Indofarma Ekspansi Bisnis Alat Kesehatan hingga Herbal

Oleh Agustina Melani pada 31 Mei 2022, 21:59 WIB
Diperbarui 31 Mei 2022, 21:59 WIB
Paparan publik PT Indofarma Tbk (INAF), Selasa (31/5/2022) (Dok: PT Indofarma Tbk)
Perbesar
Paparan publik PT Indofarma Tbk (INAF), Selasa (31/5/2022) (Dok: PT Indofarma Tbk)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indofarma Tbk (INAF) akan fokus mengembangkan alat kesehatan dan herbal. Hal ini seiring pandemi COVID-19 yang terkendali.

Selain fokus mengembangkan farmasi, PT Indofarma Tbk juga melengkapi portfolio bisnis di alat kesehatan dan herbal. Untuk alat kesehatan, ada beragam skema bisnis yang dilakukan antara lain trading, original equipment manufacturer (OEM), assembling.

"Kerja sama dengan rumah sakit pemerintah dan swasta, klinik untuk melakukan KSO (kerja sama operasi-red) dalam hal pengadaan alat kesehatan yang memang padat modal. Rumah sakit lebih suka KSO ketimbang beli,” ujar Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Arief Pramuhanto, saat paparan publik, Selasa (31/5/2022).

Ia menambahkan, ada sejumlah rumah sakit yang akan eksekusi KSO. Adapun KSO tersebut akan dilakukan anak usaha Indofarma.

"Dilakukan anak perusahaan kami, saat ini melakukan KSO ada 7 RSUD, sudah masuk pipeline 20 dalam waktu hingga akhir tahun, eksekusi 15-17 dari rumah sakit dalam pipeline kami,” ujar dia.

Adapun alat kesehatan untuk mesin hemodialisasi, medical operating theatre (MOT) di ruang operasi RSUD.

"Barangnya padat modal dan teknologi. Kemudian ada pecah ginjal SUL,ada sekitar tiga rumah sakit ajukan KSO, dan saya yakin bertambah terus. Tak hanya sediakan KSO memberikan fasilitas finansial sebagai back up,” ujar dia.

Selain genjot alat kesehatan, Indofarma juga mengembangkan produk herbal. Arief mengatakan, bisnis herbal ini dengan memasarkan natural ekstrak. Untuk skemanya antara lain business to business, industri food and beverage (F&B), dan industri farma. Perseroan pun akan meluncurkan sejumlah produk herbal pada kuartal III 2022.

"Nanti kalau mereka butuhkan ekstrak, herbal kembangkan produk eksisting, relevansi penyakit dominan. Launching produk diabetes herbal, hipertensi, triwulan tiga tahun ini,” tutur Arief.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Proyek Perseroan

RUPST PT Indofarma Tbk, Selasa (31/5/2022) (Foto: PT Indofarma Tbk)
Perbesar
RUPST PT Indofarma Tbk, Selasa (31/5/2022) (Foto: PT Indofarma Tbk)

Mengutip keterangan tertulis, Perseroan akan melakukan proyek implementasi dari lima proyek pengembangan alat kesehatan dan herbal dengan total investasi yang bersumberkan dari dana SHL PMN sebesar Rp199,86 miliar yaitu pabrik Medical Furniture dengan nilai pembiayaan investasi Rp16,53 miliar.

Selain itu, proyek Pabrik Elektromedis sebesar Rp74,98 miliar, proyek In Vitro Diagnostik & Instrument dengan nilai pembiayaan investasi sebesar Rp71,86 miliar, proyek Natural Extract dengan nilai pembiayaan investasi sebesar Rp26,49 miliar dan proyek Supporting Function sebesar Rp10 miliar.

Proyek ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian Industri Kesehatan Indonesia.

Target serapan dana PMN untuk pembangunan beberapa fasilitas produksi di atas ditargetkan selesai keseluruhannya pada kuartal II 2023, dan diharapkan pada kuartal III 2022 telah dapat beroperasional dan memberikan kontribusi untuk kinerja Perseroan yang lebih baik.

 


Kinerja 2021

Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Secara konsolidasian, Perseroan berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp2,90 triliun, meningkat Rp1,19 triliun atau 69,15 persen dibandingkan 2020 sebesar Rp1,72 triliun.

Peningkatan penjualan bersih tersebut terutama masih didominasi dari penjualan produk covid-related baik untuk segmen Alat Kesehatan, Obat-obatan dan pengadaan serta distribusi penugasan vaksin Covid-19, Covovax.

Pada 2021, perseroan mencatatkan pertumbuhan jumlah aset baik aset lancar dan tidak lancar sebesar 17,42 persen dibandingkan tahun 2020, dengan nilai sebesar  Rp2,01 triliun dibandingkan Rp1,71 triliun pada 2020. Jumlah ekuitas juga mencatatkan sebesar Rp508,31 miliar, mengalami kenaikan sebesar 18,12 persen dibandingkan 2020 dengan nilai sebesar Rp430,33 miliar.

Dari sisi pengendalian biaya, walaupun Beban Pokok Penjualan Perseroan mengalami kenaikan 86,34 persen sejalan dengan peningkatan penjualan dibandingkan 2020, laba bruto tahun 2021 meningkat sebesar 12,74 persen dari Rp400,60 miliar pada 2020 menjadi Rp451,65 miliar.

Secara operasional, Perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp184,56 miliar pada 2021 dibandingkan EBITDA 2020 sebesar Rp164,40 miliar atau tumbuh sebesar 12,26 persen.

 


Selanjutnya

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)

Dengan penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 pada 2020, Perseroan membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan beban pajak kini yang berdampak terhadap tergerusnya laba bersih Perseroan sehingga Perseroan membukukan Rugi Bersih sebesar Rp37,57 miliar.

Hal tersebut dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan bagian dari tindakan prudent Perseroan.

Sepanjang 2021, Perseroan telah berupaya untuk menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Strategi penguatan kinerja yang akan dilakukan Perseroan berfokus pada High-Performance Enterprises, Sales Portofolio Strategy, Product Portofolio Strategy, Supply Chain Management, Cash Flow Management, Human Capital Development, Business Process Alignment, dan Discipline of Execution. Dengan strategi tersebut, Perseroan yakin mampu mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya