Apa Itu EBITDA? Kenali Pengertian dan Fungsinya

Oleh Agustina Melani pada 28 Jan 2022, 11:47 WIB
Diperbarui 28 Jan 2022, 11:47 WIB
Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Liputan6.com, Jakarta - Mendengar kata EBITDA mungkin tidak asing lagi bagi pelaku pasar modal termasuk investor saham. Selain laba, pendapatan, aset dan lainnya, EBITDA juga kadang disebutkan oleh manajemen perusahaan.

Meski demikian, EBITDA ini jarang ada di laporan keuangan, demikian mengutip dari laman emtrade.id, ditulis Jumat (28/1/2022). EBITDA adalah kepanjangan dari earnings before interest, tax, depreciation, and amortitation. Artinya laba sebelum bunga, pajak, Depresiasi dan amortisasi.

Mengutip laman Investopedia, EBITDA adalah mengukur kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. EBITDA digunakan sebagai alternatif untuk laba bersih dalam beberapa keadaan. Namun, EBITDA ini dinilai kurang tepat karena menghilangkan biaya investasi modal antara lain properti, pabrik dan peralatan.

Selain itu, metrik ini juga mengecualikan biaya yang terkait dengan utang dengan menambahkan kembali beban bunga dan pajak ke pendapatan. Meski demikian, EBITDA ini ukuran kinerja perusahaan yang lebih tepat karena mampu menunjukkan pendapatan sebelum pengaruh ke akuntansi.

EBITDA ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan satu sama lain dan rata-rata industri karena hilangkan efek pembiayaan dan pengeluaran modal.

Selain itu, ukuran yang baik dari tren laba inti karena menghilangkan beberapa faktor asing dan memberikan perbandingkan lebih akurat antara perusahaan.

EBITDA juga dapat digunakan sebagai jalan cepat untuk prediksi arus kas yang tersedia untuk membayar utang aset jangka panjang.

"EBITDA sering digunakan dalam rasio valuasi dan dapat dibandingkan dengan nilai dan pendapatan perusahaan,"

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Muncul pada Pertengahan 1980-an

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

Mengutip emtrade, fungsi EBITDA ini dilihat dari historisnya pertama kali muncul pada pertengahan 1980-an. Saat itu, investor lagi memeriksa deretan perusahaan yang tertekan gara-gara utang sehingga membutuhkan skema restrukturisasi. Investor memakai EBITDA untuk hitung cepat apakah perusahaan-perusahaan ini dapat kembali membayar bunga atas kesepakatan yang dibiayai ini.

"Dalam menilai perusahaan yang mampu membayar utang, jika direstrukturisasi, banyak investor menggunakan pendekatan EBITDA. Jika nilai ebitda lebih tinggi dibandingkan dengan beban bunga, berarti perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar utangnya," demikian mengutip laman emtrade.

Meski demikian, perusahaan juga cenderung menyoroti kinerja EBITDA ketka tidak memiliki laba bersih yang sangat mengesankan atau bahkan positif. EBITDA ini kadang dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian investor dan kurangnya keuntungan.

EBITDA ini pun memiliki dua rumus perhitungan yang menggunakan pendapatan operasional dan laba bersih.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Membandingkan Perusahaan dengan Rekan Lain di Industri Sama

Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

Banyak investor memakai EBITDA untuk membuat perbandingan antara perusahaan dengan struktur modal dan yurisdiksi pajak yang berbeda. Dengan asumsi, dua perusahaan sama-sama menguntungkan berdasarkan EBITDA, perbandingan seperti ini identifikasi perusahaan yang tumbuh lebih cepat dari perspektif penjualan produk.

Contohnya, jika dua perusahaan dengan struktur modal yang berbeda tetapi bisnis yang serupa. Perusahaan A memiliki EBITDA saat ini sebesar USD 20 juta dan perusahaan B memiliki EBITDA sebesar USD 17,50 juta. Seorang analis evaluasi dua perusahaan untuk menentukan mana yang memiliki valuasi paling menarik.

Dari informasi yang disajikan sejauh ini, masuk akal untuk asumsi saham perusahaan A harus diperdagangkan lebih tinggi ketimbang B. Namun, setelah biaya operasional penyusutan dan amortisasi kembali ditambahkan, bersama dengan biaya bunga dan pajak, hubungan antara kedua perusahaan lebih jelas.

Lalu EBITDA yang baik itu seperti apa?

Mengutip Investopedia, EBITDA sebagai ukuran  kinerja keuangan dan profitabilitas suatu perusahaan sehingga EBITDA lebih relatif tinggi jelas lebih baik ketimbang EBITDA lebih rendah.

Perusahaan dengan ukuran berbeda di berbagai sektor dan industri sangat bervariasi dalam kinerja keuangannya.

"Oleh karena itu, cara terbaik untuk menentukan apakah EBITDA suatu perusahaan "baik" adalah dengan membandingkan jumlahnya dengan rekan industrinya, perusahaan dengan ukuran yang sama di industri dan sektor yang sama,"

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya