Bursa Saham Asia Menguat, Investor Cermati Data Ekonomi China

Oleh Elga Nurmutia pada 16 Mei 2022, 09:33 WIB
Diperbarui 16 Mei 2022, 09:53 WIB
Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Senin (16/5/2022). Investor mencermati rilis data ekonomi China.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 1,54 persen, indeks Topix mendaki 0,93 persen pada awal sesi perdagangan. Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,46 persen dan indeks Kosdaq menanjak 1,43 persen. Di Australia, indeks ASX 200 bertambah 0,73 persen.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,33 persen. Indeks saham di Asia dan global cenderung bergejolak pada pekan lalu seiring fokus terhadap inflasi.

Saham teknologi dan kripto alami pukulan, terutama bitcoin. DI Amerika Serikat, bursa saham Amerika Serikat menguat pada Jumat, 13 Mei 2022, tetapi melemah selama sepekan.

China akan merilis data produksi industri pada April, penjualan ritel, investasi aset tetap dan pengangguran. Investor mencermati data ekonomi seiring dampak penerapan zero COVID-19.

"Sementara Shanghai sediakan data positif untuk pasar, ini tidak jelas kapan China hidup berdampingan dengan COVID-19,” ujar Direktur National Australia Bank, Tapas Strickland, dilansir dari CNBC, Senin (16/5/2022).

Sebelumnya Reuters melaporkan, otoritas Shanghai mengatakan sejumlah bisnis akan mulai melanjutkan operasi di dalam toko. Di sisi lain, bursa saham di Singapura, Malaysia, Indonesia dan Thailand libur pada awal pekan ini.

Indeks dolar AS berada di posisi 104,55, lebih tinggi dari pekan lalu. Yen Jepang ditransaksikan di posisi 129,45 per dolar AS. Dolar Australia berada di posisi 0,6943. Harga minyak berjangka menguat pada jam perdagangan di Asia.

Harga minyak berjangka Amerika Serikat naik 0,23 persen ke posisi USD 110,74 per barel. Harga minyak Brent berjangka bertambah 0,8 persen menjadi USD 111,77 per barel.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Wall Street Menguat pada Jumat 13 Mei 2022

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melambung pada Jumat, 13 Mei 2022. Penguatan wall street memangkas koreksi dari pekan sebelumnya dan mencegah indeks S&P 500 jatuh ke wilayah negatif.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones menguat 466,36 poin ke posisi 32.199,66 atau 1,47 persen. Indeks S&P 500 menguat 2,39 persen ke posisi 4.023,89. Indeks Nasdaq bertambah 3,82 persen ke posisi 11.805.

Pada Jumat pekan ini, indeks S&P 500 mencatat kinerja terbaik sejak 4 Mei. Sedangkan indeks Nasdaq membukukan kenaikan dalam satu terkuat sejak November 2020.

Meski naik jelang akhir pekan, rata-rata indeks acuan mencatat koreksi pekan ini. Indeks Dow Jones melemah 2,14 persen dan membukukan koreksi beruntun dalam tujuh minggu sejak 2001.

Indeks S&P 500 melemah 2,4 persen dan mencapai penurunan beruntun terpanjang sejak 2011, sementara indeks Nasdaq tergelincir 2,8 persen.”Harga tidak turun selamanya. Bahkan dalam koreksi dan mendekati pasar bearish, mereka cenderung mengalami reli yang melegakan yang tampaknya akan dimulai hari ini (Jumat-red),” ujar Chief Investment Strategist CFRA, Sam Stovall dilansir dari CNBC, Sabtu (14/5/2022).

Semua sektor saham di indeks S&P 500 menguat pada Jumat pekan ini yang dipimpin oleh sektor saham konsumsi dan teknologi informasi yang masing-masing menguat 4,1 persen dan 3,4 persen.


Gerak Saham di Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Saham Nike dan Salesforce masing-masing ditutup naik 4,7 persen dan 4,1 persen sehingga mendorong penguatan indeks Dow Jones. Saham American Express dan Boeing masing-masing naik lebih dari 3 persen.

Saham teknologi yang terpukul juga kembali bangkit. Saham Meta Platforms dan Alphabet masing-masing naik 3,9 persen dan 2,8 persen. Saham Tesla melonjak 5,7 persen. Sementara itu, saham semikonduktor Nvidia dan AMD juga menguat lebih dari 9 persen. Saham Apple naik 3,2 persen.

Saham meme juga kembali lanjutkan penguatan. Saham AMC Entertainment dan GameSto masing-masing melonjak 5,5 persen dan 9,9 persen.

Sementara itu, saham Twitter anjlok 9,7 persen setelah Elon Musk mengumumkan penghentian kesepakatan pengambilalihan saat ia  menanti rincian lebih lanjut tentang akun palsu platform.

Selain itu, saham Robinhood naik 24,9 persen setelah CEO Crypto Sam Bankman-Fried akuisisi saham di perusahaan.

Pasar saham telah merosot selama berbulan-bulan, dimulai dengan saham teknologi yang tindak menguntungkan dengan perutmbuhan tinggi akhir tahun lalu.


Inflasi Jadi Tantangan

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Koreksi itu bahkan menyebar ke perusahaan-perusahaan dengan arus kas sehat dalam beberapa pekan terakhir.

Penurunan tersebut telah hapus banyak keuntungan yang cepat dinikmati dari saham dari posisi terendah saat pandemi COVID-19 yang mulai Maret 2020. 

Ryan Detrick dari LPL Financial menuturkan, indeks S&P 500 dan Dow Jones telah menghindari wilayah bearish tetapi reli Jumat pekan ini tidak berarti pasar akan keluar dari kesulitan.

“Mungkin tidak ada lebih banyak risiko penurunan menurut pendapat kami, tetapi kami dapat memiliki satu lagi yang lebih rendah,” ujar dia.

Salah satu alasan mengapa saham mengalami kesulitan dalam beberapa bulan terakhir adalah inflasi yang tinggi dan upaya the Federal Reserve untuk menahan harga dengan menaikkan suku bunga. Ketua the Fed Jerome Powell menuturkan, pihaknya tidak dapat menjamin soft landing yang menurunkan inflasi tanpa menyebabkan resesi.

Meski saham menikmati reli dua minggu setelah kenaikan suku bunga pertama the Federal Reserve pada Maret, kenaikan itu dengan cepat terhapus pada April.

Aksi jual saham berlanjut pada Mei 2022. Ada beberapa tanda seperti survei sentimen investor dan beberapa stabiliasasi pasar di pasar obligasi pekan ini. Pasar mungkin sudah dekat tetapi banyak investor dan ahli mengatakan pasar mungkin perlu alami koreksi.

“Anda mendapatkan pasar ini benar-benar meminta harga terendah untuk reli bantuan. Namun, pada akhirnya benar-benar tidak ada hari menyerah,” ujar Chief Investment Strategist Delos Capital Advisors, Andrew Smith.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya