Alkindo Luncurkan Produk untuk Kurangi Sampah Plastik di Bisnis E-Commerce

Oleh Elga Nurmutia pada 18 Mei 2022, 14:25 WIB
Diperbarui 18 Mei 2022, 14:25 WIB
PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) produksi brown paper dari bahan daur ulang (Dok: Alkindo Naratama)
Perbesar
PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) produksi brown paper dari bahan daur ulang (Dok: Alkindo Naratama)

Liputan6.com, Jakarta - PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO), emiten yang bergerak pada bisnis kertas dan bahan kimia yang terintegrasi berkomitmen untuk berinovasi dalam mendukung penggunaan produk ramah lingkungan.

Setelah membuat produk paper box dan paper bag sebagai pengganti plastik, Alkindo Naratama kembali meluncurkan green product sebagai pengganti gelembung plastik (bubble wrap) pertama di Indonesia, yaitu Hexcel Wrap. Produk ini untuk mengurangi sampah plastik yang banyak digunakan dalam bisnis e-commerce.

Hexcel Wrap adalah produk berkelanjutan dari ALDO sebagai alternatif bubble wrap berbentuk struktur sarang lebah yang terbuat dari kertas coklat (recycled paper) sebagai solusi perlindungan dalam mengemas pengiriman barang terutama untuk pasar e-commerce.

"Kami sangat peduli terhadap permasalahan lingkungan sehingga terus berinovasi untuk membuatproduk berkelanjutan dan mencari peluang yang terbaik. Kami bangga dapat berinisiasi membuat produk Hexcel Wrap yang pertama di Indonesia," kata Presiden Direktur ALDO, H. Sutanto melalui keterangan resmi pada Rabu (18/5/2022).

Dia menambahkan, tujuannya ialah untuk mendukung produk ramah lingkungan dan berpartisipasi dalam rangka mengurangi sampah plastik, salah satunya di industri e-commerce.

"Harapan kami dengan terus konsisten dalam mendukung kelestarian lingkungan melalui berbagai produk kami dapat turut menjaga bumi sekaligus mendukung kinerja yang baik untuk ALDO ke depan," ujar dia.

Hexcel Wrap merupakan produk pelindung tambahan yang juga dapat disebut dengan Honeycomb Paper Wrap karena bentuknya yang serupa dengansarang lebah. Hexcel Wrap dapat digunakan sebagai solusi alternatif dalam pengemasan barang.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Peluang Hexcel Wrap

FOTO: PPKM, IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun peluang Hexcel Wrap sangat besar di industri ecommerce dengan mengutamakan sustainable product. Hal ini merupakan inisiasi yang cemerlang mengingat industri  e-commerce saat ini terus semakin berkembang di Indonesia.

Sebelumnya ALDO juga telah membuat sustainable product berupa paper box dan paper bag. Produk ini juga banyak digunakan untuk pengemasan, misalnya paper box digunakan sebagai wadah makanan, obat-obatan, kosmetik, dan lain-lain.

Lalu, paper bag ialah tas yang terbuat dari kertas daur ulang yang dapat digunakan sebagai tas belanja dan kemasan lainnya.

"Kami akan terus berupaya untuk konsisten memberikan solusi-solusi permasalahan lingkungan dengan memberikan produk yang ramah lingkungan. ALDO sebagai Perusahaan yang bergerak di bisnis kertas daur ulang akan memanfaatkan peluang ini dengan baik sehingga dapat terus berkomitmen menjaga lingkungan,” ujar Sutanto.

 


Kinerja Perseroan

IHSG
Perbesar
Pekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Melalui kinerja dan berbagai inovasinya pada 2021 ALDO meraih pendapatan Rp 1,46 triliun atau naik 32 persen year-on-year.

Sepanjang 2021, bisnis sub-grup Kertas ALDO menjadi kontributor utama dengan kontribusi 65 persen, yakni 38 persen dari ECO Paper dan 27 persen dari Alkindo.

Adapun sub-grup Kertas ALDO ini telah mendominasi penjualan bersih ALDO sejak akuisisi ECO pada 2019. Hal ini tidak terlepas dari berbagai upaya ALDO dalam terus mengikuti trend pasar untuk memenuhi kebutuhan industri, seperti FMCG, food and beverages, serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terus berkembang.

"Ke depan ALDO optimis dapat terus meningkatkan kinerja kami dengan terus berinovasi dan melihat berbagai peluang yang ada," ujar dia.

Seiring dengan terus meningkatnya permintaan dari bisnis kemasan untuk pengiriman industri ecommerce, serta berbagai inisiasi produk keberlanjutan yang diproduksi, ia yakin dapat meraih kinerja yang optimal dan mencapai target yang baik.


Target 2022

Pembukaan Awal Tahun 2022 IHSG Menguat
Perbesar
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, perseroan yang bergerak pada bisnis kertas dan bahan kimia yang terintegrasi, PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) menargetkan laba bersih tumbuh 40 persen pada 2022.

Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur Alkindo Naratama H. Sutanto melalui siaran persnya yang diterima Liputan6.com, ditulis Kamis, 17 Maret 2022.

Pada 2021, Alkindo Naratama membukukan laba bersih sebesar Rp 75,8 miliar, naik sebesar 50 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 50,6 miliar.

Sementara pendapatan 2022 ditargetkan bisa tumbuh sebesar 30 persen dibanding tahun lalu. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 1,42 triliun.

"Kami optimis dapat mencapai target tersebut, seiring dengan tingginya permintaan  dari bisnis kemasan (packaging) untuk pengiriman industri e-commerce," kata Sutanto.

Target pertumbuhan laba bersih dan pendapatan pada 2022 tersebut relatif lebih rendah dibanding pencapaian pertumbuhan laba bersih dan pendapatan perseroan pada  2021.

Tahun lalu, laba bersih Alkindo naik sebesar 50 persen menjadi sebesar Rp 75,8 miliar dibanding periode yang sama tahun 2020 yang sebesar Rp 50,6 miliar.  Sementara pendapatan Alkindo naik sebesar 32 persen menjadi sebesar Rp 1,46 triliun pada 2021.

Sutanto berharap tren positif Perseroan dapat terus berlanjut juga di tahun ini dan kedepannya seiring prospek cerah industri kertas daur ulang dan pengemasan di Indonesia. Selain itu peluang yang masih luas juga ada di industri Polimer Berbasis Air.

Sepanjang 2021, bisnis sub-grup Kertas Perseroan menjadi kontributor utama pendapatan Alkindo dengan kontribusi sebesar 65 persen. Sebanyak 38 persen berasal dari ECO Paper dan sebanyak 27 persen dari Alkindo. Sedangkan sub-grup Kimia Perseroan menyumbang sisanya sebesar 35 persen (17 persen Swisstex, 18 persen ALFA).

"Sub-grup Kertas telah mendominasi penjualan bersih Alkindo sejak akuisisi ECO di tahun 2019. Penjualan di tahun 2021 masih didominasi oleh pasar domestik sebesar 95 persen dan sisanya 5 persen untuk pasar ekspor," kata Susanto.

 


Kinerja 2021

IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sutanto menambahkan pencapaian kinerja Alkindo pada 2021 tersebut tak terlepas dari inovasi dan strateginya untuk mengikuti perubahan tren pasar serta memenuhi kebutuhan industri.

Sejak dua tahun terakhir, Alkindo telah masuk ke industri kemasan makanan (paper box) dan tas berbahan baku kertas (paper bag) untuk mendukung pasar FMCG, food and beverages (F&B) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh signifikan di masa pandemi.

Dari sub-grup Chemical Alkindo yang terdiri dari PT Swisstex Naratama Indonesia (Swisstex) dan PT Alfa Polimer Indonesia (ALFA),  tetap memberi keuntungan dan dukungan positif bagi kinerja Akindo di masa depan.

Apalagi Alkindo telah merampungkan peningkatan kepemilikan saham di kedua anak usaha tersebut dari masing-masing sebesar 51 persen menjadi 99 persen, sehingga tahun ini Alkindo optimistis kontribusi  dari sub-group chemical akan mendorong pertumbuhan kinerjanya lebih baik lagi.

Total penjualan dari anak usaha PT Swisstex Naratama Indonesia (Swisstex) yang bergerak pada segmen kimia tekstil pada tahun lalu mencapai sebesar Rp243 miliar, atau turun 4 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Sementara penjualan segmen Polimer dari anak usaha PT Alfa Polimer Indonesia (ALFA) mencapai sebesar Rp265,2 miliar atau meningkat sebesar 53 persen YoY.

"Aksi korporasi berupa rights issue yang bertujuan untuk peningkatan investasi dan kepemilikan di sub-grup Kimia Alkindo juga akan berkontribusi positif terhadap pertumbuhan kinerjanya," kata dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya