Kiat Pilih Investasi Dana Pendidikan Anak di Luar Negeri

Oleh Agustina Melani pada 10 Apr 2022, 06:00 WIB
Diperbarui 10 Apr 2022, 07:02 WIB
Ilustrasi investasi (Foto: Unsplash/Mayofi)
Perbesar
Ilustrasi investasi (Foto: Unsplash/Mayofi)

Liputan6.com, Jakarta - Menyekolahkan anak di luar negeri menjadi impian sebagian orangtua di Indonesia, dan tujuan tersebut membutuhkan persiapan dana dalam jumlah besar. Lalu cara menyiapkan  dana pendidikan agar bisa menyekolahkan anak ke luar negeri?

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Krizia Maulana memberi sejumlah kiat untuk siapkan dana pendidikan anak ke luar negeri. Berikut kiatnya dikutip Minggu (9/4/2022):

1.Cari tahu biaya sekolah hingga akomodasi

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anak ke luar negeri, mulai dari uang pangkal, biaya per semester, hingga biaya hidup bulanan di negara tujuan.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah perbedaan mata uang. Biaya pendidikan di luar negeri umumnya menggunakan mata uang asing.

Oleh karena itu, sebaiknya dana pendidikan juga disiapkan dalam mata uang negara tujuan atau bisa juga dalam dolar AS.

Pertimbangannya adalah agar tidak terjadi perbedaan atau selisih kurs di kemudian hari yang berpotensi mengganggu persiapan biaya kuliah anak. Untuk itu, investasi dalam mata uang dolar AS bisa menjadi salah satu opsi.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pilih Instrumen Investasi yang Tepat

Ilustrasi investasi, investasi saham (Photo by Tech Daily on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi investasi, investasi saham (Photo by Tech Daily on Unsplash)

Setelah mengetahui seluruh biaya selama anak menempuh pendidikannya di luar negeri, dengan sudah memperhitungkan faktor inflasi, langkah berikutnya adalah menentukan instrumen investasi yang tepat untuk mengembangkan dana pendidikan anak. Perlu diketahui, dana pendidikan adalah dana yang harus ada saat dibutuhkan.

"Untuk itu selain penempatan pada kelas aset pasar uang seperti pada tabungan dan deposito berdenominasi dolar AS, kita juga bisa menambahkan porsi reksa dana saham sebagai booster karena sifatnya yang likuid atau mudah untuk dijual kembali serta memiliki potensi pengembalian hasil yang tinggi,” ujar dia.

Penempatan dana investasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan jika persiapan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang atau di atas 10 tahun.

Apalagi saat ini sudah ada beberapa reksa dana berdenominasi dolar AS yang menangkap peluang investasi di pasar saham domestik dan luar negeri. Ia mencontohkan, reksa dana saham dalam denominasi dolar AS yang menangkap peluang di pasar domestik adalah Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF).

Krizia menambahkan, bagi investor yang ingin menangkap peluang dari pasar saham di Asia Pasifik, bisa memanfaatkan reksa dana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF).

“Portofolio MANSYAF terdiri dari saham-saham perusahaan Asia berskala global dengan pendapatan mancanegara, sehingga outlook kinerja tidak dipengaruhi kondisi makroekonomi di negara asalnya,” ujar dia.


3.Potensi di pasar saham masih besar

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

“Kami melihat saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi di pasar saham,” ujar dia.

Krizia menilai, pada 2022, Indonesia berada pada posisi yang atraktif, berbeda dengan negara maju yang mengalami tren normalisasi, Indonesia justru diuntungkan oleh momentum pemulihan ekonomi seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya vaksinasi.

"Posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas juga memberikan efek lindung nilai dari kenaikan harga komoditas,” kata dia.

Krizia menuturkan, kenaikan harga komoditas memberikan trickle-down effect terhadap perekonomian secara keseluruhan lewat meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang bekerja dan berhubungan dengan sektor yang bersangkutan.

“Hal ini membuat Indonesia menjadi destinasi diversifikasi investasi di tengah dinamika global yang sedang terjadi. Kondisi yang kondusif serta posisi kepemilikan asing yang masih relatif rendah membuka peluang penguatan lebih lanjut di pasar saham Indonesia,” kata dia.


Selanjutnya

IHSG Dibuka di Dua Arah
Perbesar
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hal positif lainnya datang dari pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, yang bersama ASEAN-4 (Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) diperkirakan mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan.

Asia dianggap memiliki fondasi makroekonomi yang lebih kuat dalam menghadapi pengetatan moneter Amerika Serikat.

Ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan dana pendidikan tinggi ke luar negeri. Sebaiknya pilih produk yang sesuai dengan profil risiko, tujuan, dan jangka waktu. Persiapan dalam jangka waktu yang panjang akan membuahkan hasil yang lebih optimal.

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona
Perbesar
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya