Bursa Saham Australia Melemah, Investor Menanti Keputusan Bank Sentral

Oleh Elga Nurmutia pada 03 Mei 2022, 09:02 WIB
Diperbarui 03 Mei 2022, 09:02 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Australia melemah pada awal sesi perdagangan Selasa pagi (3/5/2022) jelang keputusan bank sentral Australia.Indeks saham Australia ASX 200 melemah 0,39 persen yang didorong saham bank dan tambang.

Saham Commonwealth Bank of Australia merosot 1 persen dan Fortescue turun 1,34 persen.Pelaku pasar hadapi data ekonom termasuk keputusan suku bunga Australia yang akan signifikan. Hal ini seiring analis prediksi kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari satu dekade.

Bank sentral Australia akan menaikkan suku bunga 15 basis poin menjadi 0,25 persen, berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 32 ekonom.Menjelang keputusan tersebut, dolar Australia naik menjadi USD 0,7065 dari level USD 0,704.

"Setelah laporan inflasi kuartal I yang jauh lebih kuat dari perkiraan, kami mengharapkan yang pertama dari serangkaian kenaikan (suku bunga-red) Bank Sentral Australia hari ini. Luasnya dan momentum inflasi dalam laporan indeks harga konsumen kuartal I sangat menunjukkan Bank Sentral Australia tidak akan menunggu data gaji," tulis Analis ANZ Research Brian Martin dan Daniel Hynes dilansir dari CNBC, Selasa (3/5/2022).

"Ini akan menjadi pertama kalinya Bank Sentral Australia menaikkan suku bunga sejak November 2010," tulis mereka.

Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan cenderung mendatar. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang sedikit berubah. Adapun sejumlah bursa saham libur antara lain China, Jepang, Singapura dan India.

Di Amerika Serikat, wall street menguat. Indeks Nasdaq naik 1,63 persen ke posisi 12.536,02. Indeks S&P 500 menanjak 0,57 persen ke posisi 4.155,38. Indeks Dow Jones bertambah 84,29 poin atau 0,26 persen ke posisi 33.061,50.

Indeks dolar Amerika Serikat berada di posisi 103,53 dari posisi sebelumnya 103,7. Yen Jepang ditransaksikan di posisi 130,08 per dolar AS.

Harga minyak cenderung menguat pada jam perdagangan di Asia. Harga minyak Brent berjangka naik 0,47 persen ke posisi USD 108,09 per barel. Harga minyak AS berjangka menguat 0,38 persen menjadi USD 105,57 per barel.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Penutupan Wall Street 2 Mei 2022

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
Ilustrasi wall street

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Senin, 2 Mei 2022. Pasar saham terlalu khawatir tentang perlambatan ekonomi dan investor pun melakukan aksi beli saham setelah pasar tertekan.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Nasdaq naik 1,63 persen ke posisi 12.536,02. Indeks S&P 500 menguat 0,57 persen menjadi 4.155,38.

Indeks Dow Jones bertambah 84,29 poin atau 0,26 persen ke posisi 33.061,50.Sesi perdagangan bergejolak setelah saham sepanjang April tertekan. Indeks Dow Jones dan S&P 500 keluar dari bulan terburuk sejak Maret 2020 ketika pandemi berlangsung. Indeks Nasdaq alami bulan terburuk sejak 2008.

Chief Investment Officer Matrix Asset Advisors, David Katz menuturkan, pasar terlalu khawatir tentang perlambatan ekonomi dan investor harus turun tangan untuk membeli saham saat tertekan.

"Anda dapat membeli banyak bisnis hebat dengan harga yang sangat menarik. Secara historis, itu adalah waktu yang sangat tepat untuk menggunakan uang," kata Katz dilansir dari CNBC, Selasa, 3 Mei 2022.

Namun, ahli lainnya memperingatkan kemungkinan reli jangka pendek dan menunjuk ke posisi terendah baru sebagai tanda saham masih akan tertekan.

 


Gerak Saham di Wall Street

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street

"Sentimennya negatif, tapi kami masih belum melihat flush. Kami hampir perlu melihat setidaknya penembusan posisi terendah ini untuk melihat lebih banyak ketakutan di pasar, lebih banyak pemicu level berhenti," ujar co-CIO Truist Advisory Services, Keith Lerner.

Sementara itu, saham teknologi yang tertekan sepanjang April tetapi memimpin penguatan pada awal pekan ini. Saham Netflix dan Meta, induk usaha Facebook masing-masing melonjak sekitar 4,8 persen dan 5,3 persen.

Saham Microsoft dan induk usaha Google Alphabet masing-masing menguat lebih dari 2 persen.Saham Apple dan Amazon ditutup naik kurang dari 1 persen setelah sebagian besar berada di wilayah negatif.

Art Cashin menuturkan, perdagangan Apple dan Amazon terutama dapat menjadi barometer langkah selanjutnya untuk pasar yang lebih luas.Saham semikonduktor dan energi menjadi kekuatan di wall street.

Saham Intel dan Chevron masing-masing naik 3,1 persen dan dua persen untuk menopang Dow Jones.Sementara itu, volatilitas di pasar obligasi kemungkinan berkontribusi pada gejolak saham. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik di atas 3 persen untuk pertama kalinya sejak 2018.

 


Menanti Pertemuan The Fed

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Ilustrasi wall street

"Tiga persen tentu penting. Ini adalah penghalang psikologis yang membuat orang khawatir tentang apa yang akan dilakukan the Fed," ujar Matt Maley dari Miller Tabak.

Pada pekan ini, investor akan mencermati pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve. The Federal Open Market Committee akan mengeluarkan pernyataan tentang kebijakan moneter.

Keputusan akan dirilis pada pukul 2 siang waktu setempat, Rabu, 4 Mei 2022. Selain itu, data ekonomi laporan pekerjaan akan dirilis pada Jumat pekan ini.

Analis Morgan Stanley Michael Wilson menuturkan, inflasi yang begitu tinggi dan pertumbuhan laba yang melambat dengan cepat, saham tidak lagi memberikan lindung nilai inflasi yang diandalkan oleh banyak investor. Hasil laba riil cenderung mengarah pada pengembalian kinerja saham secara riil sekitar 6 bulan.

"Ini menunjukkan kita memiliki penurunan yang berarti pada tingkat indeks karena investor mengetahui hal ini," kata Michael.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya