Bursa Saham Asia Melesat Jelang Hasil Pertemuan Bank Sentral Australia

Oleh Elga Nurmutia pada 05 Apr 2022, 10:02 WIB
Diperbarui 05 Apr 2022, 10:02 WIB
Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - - Bursa saham di Asia Pasifik naik pada perdagangan Selasa pagi (5/4/2022). Penguatan bursa saham Asia di tengah investor menantikan keputusan suku bunga terbaru Reserve Bank of Australia.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,4 persen didorong saham SoftBank Group dan Fanuc masing-masing naik lebih dari 1 persen.

Sedangkan, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,12 persen lebih tinggi. Di sisi lain, saham Australia juga naik dengan indeks  S&P/ASX 200 naik 0,18 persen.

Melansir CNBC, Selasa pekan ini, indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan 0,11 persen lebih tinggi.

Reserve Bank of Australia akan mengumumkan keputusan suku bunga terbarunya pada 12:30 malam HK/SIN pada Selasa.

Sementara itu, menjelang keputusan tersebut, dolar Australia berpindah tangan pada 0,7543, menyusul lonjakan kemarin dari bawah 0,75. Bursa saham di Hong Kong dan daratan China tutup pada Selasa libur nasional.

Semalam di Wall Street, indeks S&P 500 naik 0,81 persen menjadi 4.582,64. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 103,61 poin, atau 0,3 persen menjadi 34.921,88. Indeks Nasdaq Composite yang berteknologi tinggi mengungguli, melonjak 1,9 persen menjadi 14.532,55.

Tak hanya itu, harga minyak lebih tinggi di pagi hari jam perdagangan Asia pada Selasa, dengan patokan internasional minyak mentah berjangka Brent naik 1,91 persen menjadi USD 109,58 per barel. Minyak mentah berjangka AS naik 1,85 persen menjadi USD 105,19 per barel.

Indeks USD berada di 98,985 setelah naik baru-baru ini di bawah 98,6. Sedangkan, Yen Jepang diperdagangkan pada 122,72 per dolar, lebih lemah dibandingkan dengan level di bawah 122 yang terlihat terhadap greenback minggu lalu.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Wall Street Menguat pada 4 April 2022

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada Senin, 4 April 2022. Wall street melambung tersebut dipicu traders yang menepis kekhawatiran resesi dan membeli saham teknologi yang terpukul pada kuartal I 2022.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones menguat 103,61 poin atau 0,3 persen ke posisi 34.921,88. Indeks S&P 500 mendaki 0,81 persen menjadi 4.582,64. Indeks Nasdaq melesat 1,9 persen menjadi 14.532,55. Indeks Nasdaq melemah pada awal tahun tetapi kembali naik, dan turun hanya sekitar 10 persen dari rekor sebelumnya.

Saham teknologi yang merupakan salah satu sektor paling terpukul pada kuartal I 2022 menguat pada awal pekan ini. Hal ini setelah saham media sosial mendapatkan dukungan besar dari investor Elon Musk.

Saham Twitter melonjak lebih dari 27 persen seiring berita Musk membeli 9,2 persen saham pasif di perusahaan tersebut. Hal itu jumlah terbesar dalam sejarah Twitter sejak penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Investor berspekulasi langkah Musk dapat menyebabkan pembelian atau perubahan besar lainnya, bahkan jika sahamnya pasif.

Saham Tesla juga menguat 5,6 persen. Hal tersebut didukung jumlah pengiriman kendaraan listrik secara kuartalan yang melampaui periode tahun sebelumnya.

Perusahaan teknologi termasuk Apple, Amazon, Alphabet dan Nvidia juga naik lebih dari dua persen. Saham teknologi China yang tercatat di Amerika Serikat termasuk Alibaba dan JD.com juga menguat.

“Sekali lagi, karena teknologi benar-benar mengambil keuntungan pada kuartal pertama, itu akhirnya menjadi reli yang melegakan bagi teknologi pada saat ini, serta untuk sektor berorientasi pertumbuhan lainnya,” ujar Chief Investment Strategist CFRA, Sam Stovall.

Ia menambahkan, indeks Nasdaq memimpin kenaikan lantaran tidak banyak berita baru yang memberi tekanan tambahan pada Nasdaq.


Imbal Hasil Obligasi

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Investor menepis sejumlah kekhawatiran saat membeli saham teknologi. Bagian penting dari kurva imbal hasil tetap terbalik setelah imbal hasil treasury bertenor dua tahun dan 10 tahun bergeser untuk pertama kalinya sejak 2019. Imbal hasil surat utang bertenor 5 tahun juga di atas bertenor 30 tahun.

“Ini mungkin berarti waktu menuju potensi resesi telah dimulai. Kabar baiknya secara historis perlu waktu beberapa tahun hingga resesi benar-benar terjadi,” kata Ryan.

Sementara itu, harga minyak juga menguat. Harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 4 persen dan kembali di atas USD 100 per barel. Sementara harga minyak mentah Brent naik sekitar 3 persen, semakin meningkatkan kekhawatiran investor tentang kemungkinan resesi.

Harga minyak menguat seiring investor terus memantau perkembangan di Ukraina. Kanselir Jerman Olaf Scholz menuturkan, negara-negara barat akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia dalam beberapa hari mendatang.

“Pasar saham dan obligasi terus mengirimkan sinyal yang bertentangan tentang prospek ekonomi,” dalam catatan UBS.

Dalam catatan itu disebutkan pihaknya berhati-hati agar tidak menafsirkan salah satu sinyal secara berlebihan. “Inversi kurva imbal hasil secara historis prediksi resesi dengan jeda yang panjang dan tidak pasti, sementara harapan atas pembicaraan gencatan senjata telah surut dan mengalir,”

Saham Starbucks turun 3,7 persen setelah perseroan menangguhkan program pembelian kembali sahamnya. Adapun wall street telah memasuki periode musiman yang kuat. April biasanya menjadi salah satu bulan terbaik untuk saham.

Sementara itu, berdasarkan data JC O’Hara MKM Partners, indeks S&P 500 memiliki rata-rata kenaikan 2,41 persen pada April 2022 selama 20 tahun terakhir. Data juga menunjukkan indeks S&P 500 telah membukukan kenaikan pada April sebanyak 16 kali dalam 17 tahun terakhir.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya