR pada angka 3,5 persen dan mulai membaiknya ekonomi dalam negeri,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu pekan ini.

Ia menambahkan, denga nada kekhawatiran resesi di AS dan akan berpengaruh ke global, investor dapat mengurangi porsi di instrumen investasi berisiko.

“Untuk pekan depan (Senin), kami perkirakan IHSG berpeluang menguat untuk uji kembali 7.060-7.080,” ujar dia.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian bursa selama sepekan meningkat 0,55 persen Rp 17,33 triliun dari Rp 17,23 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi bursa mengalami perubahan 11,92 persen menjadi 24,75 miliar saham dari 28,10 miliar saham pada penutupan pekan lalu. Kemudian, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa turun 9,01 persen menjadi 1.257.107 transaksi dari 1.381.605 transaksi pada penutupan pekan lalu.

Adapun investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 1,08 triliun. Sepanjang 2022, investor asing mencatatkan beli bersih Rp 65,02 triliun.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya