Pelaku Bisnis di AS Kecewa The Fed Terlambat Redam Kenaikan Inflasi

Oleh Elga Nurmutia pada 22 Jun 2022, 12:02 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 09:05 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan Amerika Serikat (AS) frustasi dengan the Federal Reserve (the Fed) karena menunggu terlalu lama untuk meredam inflasi. Hal itu menurut mantan penasihat ekonomi Trump Gary Cohn.

Cohn, yang sering berhubungan dengan CEO, mengatakan kepada CNN, bisnis telah mengalami inflasi upah dan melonjaknya biaya input selama lebih dari setahun.

"Saya pikir komunitas bisnis kecewa dengan The Fed yang membutuhkan waktu lama untuk menyadari apa yang dilihat komunitas bisnis," ujar dia, dikutip dari CNN, Rabu (22/6/2022).

Cohn selaku mantan eksekutif Wall Street yang sekarang menjadi wakil ketua IBM (IBM) mengatakan, The Fed terlambat menaikkan suku bunga dan mengkritik bank sentral karena melanjutkan program stimulus pembelian obligasi jauh ke dalam siklus inflasi ini.

"Mereka berada di belakang kurva," kata Cohn.

Seperti yang diketahui, Cohn menjabat sebagai direktur Dewan Ekonomi Nasional dari 2017 hingga 2018. Pejabat Fed awalnya mengabaikan inflasi tahun lalu menjadi sementara, sebelum akhirnya mengakui masalah yang lebih persisten dan meluas.

"Komunitas bisnis telah melihat inflasi nyata untuk jangka waktu yang lama," kata Cohn, yang adalah seorang eksekutif puncak di Goldman Sachs sebelum bergabung dengan Trump White House. 

"Dan saya tidak berpikir komunitas bisnis pernah berpikir itu sementara. Saya pikir mereka pikir itu nyata. Dan mereka tidak berpikir ini akan hilang dalam waktu dekat,” ia menambahkan.

 

 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dampak Invasi Rusia ke Ukraina

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Sekarang, The Fed sedang mengatasi ketinggalan. Pejabat Fed pekan lalu mengumumkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994, meningkatkan momok melonjaknya biaya pinjaman dalam segala hal mulai dari hipotek dan pinjaman mobil hingga kartu kredit.

Ketika ditanya apakah Ketua The Fed Jerome Powell masih orang yang tepat untuk memimpin The Fed, Cohn menawarkan sedikit dukungan.

"Lihat, dia adalah ketua The Fed," kata Cohn. Dia  pada 2017 sendiri adalah kandidat untuk posisi itu sebelum Trump menunjuk Powell. 

"Dia melakukan tugasnya. Anda bisa berargumen bahwa Anda tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Saya tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Saya pikir mereka terlambat ke permainan dan menaikkan tarif. Tapi dia adalah ketuanya," ungkapnya.

Cohn mencatat, Powell bukanlah ketua Fed pertama yang menghadapi kritik karena mempertahankan suku bunga terlalu rendah terlalu lama, atau gagal memangkasnya cukup cepat.

Tentu saja, inflasi diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina. Perang telah menaikkan harga makanan, energi, dan bahan lainnya.

"Kami jelas memiliki tekanan inflasi tahun lalu sebelum perang, tetapi perang di Ukraina jelas mempercepatnya," kata Cohn.

 


Kekhawatiran Inflasi

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

The Fed menolak berkomentar pada Selasa. Namun, di Wall Street Journal's Future of Everything Festival Mei lalu, Powell mengatakan The Fed membuat keputusan secara real time.

"Jika Anda memutar ulang musim panas lalu, kami mengalami lonjakan inflasi yang nyata yang dimulai pada Maret, April, Mei, Juni tahun lalu, dan kemudian inflasi turun dari bulan ke bulan sampai akhir musim panas," katanya. 

"Jadi, kami khawatir karena kami melihat inflasi menyebar lebih luas, dan karena kami tidak melihat masalah rantai pasokan membaik. Kami benar-benar khawatir,” ia menambahkan.


Penutupan Wall Street 21 Juni 2022

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 21 Juni 2022. Hal ini seiring investor menilai bank sentral AS atau the Federal Reserve lebih agresif dan meningkatnya peluang resesi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 641,47 poin atau 2,15 persen menjadi 30.530,25. Indeks S&P 500 menguat 2,45 persen menjadi 3.764,79. Indeks Nasdaq bertambah 2,51 persen menjadi 11.069,30. Adapun wall street libur pada Senin, 20 Juni 2022 untuk merayakan Juneteenth.

Pergerakan wall street ikuti koreksi pekan lalu dengan indeks S&P 500 mencatat mingguan terburuk sejak 2020. Banyak investor khawatir kenaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi mungkin berumur pendek, meski yang lain memperkirakan saham mungkin jenuh jual setelah harga lebih akurat terkait tekanan inflasi.

“Pertanyaan yang luar biasa adalah apakah ini hanya sebuah bouncing atau bottom,” ujar Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall dikutip dari CNBC, Rabu (22/6/2022).

Stoval prediksi indeks S&P 500 dapat kembali melemah ke posisi 3.200 sebelum pulih, atau penurunan lebih dari 30 persen dari rekor tertingginya.

Pantulan besar semacam ini sudah biasa selama pasar bearish. Indeks S&P 500 telah melonjak lebih dari 2 persen pada 10 kesempatan lain sejak penurunan ini dimulai pada awal Januari sehingga membuat saham lebih rendah. Sejumlah investor kenaikan ini menjadi salah satu yang menandai pergantian terutama tanpa berita dan katalis yang jelas mendorongnya.

Sektor saham energi merupakan sektor dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500. Sektor saham energi menguat 5,1 persen seiring kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 0,46 persen ke posisi USD 114,65 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak AS naik hampir 1 persen menjadi USD 110,65 per barel.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya