Bursa Saham Asia Beragam Setelah Wall Street Kembali Bangkit

Oleh Elga Nurmutia pada 22 Jun 2022, 09:21 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 09:05 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Akibat peluncuran rudal Korea Utara yang mendarat di perairan Pasifik saham Asia menglami penurunan. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik beragam pada Rabu (22/6/2022), seiring wall street kembali bangkit setelah minggu yang bergejolak.

Indeks Nikkei 225 Jepang menyerahkan kenaikan awal untuk duduk di bawah garis datar, sementara indeks Topix naik 0,08 persen. Indeks S&P/ASX 200 di Australia naik 0,24 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 1,08 persen, sedangkan Kosdaq turun 1,09 persen.

Indeks utama di AS melonjak pada Selasa setelah berminggu-minggu merosot. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 641,47 poin atau 2,15 persen menjadi 30.530,25, sedangkan S&P 500 naik 2,45 persen menjadi 3.764,79. Indeks Nasdaq yang berfokus pada teknologi naik 2,51 persen menjadi 11.069.302.

Bank of Japan, setelah mempertahankan suku bunga ultra-rendah minggu lalu, merilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter April pada Rabu pagi. Yen Jepang melintasi level 136 pada Selasa dan terakhir di 136,33 melawan greenback. Mata uang telah melemah karena kebijakan moneter Bank of Japan menyimpang dari Fed.

Para ahli sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa fokus utama bank sentral bukanlah nilai tukar tetapi inflasi.

"Banyak anggota menyatakan pandangan bahwa inflasi yang mendasari, diukur dengan IHK tidak termasuk faktor-faktor seperti energi, tetap relatif rendah," kata risalah, dikutip dari CNBC, Rabu (22/6/2022).

Sebagian besar anggota dewan kebijakan BOJ mengharapkan suku bunga jangka pendek dan jangka panjang untuk tetap pada level mereka saat ini atau lebih rendah, demikian tertulis di risalah 

Indeks USD terakhir diperdagangkan di 104,592. Dolar Australia berada di 0,6944, setelah jatuh dari level di atas 0,702 akhir pekan lalu.

Harga minyak berjangka jatuh di perdagangan Asia. Patokan internasional minyak mentah berjangka Brent tergelincir 1,1 persen menjadi USD 113,39 per barel. Minyak mentah berjangka AS juga turun 1,21 persen menjadi USD 108,19 per barel.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Penutupan Wall Street Selasa 21 Juni 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 21 Juni 2022. Hal ini seiring investor menilai bank sentral AS atau the Federal Reserve lebih agresif dan meningkatnya peluang resesi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 641,47 poin atau 2,15 persen menjadi 30.530,25. Indeks S&P 500 menguat 2,45 persen menjadi 3.764,79. Indeks Nasdaq bertambah 2,51 persen menjadi 11.069,30. Adapun wall street libur pada Senin, 20 Juni 2022 untuk merayakan Juneteenth.

Pergerakan wall street ikuti koreksi pekan lalu dengan indeks S&P 500 mencatat mingguan terburuk sejak 2020. Banyak investor khawatir kenaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi mungkin berumur pendek, meski yang lain memperkirakan saham mungkin jenuh jual setelah harga lebih akurat terkait tekanan inflasi.

“Pertanyaan yang luar biasa adalah apakah ini hanya sebuah bouncing atau bottom,” ujar Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall dikutip dari CNBC, Rabu (22/6/2022).

Stoval prediksi indeks S&P 500 dapat kembali melemah ke posisi 3.200 sebelum pulih, atau penurunan lebih dari 30 persen dari rekor tertingginya.

Pantulan besar semacam ini sudah biasa selama pasar bearish. Indeks S&P 500 telah melonjak lebih dari 2 persen pada 10 kesempatan lain sejak penurunan ini dimulai pada awal Januari sehingga membuat saham lebih rendah. Sejumlah investor kenaikan ini menjadi salah satu yang menandai pergantian terutama tanpa berita dan katalis yang jelas mendorongnya.


Gerak Saham di Wall Street

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sektor saham energi merupakan sektor dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500. Sektor saham energi menguat 5,1 persen seiring kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 0,46 persen ke posisi USD 114,65 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak AS naik hampir 1 persen menjadi USD 110,65 per barel.

Saham Diamondback Energy melambung 8,2 persen dan Exxon Mobil naik 6,2 persen. Saham Schlumberger dan Philips66 naik sekitar 6 persen. Saham Halliburton bertambah 5,9 persen.

Saham teknologi kapitalisasi besar juga memimpin kenaikan. Saham Alphabet induk Google melonjak 4,1 persen. Saham Apple naik sekitar 3,3 persen dan Amazon menguat 2,3 persen.

Saham chip membukukan keuntungan dengan saham Nvidia naik 4,3 persen. Saham KLA melonjak 4,9 persen dan Advanced Micro Devices menguat 2,7 persen.

Di tempat lain, harga saham Kellog bertambah hampir dua persen setelah perusahaan mengatakan akan membagikan tiga perusahaan terpisah.


Kekhawatiran Investor

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Sementara itu, imbal hasil obligasi treasury AS bertenor 10 tahun menguat. Rata-rata saham utama alami penurunan ke-10 dalam 11 minggu terakhir di tengah kekhawatiran bank sentral akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk menjinakkan inflasi dengan risiko menyebabkan penurunan ekonomi.

Indeks S&P 500 susut 5,8 persen pekan lalu untuk kerugian mingguan terbesar sejak Maret 2020. Pekan lalu, indeks Dow Jones merosot di bawah 30.000 untuk pertama kalinya sejak Januari 2022, susut 4,8 persen untuk periode tersebut. Indeks Nasdaq merosot 4,8 persen.

Penurunan tajam dalam saham menandakan pelemahan lebih lanjut di tengah kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan kemampuan the Federal Reserve untuk menavigasi soft landing. Investor terus mengukur kesehatan ekonomi.

“Meningkatnya ketakutan akan perlambatan pertumbuhan global muncul dan dalam pandangan kami akan mulai menggantikan inflasi sebagai fokus utama bagi investor karena kami melihat apakah kekhawatiran ini dibenarkan atau tidak,” tulis David Sneddon dari Credit Suisse dalam sebuah laporan Selasa pekan ini.

Ia menambahkan, dari perspektif teknikal, pihaknya mulai melihat gambaran yang memburuk untuk komoditas dan terutama logam industri sejalan dengan kekhawatiran ini.

Ketua the Federal Reserve Jerome Powell akan bersaksi di depan Kongres pada Rabu dan Kamis pekan ini. Kehadirannya muncul setelah kenaikan suku bunga baru-baru ini sebesar 0,75 persen, peningkatan suku bunga terbesar sejak 1994.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya