Wall Street Lesu Imbas Aksi Investor Jual Saham Teknologi

Oleh Agustina Melani pada 20 Jan 2022, 05:52 WIB
Diperbarui 20 Jan 2022, 05:52 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Rabu, 19 Januari 2022. Indeks Nasdaq merosot  dari level tertinggi pada November 2021 seiring investor terus menjual saham teknologi karena lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Nasdaq susut 1,15 persen menjadi 14.340,26. Indeks Nasdaq melemah pada perdagangan Rabu membawa indeks acuan turun 10,7 persen dari rekor penutupan pada November 2021.

Indeks Dow Jones melemah 339,82 menjadi 35.028,65, terseret oleh saham Caterpillar yang melemah 3,1 persen. Indeks S&P 500 turun hampir 1 persen menjadi 4.532,76. Indeks saham kapitalisasi kecil susut 1,6 persen, dan tercatat turun ke level terendah dalam 52 minggu.

Pada perdagangan Rabu pekan ini, saham bergerak fluktuatif. Imbal hasil obligasi yang meningkat membayangi bursa saham pada 2022. Investor bersiap untuk kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS atau the Federal Reserve.

Imbal hasil treasury bertenor 10 tahun mencapai 1,9 persen sebelumnya pada Rabu pekan ini, yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2019. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun sekitar 1,5 persen pada awal 2022.

Sementara itu, indeks Nasdaq yang tergelincir dari posisi tertinggi pada November telah dipimpin oleh growth stock yang valuasinya menggelembung selama pandemi COVID-19.

Saham Peleton turun lebih dari 80 persen dari harga tertingginya. Saham Zoom Video merosot lebih dari 70 persen. Saham Moderna, DocuSign, dan PayPal merosot lebih dari 40 persen dari level tertingginya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Khawatir Lonjakan Suku Bunga

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Lonjakan suku bunga telah memukul Nasdaq yang berisi saham teknologi.  Laba perusahaan teknologi dinilai akan kurang menarik seiring suku bunga sedang naik. Perusahaan teknologi mengandalkan suku bunga pinjaman yang rendah untuk investasi dalam berinovasi.

"Investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi dan kondisi keuangan yang lebih ketat akan menyebabkan valuasi tertekan,” ujar CIO Cresset Capital Jack Ablin dilansir dari CNBC, Kamis (20/1/2022).

Wall street turun meski banyak hasil pendapatan perusahaan yang kuat. Bank of America mengalahkan perkiraan wall street. Saham Bank of America naik 0,4 persen setelah sempat merosot 3,4 persen.

Saham Morgan Stanley naik 1,8 persen setelah laba kuartal IV melampaui perkiraan. Saham Procter and Gamble melonjak hampir 3,4 persen setelah raksasa konsumen itu melaporkan pendapatan fiskal kuartal II dan pendapatan yang melampaui harapan wall street. Perusahaan menaikkan prospek pertumbuhan penjualan.

“Inflasi yang lebih tinggi telah menimbulkan kekhawatiran tentang biaya bagi perusahaan, karena margin (P&G) baik-baik saja, ini telah meredakan beberapa kekhawatiran tersebut,” ujar Chief Market Strategist Miller Tabak + Co, Matt Maley.


Gerak Saham di Wall Street

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Sementara itu, saham KB Home merosot 3,9 persen, saham Lennar turun 4,4 persen, dan saham D.R Horton susut 3,3 persen. Saham Sony melonjak 5 persen setelah Microsoft mengatakan akuisisi Activision Blizzard senilai hampir USD 69 miliar. Saham Sony turun hampir 7,2 persen.

Saat ini di wall street musim laporan keuangan. Sebagian besar perusahaan telah melaporkan kinerja melampaui harapan. Dari 44 perusahaan yang masuk indeks S&P 500, hampir 73 persen telah melampaui harapan wall street, berdasarkan FactSet.

Melonjaknya imbal hasil obligasi mendorong aksi jual saham pada Selasa pekan ini. Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun mencapai 1 persen untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya