Wall Street Kembali Perkasa Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Merosot

Oleh Agustina Melani pada 28 Mei 2022, 07:43 WIB
Diperbarui 28 Mei 2022, 07:43 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/ llyod blazek)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/ llyod blazek)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kompak menguat pada perdagangan Jumat, 27 Mei 2022. Indeks Dow Jones Industrial Average dan indeks S&P 500 menutup pekan terbaik sejak November 2020.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 575,77 poin atau hampir 1,8 persen ke posisi 33.212,96. Indeks S&P 500 bertambah 2,5 persen menjadi 4.158,24. Indeks Nasdaq menguat 3,3 persen menjadi 12.131,13. Penguatan indeks Nasdaq tersebut didorong laba yang kuat dari perusahaan perangkat lunak dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau treasury bertenor 10 tahun.

Rata-rata indeks acuan lebih tinggi. Indeks Dow Jones naik 6,2 persen pada pekan ini dan menghentikan penurunan beruntun terpanjangnya dalam delapan minggu sejak 1923. Indeks S&P 500 naik 6,5 persen dan Nasdaq bertambah 6,8 persen pada pekan ini.

Dua indeks acuan tersebut akhiri penurunan beruntun dalam tujuh minggu. Sebagian dari kenaikan indeks acuan pada pekan ini terjadi pada Kamis dan Jumat ketika ketiga rata-rata indeks acuan menguat karena laba ritel yang kuat dan laporan inflasi yang melambat mengangkat sentimen.

“Kami mengambil nafas di sini dan membuat beberapa penyesuaian di pasar untuk memungkinkan hal itu,” ujar Senior Portfolio Manager Globalt Investments, demikian mengutip dari CNBC, Sabtu (28/5/2022).

Ia menambahkan, bursa saham telah turun jauh dengan cukup cepat. "Dan jika dapat stabil di sini, penurunan yang kami lihat mungkin adalah semua yang dibutuhkan, atau sesuatu yang mendekati itu,” kata dia.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Gerak Saham di Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebuah laporan yang menunjukkan inflasi sedikit melambat membantu memberikan dorongan saham pada Jumat, 27 Mei 2022. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti naik 4,9 persen pada April 2022, turun dari kecepatan 5,2 persen yang terlihat pada bulan sebelumnya. Laporan khusus ini diawasi ketat oleh the Federal Reserve saat menetapkan kebijakan.

Investor juga mengurai mengenai laba ritel. Saham Ulta Beauty naik hampir 12,5 persen setelah perusahaan melaporkan hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan. Sementara saham Gap bertambah 4,3 persen meskipun memangkas panduan labanya.

“Konsumen tampaknya memiliki pendekatan untuk pembelanjaan, kebutuhan kelas bawah dan pengalaman/barang mewah kelas atas baik-baik saja. Sementara pembelanjaan barang dagangan umum tertunda seperti furnitur,” ujar Christopher  Harvey dari Wells Fargo, demikian mengutip dari laman CNBC, Sabtu, 28 Mei 2022.

Sementara itu, saham-saham teknologi termasuk di antara pencetak untung terbesar atau top gainers pada Rabu, 25 Mei 2022. Perusahaan perangkat lunak Autodesk naik 10,3 persen setelah melaporkan ritel yang kuat untuk kuartal terakhir.

Saham Dell Technologies melompat 12,8 persen dan produsen chip Marvell melonjak 6,7 persen. Saham Zscaler dan Datadog masing-masing naik sekitar 12,6 persen dan 9,4 persen.


Pasar Obligasi sebagai Petunjuk

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Pergerakan itu terjadi ketika investor menilai keberlanjutan reli pekan ini, dan apakah pembalikan arah yang menguat melegakan dan apakah itu menandai aksi jual panjang pada 2022.

Namun, rata-rata jauh dari posisi tertingginya dengan indeks Nasdaq Composite masih berada di wilayah bearish. Indeks S&P 500 turun lebih dari 20 persen di bawah rekornya pada pekan lalu.

Indeks Nasdaq susut 25,2 persen dari posisi rekornya. Indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing melemah 13,7 persen dan 10,1 persen.

Chief Investment Officer Sanctuary Wealth Jeff Kilburg menuturkan, pasar treasury sebagai “petunjuk atau cahaya” untuk pasar saham. Imbal hasil treasury bertenor 10 tahun turun di bawah 2,75 persen dari puncaknya yang melebihi 3 persen pada 2022.

“Saya tidak menyebutnya sebagai reli bearish, hanya reposisi. Banyak orang menjadi terlalu pesimis,” ujar dia.

Ia menambahkan, pihaknya ke suku bunga. “Ketika Anda melihat treasurys memiliki imbal hasil di atas 3 persen, itu tidak berkelanjutan. Ketika berada di bawah 2,75 persen yang memungkinkan saham pulih, itu adalah jangka pendek yang jelas untuk kembali ke saham,” kata dia.


Penutupan Wall Street pada 26 Mei 2022

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis, 26 Mei 2022. Penguatan wall street ini berada di jalur untuk memecahkan serangkaian panjang koreksi mingguan.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 516,91 poin atau 1,6 persen ke posisi 32.637,19. Indeks S&P 500 naik 2 persen menjadi 4.057,84. Indeks Nasdaq bertambah hampir 2,7 persen menjadi 11.740,65 didiukung lonjakan saham dollar Tree.

Indeks yang fokus pada teknologi adalah yang terbaik, setelah ikuti rata-rata lainnya pada hari sebelumnya.

Indeks Dow Jones melemah dalam delapan minggu terakhir, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq merosot selama tujuh minggu. Pasar tampaknya telah mendapatkan kembali pijakannya pekan ini, bagaimanapun, karena investor berharap melihat puncak inflasi dan mencari valuasi pada level ini.

Pekan ini, indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 4,4 persen dan 4 persen. Indeks Nasdaq bertambah 3,4 persen.

"Meskipun ini adalah yang diharapkan dan sangat dibicarakan tentang potensi reli oversold, dasar untuk pasar hari ini naik lebih tinggi menunjukkan malapetaka dan kesuraman pekan lalu tentang konsumen Amerika Serikat yang sangat penting mungkin telah berlebihan, bersama dengan berita utama resesi yang mengerikan,” ujar Chief Equity Strategist LPL Financial, Quincy Krosby, mengutip dari CNBC, Jumat (27/5/2022).

Ia menambahkan, yang pasti rilis data pekan ini menunjukkan ekonomi melambat. Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) tampaknya siap menaikkan suku bunga 50 basis poin selama dua bulan ke depan.

“Tetapi gagasan konsumen, 70 persen dari ekonomi Amerika Serikat melakukan pemogokan pengeluaran, dilebih-lebihkan karena laporan pendapatan ditambah dengan panduan positif menunjukkan sebaliknya,” tutur dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya