Restrukturisasi Utang, Indofarma Kantongi Pinjaman Rp 355 Miliar dari Bio Farma

Oleh Agustina Melani pada 01 Jun 2022, 15:44 WIB
Diperbarui 01 Jun 2022, 15:44 WIB
Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)
Perbesar
Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indofarma Tbk (INAF) merestrukturisasi utang dengan pinjaman dari induk usaha perseroan PT Bio Farma senilai Rp 355 miliar.

"Utang bank refinancing status restruktur, kita akan replace dengan shareholder loan dari induk kami Biofarma sebesar Rp 355 miliar. Ini akan refinancing dengan shareholder,” ujar Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Arief Pramuhanto, saat paparan publik ditulis Rabu (1/6/2022).

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), pinjaman Indofarma kepada Bio Farma yang merupakan pemegang saham pengendlai perseroan dengan kepemilikan 80,66 persen senilai Rp 355 miliar. Pinjaman tersebut untuk penutupan pinjaman restrukturisasi kepada Bank Mandiri senilai Rp 249,58 miliar dan kebutuhan modal kerja Rp 105,41 miliar.

Rencana pelunasan utang restrukturisasi pada Bank Mandiri akan dilakukan pada awal Juni 2022 setelah mendapatkan persetujuan dari RUPS perseroan. Rencananya dilakukan sebelum jadwal pembayaran angsuran berikutnya yang jatuh pada 23 Juni 2022. Beban bunga akan dibayarkan dengan memakai cashflow perusahaan dan tidak menggunakan shareholder loan yang diajukan.

“Sumber dana yang akan digunakan perseroan untuk membayar pinjaman dari PT Bio Farma adalah dari cashflow perusahaan yang diharapkan membaik dengan peningkatan upaya collection dan peningkatan penjualan baik tender dan regular,” demikian mengutip keterbukaan informasi BEI.

Adapun shareholder loan itu berjangka waktu enam tahun dan dikenakan bunga pinjaman 6,15 persen p.a. Untuk restrukturisasi pinjaman tersebut minta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar 31 Mei 2022.

Terkait utang dagang. Arief menuturkan,pihaknya melihat satu per satu dan diupayakan skema supply chain financing. Ini dibiayai dari sisi vendor dan customer.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ekspansi Bisnis

Paparan publik PT Indofarma Tbk (INAF), Selasa (31/5/2022) (Dok: PT Indofarma Tbk)
Perbesar
Paparan publik PT Indofarma Tbk (INAF), Selasa (31/5/2022) (Dok: PT Indofarma Tbk)

Sebelumnya, PT Indofarma Tbk (INAF) akan fokus mengembangkan alat kesehatan dan herbal. Hal ini seiring pandemi COVID-19 yang terkendali.

Selain fokus mengembangkan farmasi, PT Indofarma Tbk juga melengkapi portfolio bisnis di alat kesehatan dan herbal. Untuk alat kesehatan, ada beragam skema bisnis yang dilakukan antara lain trading, original equipment manufacturer (OEM), assembling.

"Kerja sama dengan rumah sakit pemerintah dan swasta, klinik untuk melakukan KSO (kerja sama operasi-red) dalam hal pengadaan alat kesehatan yang memang padat modal. Rumah sakit lebih suka KSO ketimbang beli,” ujar Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Arief Pramuhanto, saat paparan publik, Selasa (31/5/2022).

Ia menambahkan, ada sejumlah rumah sakit yang akan eksekusi KSO. Adapun KSO tersebut akan dilakukan anak usaha Indofarma.

"Dilakukan anak perusahaan kami, saat ini melakukan KSO ada 7 RSUD, sudah masuk pipeline 20 dalam waktu hingga akhir tahun, eksekusi 15-17 dari rumah sakit dalam pipeline kami,” ujar dia.

Adapun alat kesehatan untuk mesin hemodialisasi, medical operating theatre (MOT) di ruang operasi RSUD.

"Barangnya padat modal dan teknologi. Kemudian ada pecah ginjal SUL,ada sekitar tiga rumah sakit ajukan KSO, dan saya yakin bertambah terus. Tak hanya sediakan KSO memberikan fasilitas finansial sebagai back up,” ujar dia.

Selain genjot alat kesehatan, Indofarma juga mengembangkan produk herbal. Arief mengatakan, bisnis herbal ini dengan memasarkan natural ekstrak. Untuk skemanya antara lain business to business, industri food and beverage (F&B), dan industri farma. Perseroan pun akan meluncurkan sejumlah produk herbal pada kuartal III 2022.

"Nanti kalau mereka butuhkan ekstrak, herbal kembangkan produk eksisting, relevansi penyakit dominan. Launching produk diabetes herbal, hipertensi, triwulan tiga tahun ini,” tutur Arief.

 

 


Kinerja 2021

Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Sebelumnya, PT Indofarma Tbk mencatat kinerja beragam pada 2021. Perseroan mencatat kenaikan penjualan tetapi mencatat rugi sepanjang 2021. PT Indofarma Tbk mencatat penjualan bersih Rp 2,90 triliun pada 2021.

Realisasi penjualan itu tumbuh 69,15 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,71 triliun. Beban pokok penjualan naik menjadi Rp 2,45 triliun pada 2021 dari periode 2020 sebesar Rp 1,31 triliun.

Dengan demikian laba bruto naik 12,74 persen menjadi Rp 451,65 miliar pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 400,59 miliar. Perseroan mencatat laba usaha Rp 51,97 miliar pada 2021. Laba usaha susut 10,64 persen dari periode 2020 sebesar Rp 58,16 miliar. Perseroan mencatat rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 37,58 miliar pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya untung Rp 27,58 juta.

Perseroan mencatat ekuitas naik menjadi Rp 508,30 miliar pada 2021 dari periode 2020 sebesar Rp 430,32 miliar. Total liabilitas tercatat Rp 1,50 triliun pada 2021 dari periode  sama tahun sebelumnya Rp 1,28 triliun.

Perseroan membukukan aset mencapai Rp 2,01 triliun pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,71 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 380,81 miliar pada 2021 dari periode 2020 sebesar Rp 158,17 miliar.

 


Pinjam Rp 355 Miliar kepada Bio Farma

Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

Sebelumnya, PT Indofarma Tbk (INAF) meminjam kepada pemegang saham pengendali perseroan yaitu PT Bio Farma senilai Rp 355 miliar.Adapun Bio Farma memiliki 80,66 persen saham INAF.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (24/4/2022), PT Indofarma Tbk menyatakan pinjaman kepada Bio Farma untuk penutupan pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri  dan PT Indofarma Global Medika. Selain itu untuk kebutuhan modal kerja perseroan.

“Nilai pinjaman Perseroan kepada PT Bio Farma (Persero) sebesar Rp 355 miliar yang akan digunakan untuk penutupan pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri Perseroan dan PT Indofarma Global Medika serta kebutuhan modal kerja Perseroan,” tulis perseroan.

Alasan transaksi ini dilakukan seiring perseroan memerlukan modal kerja untuk mendukung rencana kerja terutama dalam rangka mendukung percepatan implementasi strategi fokus usaha di bidang alat kesehatan sesuai dengan program  kerja holding BUMN farmasi. Selain itu untuk membantu upaya pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi COVID-19.

Perseroan menyatakan dengan perolehan pinjaman dari pemegang saham pengendali dapat menutup pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri perseroan dan PT Indofarma Global Medika serta kebutuhan modal kerja perseroan dengan peroleh pinjaman baru senilai Rp 355 miliar.

Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 42/POJK.04/2022 dan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK Nomor 17/POJK.02/2020. Transaksi tersebut termasuk material seiring rencana transaksi mencapai 69,84 persen dari ekuitas perseroan sehingga mencapai nilai material dalam Peraturan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama.

Sebelumnya pada 25 Oktober 2021, perseroan menyampaikan kepada PT Bio Farma (Persero) dalam rangka permohonan pinjaman shareholder loan.

Dengan demikian, Indofarma akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 31 Mei 2022.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya