Bursa Saham Asia Melejit, Indeks Hang Seng Pimpin Penguatan

Oleh Elga Nurmutia pada 23 Jun 2022, 09:15 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 09:15 WIB
Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada Kamis (23/6/2022), seiring investor terus memantau kekhawatiran resesi.

Indeks Hong Kong Hang Seng menguat 1,15 persen pada awal sesi perdagangan, dengan indeks Hang Seng teknologi bertambah hampir dua persen. Indeks saham di China cenderung menguat. Indeks Shanghai melompat 0,16 persen, dan indeks Shenzhen bertambah 0,64 persen.

Indeks Jepang Nikkei menguat 0,69 persen dan Topix bertambah 0,58 persen. Indeks Korea Selatan Kospi menanjak 0,64 persen dan indeks Kosdaq naik 0,42 persen. Di Australia, indeks ASX 200 menguat 0,48 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,41 persen.

Dalam data ekonomi, Singapura akan merilis inflasi pada Kamis pekan ini. Setelah memantul pada Selasa, saham Amerika Serikat (AS) diperdagangkan lebih rendah semalam.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 47,12 poin, atau 0,15 persen, menjadi 30.483,13. Indeks S&P 500 tergelincir 0,13 persen menjadi 3.759,89. Indeks Nasdaq Composite turun 0,15 persen pada 11.053,08.

"Ketakutan resesi atau hard landing telah menguasai sebagian besar pasar dalam 24 jam terakhir," Kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill, menulis dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC, Kamis (26/6/2022).

Dia mengatakan, tidak ada peristiwa tertentu yang mendorong pergerakan pasar pada Rabu, dan sebagian besar komentator menunjuk terhadap ketakutan resesi yang mendalam.

Ketua Fed Jerome Powell pada Rabu mengatakan kepada Kongres bank sentral berkomitmen kuat untuk menurunkan inflasi.  Inflasi telah mencapai level tertinggi 40 tahun di AS.

Indeks USD berada di 104,197. Sedangkan, Yen Jepang diperdagangkan pada 135,92 per dolar. Itu melemah ke 136 melawan greenback awal pekan ini. 

Sementara itu, dolar Australia berada di 0,6910 setelah jatuh dari atas 0,702 minggu lalu. Harga minyak merosot pada jam perdagangan di Asia. Harga minyak Brent turun 2,18 persen menjadi USD 109,30 per barel. Harga minyak Amerika Serikat tergelincir 2,32 persen menjadi USD 103,73 per barel.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Penutupan Wall Street 22 Juni 2022

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Rabu, 22 Juni 2022. Hal ini seiring pasar berjuang untuk mempertahankan kenaikan dari hari sebelumnya.

Selain itu, pelaku pasar juga mempertimbangkan komentar dari ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell yang kembali menegaskan sikap bank sentral untuk meredam inflasi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 47,12 poin atau 0,15 persen menjadi 30.483,13. Indeks Dow Jones tergelincir pada jam terakhir perdagangan. Indeks S&P 500 susut 0,13 persen menjadi 3.759,89. Indeks Nasdaq turun terbatas 0,15 persen menjadi 11.053,08.

Kekhawatiran yang berkembang dari resesi di wall street baru-baru ini membebani saham. Pada Rabu, 22 Juni 2022, ketua the Fed Powell mengatakan kepada Kongres kalau bank sentral memiliki “keputusan” untuk menjinakkan inflasi yang telah melonjak ke level tertinggi 40 tahun.

“Kami memahami kesulitan yang disebabkan oleh inflasi yang tinggi. Kami sangat berkomitmen untuk menurunkan inflasi, dan kami bergerak cepat untuk melakukannya,” ujat Powell kepada Senat Banking Committee, dikutip dari CNBC, Kamis (23/6/2022).

 


Inflasi Tetap Jadi Risiko Terbesar

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Powell menambahkan, the Fed akan tetap di jalurnya hingga melihat bukti kuat inflasi sedang turun. Ia juga menuturkan mencapai soft landing untuk ekonomi tanpa resesi telah menjadi jauh lebih menantang.

The Fed menaikkan suku bunga 0,75 persen pekan lalu dan mengisyaratkan peningkatan suku bunga sebesar itu pada bulan depan. Sikap bank sentral pekan lalu yang lebih agresif melawan inflasi membuat investor bingung. Investor khawatir bank sentral lebih suka mengambil risiko resesi ketimbang menanggung inflasi tinggi yang terus menerus.

“Inflasi tetap menjadi risiko terbesar bagi aset keuangan, dan Jerome Powell telah membuat posisinya sangat jelas. The Fed akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi mulai berkurang,” ujar Chief Investment Officer Blanke Schein Wealth Management, Robert Schein.

Ia menambahkan, sampai saat itu, reli berkelanjutan untuk aset berisiko sulit dibayangkan. “Kondisi moneter yang ketat akan terus menerus menjadi hambatan bagi pasar keuangan sampai the Fed memberikan lampu hijau,” ujar dia.


Kekhawatiran Resesi

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Ekspektasi dari resesi yang tertunda terus tumbuh di wall street pekan ini. Citigroup meningkatkan peluang resesi global menjadi 50 persen, menunjuk pada data konsumen mulai menarik kembali pengeluarannya.

“Pengalaman sejarah menunjukkan disinflasi sering membawa biaya yang berarti untuk pertumbuhan, dan kami melihat kemungkinan agregat resesi saat ini mendekati 50 persen,” demikian mengutip dari catatan Citigroup.

Goldman Sachs percaya resesi menjadi semakin mungkin untuk ekonomi AS dengan mengatakan risikonya lebih tinggi dan banyak di depan.

“Alasan utamanya adalah jalur pertumbuhan dasar kami sekarang lebih rendah, dan kami semakin khawatir the Fed akan merasa terdorong untuk menanggapi secara paksa inflasi utama yang tinggi dan harapan inflasi konsumen jika harga energi naik lebih lanjut. Bahkan jika aktivitas melambat tajam,” ujar perusahaan.

Sementara itu, UBS mengatakan, dalam sebuah catatan kepada klien mereka tidak mengharapkan Amerika Serikat dan resesi global pada 2022 atau 2023. “Tetapi jelas risiko hard landing meningkat. Bahkan jika ekonomi benar-benar tergelincir ke dalam resesi, bagaimanapun, itu harus menjadi dangkal mengingat kekuatan konsumen dan neraca bank,” UBS menambahkan.

Saham energi terpukul karena harga minyak turun di tengah kekhawatiran ekonomi yang lebih lambat akan menganggu permintaan bahan bakar. Sektor ini berkinerja terburuk dengan turun hampir 4,2 persen. Saham Marathon Oil dan ConocoPhilips masing-masing turun 7,2 persen dan sekitar 6,3 persen. Occidental Petroleum dan Exxon Mobil turun 3,6 persne dan hampir 4 persen.

Pada Rabu, Presiden AS Joe Biden meminta Kongres untuk menangguhkan pajak gas federal selama tiga bulan. Upaya itu dimaksudkan untuk mengurangi tekanan bagi konsumen selama tahun pemilu.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya