Saham Robinhood Turun 15 Persen Usai Jumlah Pengguna Menyusut

Oleh Liputan6.com pada 28 Jan 2022, 17:40 WIB
Diperbarui 28 Jan 2022, 17:40 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi perdagangan saham Robinhood membeberkan perkiraan pendapatan yang suram pada kuartal I-2022. Hal ini karena laporan yang menunjukkan penyusutan pengguna aktif secara drastis.

Pengumuman yang dikeluarkan pada Kamis, 27 Januari 2020 berimbas pada saham Robinhood. Saham Robinhood turun 15 persen usai pedagangan selama jam kerja berakhir.

Perusahaan pialang publik ini menorehkan pendapatan kuartal I-2022 kurang dari USD 340 juta. Realisasi pendapatan ini merosot 35 persen daripada 2021. Perkiraan konsensus Wall Street, Robinhood akan mengantongi pendapatan  sekitar USD 448,2 juta, menurut FactSet.

Di samping itu, pengguna aktif bulanan ikut melandai menjadi 17,3 juta kuartal terakhir. Padahal per kuartal III-2021, jumlahnya mencapai 18,9 juta. Penurunan ini jelas jauh dari hasil prediksi konsesnsus FactSet yakni 19,8 juta pengguna.

Sementara itu, akun secara kumulatif bersih mencapai 22,7 juta pada akhir kuartal IV atau sesuai dengan perkiraan. Pada kuartal III sebanyak 22,4 juta akun. Robinhood berhasil menambahkan 10 juta akun saja pada 2021.

Robinhood melaporkan kerugian bersih sebesar USD 423 juta, atau kerugian 49 sen per saham dilusi dalam laporan keuangan kuartal IV. Nominalnnya lebih besar dari perkiraan kerugian 45 sen yang dikumpulkan oleh Refinitiv.

Dalam laporan juga tertulis Robinhood sukses mengantongi pendapatan sebanyak USD 363 juta selama tiga bulan terakhir 2021. Perusahaan pialang perlu berbangga karena hasilmya sedikit melampaui harapan analis yakni USD 362,1 juta.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hadapi Persaingan

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Robinhood akan menghadapi persaingan terberatnya pada kuartal I dan II 2022. Usai menutup tahun rekornya pada 2021 dari GameStop.

Dalam setahun penuh, saham Robinhood turun lebih dari 86 persen dari harga tertinggi sejak debut publik aplikasi perdagangan Juli 2021. Penyusutan saham terbesar terjadi pada Januari sekiat 34 persen. Alhasil kapitalisasi pasarnya menjadi kurang dari USD 10 miliar.

Pendapatan berbasis transaksi kuartal IV senilai USD 264 juta. Perdagangan opsi menghasilkan USD 163 juta, perdagangan aset kripto menambahkan USD 48 juta dan ekuitas menyumbang USD 52 juta untuk pendapatan berbasis transaksi di kuartal IV-2021.

Kontribusi pemasukan dana dari sektor kripto lambat laun menurun sejak kuartal II-2021. Pada 2021, transaksi aset kripto menyumbang USD 233 juta sementara pada kuartal III hanya senilai USD 51 juta saja.

Laporan keuangan yang dirilis pada Kamis, 27 Januari 2022 menunjukkan tren penurunan berlanjut di sektor transaski aset kripto. Kendati begitu,  Robinhood masih banyak berinvestasi bisnis kriptonya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bakal Buat Produk

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

"Robinhood telah menetapkan tujuan agresif guna memulai pembukaan platform kripto kepada pelanggan secara internasional pada 2022. Perusahaan percaya potensi besar ekonomi di bidang kripto dan melihat peluang besar dalam melayani pelanggan di seluruh dunia,” tulis perusahaan dalam rilis, mengutip laman CNN, Jumat (28/1/2022).

Aset Robinhood di bawah tahanan naik menjadi USD 98 miliar secara tahunan. Pendapatan rata-rata per pengguna turun 39 persen menjadi USD 64 dari YoY dari USD 106.

Melihat 2022, Robinhood mengatakan akan membangun produk yang dimaksudkan untuk mendukung investasi jangka panjang, serta produk dalam pengeluaran dan tabungan. Beberapa produk ini akan mencakup setoran dan penarikan kartu debit instan.

 

Reporter: Ayesha Puri

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya