The Fed Dongkrak Suku Bunga, Analis Sebut Indonesia Masih Pilihan Investasi

Oleh Agustina Melani pada 19 Jun 2022, 17:05 WIB
Diperbarui 19 Jun 2022, 17:05 WIB
Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Aliran dana investor asing dinilai masih masuk ke pasar bursa saham Indonesia meski bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga acuan.

Pekan ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin menjadi 1,5 persen-1,75 persen.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus  mengatakan, langkah the Fed menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah hadapi kenaikan inflasi.

Namun, ia menilai the Fed berhati-hati menaikkan suku bunga acuan agar ekonomi tidak masuk resesi. Nico mengatakan, langkah the Fed tersebut mendapatkan respons positif dari pelaku pasar global seiring bursa saham yang menghijau.

Pada penutupan perdagangan, Kamis 16 Juni 2022, usai  IHSG melambung 0,62 persen ke posisi 7.050,32 usai the Fed dongkrak suku bunga. Selain itu, bursa saham Asia juga bervariasi. Namun,  indeks Dow Jones menghentikan koreksi beruntun dalam lima hari. Indeks Dow Jones melambung 303,70 poin atau 1 persen ke posisi 30.668,53.

"Ketua the Fed Jerome Powell tegas untuk mengendalikan inflasi sehingga pelaku pasar melihat positif. Tapi jadi pertanyaannya mengenai potensi resesi dan apakah ekonomi bisa soft landing. Apakah kenaikan suku bunga bisa kendalikan inflasi,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu (19/6/2022).

Di tengah kenaikan suku bunga acuan the Fed tersebut, Nico menilai Indonesia dapat bertahan. Hal ini seiring dampak perang Ukraina-Rusia dongkrak harga komoditas. Kenaikan harga komoditas itu berdampak positif untuk Indonesia.

"Indonesia menjadi alternatif investasi di Asia Tenggara karena pengekspor komoditas. Permintaan tinggi tetapi sisi lain pasokan tidak ada,” ujar dia.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Bank Indonesia Bakal Dongkrak Suku Bunga pada Kuartal III 2022

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nico menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia juga relatif baik seiring utang Indonesia 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “Indonesia juga berhasil kendalikan COVID-19 sehingga pelaku pasar melihat Indonesia untuk tujuan investasi,” kata dia.

Meski demikian, Nico prediksi Bank Indonesia juga akan menaikkan suku bunga acuan sebagai respons terhadap langkah the Fed dongkrak suku bunga acuan.  

Hal ini mengingat the Fed sebagai acuan bank sentral lainnya. Oleh karena itu, langkah the Fed juga menjadi perhatian bagaimana berhasil kendalikan inflasi. Namun, Nico menilai tampak sulit ekonomi bisa soft landing sehingga ketidakpastian masih membayangi.

"Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin kuartal III 2022. BI juga melihat inflasi inti melihat seberapa besar kenaikan harga barang dan pendapatan dapat direspons. Jadi daya beli juga perlu dijaga,” kata dia.

Nico pun melihat Indonesia masih menjadi pilihan untuk investasi bagi investor asing. Hal ini karena pengendalian COVID-19 yang baik di Indonesia dan fundamental ekonomi yang positif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi beli investor asing mencapai Rp 69,21 triliun sepanjang tahun berjalan 2022.

“Dalam investasi itu maksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko. Investor cari tujuan investasi yang didukung fundamental ekonomi lebih baik,” ujar dia.


Sektor Saham Pilihan

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Petugas kebersihan bekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Transaksi bursa agak surut dengan nyaris 11 miliar saham diperdagangkan sebanyak lebih dari 939.000 kali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Untuk sektor saham yang dapat dicermati pelaku pasar, Nico memilih sektor saham perbankan, consumer nonsiklikal, infrastruktur dan perawatan kesehatan.

Adapun untuk saham-saham pilihan antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Jago Tbk (ARTO). Kemudian saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Lalu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Selanjutnya saham PT Prodia Widya Husada Tbk (PRDA), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).

“Untuk IHSG tetap di 7.350 hingga akhir 2022,” ujar dia.

 


Kinerja IHSG pada 13-17 Juni 2022

20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lesu selama sepekan, tepatnya 13-17 Juni 2022. IHSG merosot 2,11 persen pada pekan ini.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (18/6/2022), IHSG ditutup ke posisi 6.936,96 dari posisi pekan lalu di 7.086,64. Kapitalisasi pasar bursa saham selama sepekan susut 1,96 persen menjadi Rp 9.087,68 triliun. Kapitalisasi pasar bursa merosot Rp 181,96 triliun dari pekan lalu di posisi Rp 9.269,64 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pasar saham dipengaruhi oleh sentimen dan pergerakan dari bursa global dalam sepekan, salah satunya kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) sebesar 75 basis poin (bps).

“Pemangkasan pertumbuhan ekonomi global, kekhawatiran inflasi tinggi yang menyebabkan inflasi masih berpengaruh ke market ataupun berpengaruh ke instrument investasi berisiko tinggi,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Sabtu (18/6/2022).

Sementara itu, rata-rata volume transaksi bursa selama sepekan turun 1,37 persen menjadi 28,103 miliar saham dari 27,72 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian bursa juga meningkat 0,30 persen menjadi Rp 17,23 triliun dari Rp 17,18 triliun pada pekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata frekuensi harian bursa merosot 10,78 persen menjadi 1.381.605 transaksi dari 1.548.503 transaksi pada pekan sebelumnya.

Investor asing mencatatkan aksi jual Rp 782,42 miliar. Namun, sepanjang 2022, investor asing membukukan aksi beli Rp 69,21 triliun. Herditya menuturkan, aksi jual investor asing pada Jumat pekan ini dapat dikatakan wajar karena ingin cash put sembari menanti kepastian keadaan ke depannya dan hindari instrument berisiko terlebih dahulu.

Pada pekan depan, Herditya prediksi IHSG masih rawan koreksi untuk menguji 6.786-6.871.  Sentimen yang pengaruhi ada pengumuman suku bunga acuan atau BI Rate dan mencermati sikap dari Bank Indonesia terhadap kejadian pekan ini.

"Namun tidak menutup kemungkinan di awal pekan terjadi penguatan di IHSG yang sifatnya temporer untuk menguji area 6.980-7.010,” kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya