BI Tahan Bunga Acuan 3,5 Persen, Sektor Saham Ini Jadi Pilihan

Oleh Elga Nurmutia pada 24 Jun 2022, 11:56 WIB
Diperbarui 24 Jun 2022, 11:56 WIB
IHSG
Perbesar
Pekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022  memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility  sebesar 4,25 persen.  Analis menilai, langkah BI itu sesuai prediksi pelaku pasar karena dukung kestabilan fundamental ekonomi.

Dengan BI mempertahankan BI7DRR 3,5 persen, apa saja saham yang menarik untuk dicermati pelaku pasar?

Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis menilai, keputusan Bank Indonesia sudah tepat dengan menahan suku bunga 3,5 persen seiring mendorong pemulihan ekonomi.  Ia mengakui, memang aliran dana asing akan keluar seiring suku bunga acuan yang tetap tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih baik.

"Dampak ditahannya suku bunga bisa berdampak adanya capital outflow, tetapi kami melihat capital outflow bisa bersifat sementara mengingat fundamental ekonomi indonesia yang kuat,” ujar Abdul saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Jumat (24/6/2022).

Hal senada dikatakan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta. Ia mengungkapkan, para pelaku pasar mengapresiasi kebijakan BI yang cenderung mendukung pertumbuhan dan stabilitas. Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga ini telah sesuai seperti yang diharapkan pasar.

Sementara itu, CEO PT Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan, stabil ekonomi bagus tidak memberikan sentimen negatif.

Dengan keputusan BI tersebut, Abdul menilai, saham perbankan masih menarik dicermati pelaku pasar. Hal ini seiring prospek pasar saham masih positif seiring pemulihan ekonomi yang disertai data ekonomi kuat. Hal tersebut dapat menguntungkan sektor saham perbankan.

"Saham saham perbankan masih menarik dicermati mengingat pemulihan ekonomi akan berdampak positif bagi perbankan, terlebih data loan growth dicatat masih tumbuh 9 persen," kata Abdul.

Untuk saham yang bisa dicermati usai adanya keputusan BI, Abdul memilih saham BMRI,BBRI, BBCA, dan juga BBNI.

"BMRI, BBRI, BBCA, BBNI bisa dilakukan wait and see dimana fase masih sideways, dan memiliki potensi upside 10-15 persen,” ujar dia.

 

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kondisi Global Masih Jadi Perhatian

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nafan mengatakan, momentum dipertahankannya suku bunga acuan ini dapat dimanfaatkan investor untuk menyoroti sektor-sektor saham yang overweight.

"Sektor yang mendapatkan rating overweight: tambang logam, batu bara, perbankan, CPO, ritel, konstruksi,” ungkap Nafan.

Di lain sisi, Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi netral ke sektor-sektor saham seperti unggas, jasa kesehatan, minyak dan gas, media, consumer goods, dan rokok.

"Investor masih bisa mencermati saham-saham tersebut selama masih ada faktor yang membuat sektor-sektor ini mendapatkan apresiasi," kata Nafan.

Untuk saham yang bisa dicermati pelaku pasar, William memilih antara lain BBCA, UNVR,TLKM, ASRI, PWON, SMRA, HMSP, dan TBIG.

Meskipun demikian, Abdul menegaskan, para investor harus tetap mewaspadai faktor global seperti kenaikan suku bunga The Fed serta perang Rusia-Ukraina.

“Faktor dari global yang masih cenderung menekan pasar seperti kenaikan suku bunga The Fed, serta perang Rusia-Ukraina yang bisa berdampak pada perekonomian global bisa menjadi faktor yang harus diwaspadai investor,” tutur dia.


Alasan BI Tahan BI7DRR 3,5 Persen saat Suku Bunga Bank Sentral Lain Naik

BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke 5,25 Persen
Perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (kanan) didampingi DGS Destry Damayanti memberi keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022  memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility  sebesar 4,25 persen. 

“Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022,  memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap sebesar 3,50 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Pengumuman hasil RDG bulan Juni 2022, secara virtual, Kamis, 23 Juni 2022.

Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal  terkait dengan meningkatnya resiko stagflasi di berbagai negara.

Kedepan ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan tinggi, seiring makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari semakin meluasnya kebijakan proteksionisme  terutama pangan yang ditempuh berbagai negara.

Untuk itu Bank Indonesia menempuh penguatan bauran kebijakan, pertama, memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan mekanisme pasar dan fundamental ekonomi.

Kedua, mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan meningkatkan efektivitas kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah dan operasi moneter rupiah.

“Ketiga, melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada komponen SBDK sebagaimana kami sampaikan dalam lampiran,” kata Perry.


Kebijakan Tarif SKNBI

Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Keempat, melanjutkan masa berlaku kebijakan tarif SKNBI sistem kliring Bank Indonesia sebesar Rp 1 dari Bank Indonesia ke Bank, dan maksimum Rp 2.500 dari Bank kepada nasabah, dari sebelumnya berakhir 30 Juni 2022, menjadi sampai dengan 31 Desember 2022 guna meningkatkan efisiensi biaya dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat serta memudahkan transaksi keuangan dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Kelima, memperkuat kebijakan internasional dengan memperluas kerjasama dengan bank sentral dan otoritas negara mitra lainnya, fasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait, serta bersama Kementerian Keuangan menyukseskan 6 (enam) agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022.

“Bank Indonesia terus mencermati resiko tekanan  inflasi ke depan, termasuk ekspektasi inflasi termasuk dampaknya terhadap inflasi inti. Dan akan menempuh langkah-langkah normalisasi kebijakan moneter lanjutan sesuai dengan data dan kondisi yang berkembang,” ujarnya.

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya