Bursa Saham Asia Tergelincir, Investor Cermati Data Ekonomi China

Oleh Elga Nurmutia pada 09 Mei 2022, 09:01 WIB
Diperbarui 09 Mei 2022, 09:01 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik turun pada perdagangan Senin pagi (9/5/2022), seiring investor menantikan rilis data perdagangan China pada April.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,22 persen pada awal perdagangan karena saham konglomerat SoftBank Group turun lebih dari 2 persen. Indeks Topix turun 0,89 persen.

Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,34 persen sementara S&P/ASX 200 di Australia turun 0,31 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan lebih rendah 0,28 persen.

Sementara itu, data perdagangan China untuk April akan dirilis pada Senin. Data tersebut, muncul ketika daratan China terus memerangi wabah COVID-19 terburuknya sejak awal 2020, bersama Presiden China Xi Jinping pada Kamis menekankan agar negara itu tetap pada kebijakan "nol-COVID dinamis".

"Tidak jelas seberapa cepat China akan berputar menuju hidup COVID,” kata ekonom National Australia Bank, Tapas Strickland menulis dalam catatan, Senin.

"Adapun data, diperkirakan akan mengambil kursi belakang mengingat lockdown/pembatasan yang ditingkatkan di banyak bagian negara," lanjutnya.

Sementara itu, pasar di Hong Kong ditutup hari ini untuk libur. Indeks USD berada di 103,767 setelah lompatan baru-baru ini dari level di bawah 103,2.

Yen Jepang diperdagangkan pada 130,79 per dolar, lebih lemah dibandingkan dengan level di bawah 129 yang terlihat terhadap greenback minggu lalu.

Sedangkan, dolar Australia berpindah tangan pada 0,7041 setelah penurunan minggu lalu dari atas 0,721.

Harga minyak lebih rendah di pagi hari jam perdagangan Asia, dengan patokan internasional berjangka minyak mentah Brent turun 0,6 persen menjadi USD 111,72 per barel. Minyak mentah berjangka AS turun 0,67 persen menjadi USD 109,04 per barel.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Penutupan Wall Street pada 6 Mei 2022

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
Ilustrasi wall street

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Jumat, 6 Mei 2022. Perdagangan saham cenderung bergejolak seiring investor berjuang untuk menemukan level dasar setelah minggu yang dramatis dengan indeks Dow Jones mencatat hari terbaik dan terburuk sejak 2020.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 melemah 0,57 persen menjadi 4.123,34. Indeks Nasdaq susut 1,4 persen menjadi 12.144,66.

Indeks Dow Jones tergelincir 98,60 poin atau 0,30 persen ke posisi 32.899,37. Pelemahan indeks acuan di wall street mendorong kinerja indeks acuan melemah selama sepekan meski mencatat tiga sesi positif berturut-turut pada awal pekan.

Pergerakan wall street terjadi setelah aksi jual saham pada Kamis, 5 Mei 2022. Indeks Dow Jones merosot lebih dari 1.000 poin dan indeks Nasdaq susut hampir 5 persen.

Dua indeks acuan tersebut mencatat penurunan satu hari terburuk sejak 2020. Indeks S&P 500 merosot 3,56 persen, dan mencatat hari terburuk kedua pada 2022.Koreksi saham yang terjadi pada perdagangan Kamis pekan ini menghapus reli besar setelah pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve pada Rabu pekan ini.

Ketua the Fed Jerome Powell mengesampingkan kenaikan suku bunga lebih besar pada Rabu, 4 Mei 2022. Sentimen tersebut mendorong indeks S&P 500 dan Dow Jones mencatat kenaikan terbaik sejak 2020.

"Reli bantuan yang diantisipasi secara luas terlihat pada saham dan obligasi setelah the Fed kurang hawkish dari pada yang ditakuti pada Rabu," ujar Strategist Barclays, Emmanuel Cau dilansir dari CNBC, Sabtu (7/5/2022).

Ia menambahkan, meski kenaikan agresif 75 basis poin ke depan mungkin tidak diharapkan, siklus pengetatan kebijakan tersirat masih sangat hawkish ke depan kecuali jika inflasi yang melonjak dengan cepat membalikkan arahnya.

"Bank sentral mungkin tidak memiliki pilihan lain selain memperlambat pertumbuhan untuk memperlambat inflasi dan tetap kredibel," kata dia.

Saham teknologi kembali koreksi jelang akhir pekan. Saham Amazon turun 1,4 persen, sementara Microsoft dan Nvidia tergelincir 0,9 persen. Saham Netflix dan Crowdstrike masing-masing turun 3,9 persen dan 8,9 persen.

Saham bioteknologi dan solar energi terpukul pada Jumat pekan ini. Saham Illumina turun lebih dari 14 persen, sementara Enphase Energy merosot 8,4 persen.


Saham Teknologi Masih Tertekan

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ilustrasi wall street

Saham teknologi mencatat kinerja buruk selama sepekan terutama saham e-commerce. Saham Amazon dan Shopify melemah 7,7 persen dan 11,6 persen.

"Kinerja buruk yang telah kita lihat secara langsung terkait dengan kenaikan imbal hasil riil yang sekarang berada di wilayah postiif," ujar Investment Strategist Edward Jones, Angelo Kourkafas.

Ia menambahkan, masalah teknologi tidak hanya tekanan valuasi sebagai akibat dari rezim suku bunga yang berbeda tetapi juga ada beberapa tarikan permintaan. "Itulah salah satu tren utama sejauh musim pendapatan ini," kata dia.

Pada pekan ini, indeks Dow Jones melemah 0,24 persen. Indeks Dow Jones merosot dalam enam minggu berturut-turut. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,21 persen dan 1,54 persen.

Koreksi yang dialami dua indeks acuan tersebut lima minggu berturut-turut.Indeks Nasdaq ditutup sekitar 25 persen di bawah rekor tertinggi dari November lalu.

Pergerakan di pasar treasury tampaknya mempengaruhi saham pada Jumat pekan ini. Imbal hasil treasury bertenor 10 tahun naik menjadi 3,13 persen untuk pertama kalinya sjeak 2018. Hal ini bertepatan posisi terendah untuk saham.


Gerak Saham di Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
Ilustrasi wall street

Di sisi lain, sektor saham energi catat penguatan. Saham EOG Resources melonjak 7,1 persen. Harga minyak kembali naik yang positif untuk saham energi.

Namun, hal tersebut mengarah kepada kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi.

Di sisi pendapatan, saham Under Armour turun lebih dari 23 persen setelah perseroan mencatat kinerja meleset dari perkiraan baik pendapatan dan laba bersih. Hal tersebut berdampak terhadap saham Nike. Saham Nike turun sekitar 3,5 persen dan beban indeks Dow Jones.

Saham asuransi Cigna melonjak hampir 6 persen setelah laporan kuartalan yang lebih baik dari perkiraan.

Koreksi saham di wall street juga terjadi di tengah rilis laporan pekerjaan pada April 2022. Laporan pekerjaan mencatat tambahan 428.000 pekerjaan. Realisasi laporan pekerjaan itu yang diharapkan ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Salah satu area yang lemah dari laporan tersebut adalah tingkat partisipasi angkatan kerja yang sedikit berubah dari bulan ke bulan dan tetap 1,2 persen di bawah tingkat pra-pandemi COVID-19. Ekonom percaya pemulihan partisipasi dapat membantu membendung kenaikan upah dan perluasan inflasi.

"Jika kita ingin mendapatkan soft landing, kita harus melihat pemulihan partisipasi," kata Ekonom Abrdn, Luke Bartholomew.

Sementara itu, data ekonomi lainnya menunjukkan data kredit konsumen the Fed menunjukkan peningkatan USD 52,4 miliar pada Maret 2022, lebih dari dua kali lipat apa yang diharapkan ekonom, berdasarkan Dow Jones.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya