Bursa Asia Melemah, Saham Alibaba Merosot 3 Persen

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 04 Mei 2022, 18:14 WIB
Diperbarui 04 Mei 2022, 18:14 WIB
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik lebih rendah pada Rabu karena investor masih melihat ke depan untuk keputusan suku bunga Federal Reserve AS yang diharapkan nanti di Amerika Serikat.

Dilansir dari CNBC, Rabu (4/5/2022), Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup 1,1 persen lebih rendah pada 20.869,52. Saham perusahaan teknologi China yang terdaftar di kota itu turun, dengan Tencent dan Alibaba masing-masing turun 3,05 persen dan 3,74 persen. Indeks Hang Seng Tech juga turun 3,29 persen menjadi 4.264,91.

Di tempat lain, Kospi Korea Selatan turun 0,11 persen ditutup pada 2.677,57 sementara S&P/ASX 200 di Australia turun 0,16 persen hari ini menjadi 7.304,70. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,42 persen. Pasar di Jepang dan China daratan ditutup pada Rabu untuk liburan.

Federal Reserve AS diperkirakan menaikkan suku bunga pada untuk kedua kalinya sejak 2018. Bank sentral juga diperkirakan akan meluncurkan program untuk mengurangi kepemilikan obligasi sebesar USD 95 miliar atau sekitar Rp 1,3 kuadriliun (asumsi kurs Rp 14.440 per dolar AS) mulai Juni.

The Fed juga diperkirakan menaikkan suku bunga dan memangkas neraca secara agresif selama 16 bulan ke depan, dan mayoritas responden dalam Survei Fed CNBC Mei melihat proses yang mengarah ke resesi.

Adapun, Di wall street, indeks acuan saham utama serentak menguat. Indeks S&P 500 menguat 0,48 persen menjadi 4.175,48. Dow Jones Industrial Average naik 67,29 poin, atau 0,2 persen, menjadi 33.128,79. Nasdaq Composite naik 0,22 persen menjadi 12.563,76.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pembukaan Bursa Saham Asia Rabu Pagi 4 Mei 2022

Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Bursa saham Asia

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Rabu pagi, 4 Mei 2022 menyusul investor bersiap hadapi pengumuman suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed).

Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,5 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks ASX 200 di Australia bertambah 0,21 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,26 persen. Bursa saham Jepang dan China masih libur.

Di sisi lain, the Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kali sejak 2018 pada pertemuan Rabu waktu setempat.

Bank sentral juga diperkirakan meluncurkan program untuk mengurangi kepemilikan obligasi senilai USD 95 miliar atau sekitar Rp 1.372 triliun (asumsi kurs Rp 14.451 per dolar AS) per bulan yang dimulai pada Juni.

The Fed akan menaikkan suku bunga dan memangkas neraca secara agresif selama 16 bulan ke depan. Mayoritas responden dalam surve CNBC juga melihat proses yang mengarah ke resesi.Di wall street, indeks S&P 500 menguat 0,48 persen menjadi 4.175,48.

Indeks Dow Jones bertambah 67,29 poin atau 0,2 persen menjadi 33.128,79. Indeks Nasdaq naik 0,22 persen menjadi 12.563,76.

Indeks dolar AS berada di posisi 103,448 dari posisi sebelumnya 103,6. Yen Jepang diperdagangkan di posisi 130,16 per dolar AS. Dolar Australia berada di posisi 0,7103.


Penutupan Wall Street pada 3 Mei 2022

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Wall street

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Selasa, 3 Mei 2022. Hal ini seiring investor menantikan keputusan penting bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 menguat 0,48 persen menjadi 4.175,48. Indeks Dow Jones bertambah 67,29 poin atau 0,20 persen ke posisi 33.128,79. Indeks Nasdaq naik 0,22 persen menjadi 12.563,76.

Wall street yang menguat pada Selasa pekan ini melanjutkan reli pada sesi perdagangan sebelumnya.

"Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, penjual tampak kelelahan, dan pelaku short selling sedikit gugup dari pada beli," tulis Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan kepada klien dilansir dari CNBC, Rabu, 4 Mei 2022.

Sebagian besar pelaku pasar di wall street mengharapkan bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada pekan ini. Sementara itu, sejumlah investor percaya harapan pengetatan moneter yang agresif dari bank sentral sudah diperhitungkan ke pasar.

Miliarder Paul Tudor Jones menuturkan, dengan pengetatan kebijakan moneter the Fed dan tanda-tanda ekonomi melambat, cadangan modal menjadi tujuan utama investor.

"Anda tidak dapat memikirkan lingkungan yang lebih buruk dari pada tempat kita berada sekarang untuk aset keuangan. Jelas Anda tidak ingin memiliki obligasi dan saham," ujar Jones.

Kenaikan indeks saham S&P 500 pada perdagangan Selasa pekan ini dipimpin oleh sektor energi. Saham Exxon Mobil bertambah lebih dari dua persen dan EOG Resources naik 3,8 persen.


Sektor Saham di Wall Street

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Wall Street

Sektor saham defensif seperti perawatan kesehatan dan utilitas juga memimpin penguatan. Saham Pfizer naik hampir dua persen setelah melaporkan kinerja keuangan kuartal I 2022 yang lebih kuat dari perkiraan.Sektor saham keuangan juga titik terang lainnya.

Saham JPMorgan dan Morgan Stanley masing-masing naik lebih dari dua persen.Pergerakan saham di wall street bergejolak. April menjadi bulan terburuk untuk Dow Jones dan S&P 500 sejak Maret 2022. Sedangkan bagi indeks Nasdaq terburuk sejak 2008.

"Kami pikir data terus melukiskan gambaran ketakutan ekstrem dan peluang bagi investor jangka panjang meski ada ruang pergerakan lebih banyak penurunan dalam waktu dekat pada beberapa indikator," ujar RBC Strategist Lori Calvasina.

Indeks S&P 500 diperdagangkan di wilayah koreksi, turun sekitar 13 persen dari rekor tertingginya, tetapi ukuran dan penarikan panjang ini sejalan dengan koreksi historis, menurut LPL Financial.Kenaikan suku bunga yang diharapkan terjadi karena ada kekhawatiran yang berkembang tentang ekonomi global, sebagian karena lockdown China dan perang di Eropa.

"Pasar terus menjadi sandera terhadap respons COVID-19 China dan geopolitik yang membayangi gambaran fundamental yang masih sangat tangguh," ujar JPMorgan Strategist Mislav Matejka.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun setelah mencapai tonggak baru pada Senin pekan ini. Imbal hasil obligasi mencapai 3,01 persen selama sesi sebelumnya, titik tertinggi sejak Desember 2018, tetapi kembali turun di bawah level 3 persen pada perdagangan Selasa pekan ini.Laporan laba perusahaan memacu pergerakan saham pada Selasa pekan ini.

Saham Chegg anjlok sekitar 30 persen setelah perseroan mengeluarkan panduan yang lemah untuk setahun penuh meski melebihi harapan pendapatan. Saham Expedia dan Hilton masing-masing turun 14 persen dan 4,2 persen setelah laporan kuartalan.

Di sisi lain, saham Clorox naik hampir 3 persen setelah hasil fiskal kuartal III perseroan melampaui harapan.

Saham Chemours melonjak lebih dari 17 persen setelah perseroan menaikkan panduan.Ada beberapa tanda positif bagi perekonomian. Pesanan pabrik untuk Maret 2022 naik 2,2 persen, lebih baik dari yang diharapkan. Lowongan pekerjaan mencapai 11,5 juta tertinggi sepanjang masa.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya