Saham Twitter Merosot 11 persen Setelah Rilis Laporan Keuangan

Oleh Agustina Melani pada 28 Okt 2021, 15:52 WIB
Diperbarui 28 Okt 2021, 15:52 WIB
Aplikasi Twitter
Perbesar
Aplikasi Twitter. Ilustrasi: Dailydot.com

Liputan6.com, Jakarta - Saham Twitter anjlok 11 persen pada Rabu, 27 Oktober 2021, ini adalah penurunan terbesar dalam enam bulan setelah pendapatan kuartal III dan penjualan kuartal IV di bawah proyeksi Wall Street.

Saham Twitter merosot dalam enam hari, artinya menunjukkan penurunan terparah sejak Agustus. Levelnya berada di bawah tekanan dalam sesi terakhir.

Tekanan terhadap saham Twitter ini menyusul hasil kinerja keuangan perusahaan media sosial seperti Snap Inc. dan Facebook Inc. Keduanya mengalami hambatan akibat inovasi Apple Inc. terkait koleksi data konsumen.

Saham Twitter yang merosot menandakan laporan kuartalan tidak cukup meredam kekhawatiran investor tentang dampak potensial dari perubahan pelacakan privasi Apple. Bahkan ketika Twitter mengabaikan efeknya.

Beberapa analis mencatat Twitter tidak begitu terdampak perubahan Apple. Jika dibandingkan beberapa rekan yang bergantung pada iklan. Twitter lebih bergantung pada iklan merek daripada iklan tanggapan langsung.

"Kondisi saham Twitter saat ini mencerminkan adanya kekhawatiran mendasar tentang pertumbuhan atau panduan tidak akan lepas dari tantangan yang disebabkan oleh penghentian IDFA Apple dan tantangan rantai pasokan,” tulis analis Baird Colin Sebastian dalam catatan penelitian, dikutip dari laman Yahoo Finance, Kamis (28/10/2021).

Chief Financial Officer (CFO) Ned Segal menuturkan, perseroan memperluas bisnis periklanan dengan memperkenalkan topik yang dapat diikuti pengguna di Twitter. “Banyak dari ini adalah peluang yang ada di depan kita,” ujar dia.

Selesaikan Gugatan

Sementara itu, Perseroan mencatat pendapatan iklan USD 1,14 miliar pada kuartal III 2021. Adapun Twitter mencatatkan rugi bersih USD 537 juta pada kuartal III 2021. Twitter kehilangan lebih dari setengah miliar dolar AS dalam tiga bulan hingga September setelah membayar USD 809,5 juta atau sekitar Rp 11,47 triliun (asumsi kurs Rp 14.180 per dolar AS) untuk menyelesaikan gugatan yang sudah berjalan lama.

Mengutip laman BBC, raksasa media sosial itu dituduh menyesatkan investor atas keterlibatan pengguna pada 2015. Namun, terlepas dari biaya satu kali ini, pendapatan kuartalan tumbuh 37 persen karena berhasil mengabaikan dampak dari perubahan privasi Apple yang hantam saingannya seperti Snap dan Facebook.

Pada September, Twitter setuju untuk menyelesaikan class action dengan pemegang saham sejak 2016. Gugatan tersebut klaim Twitter menyesatkan investor tentang berapa banyak pengguna yang aktif di platform setiap bulan serta seberapa sering melihat timeline Twitter.

Perusahaan membantah melakukan kesalahan tetapi setuju menggunakan uang tunai untuk menyelesaikan klaim. Hal ini juga yang berdampak terhadap kinerja keuangan pada kuartal III 2021.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pasar AS Tak Lagi Bergairah

Twitter
Perbesar
Ilustrasi Twitter (Foto: Pixabay)

Investor juga mungkin kecewa dengan hasil pengguna AS stagnan dari kuartal ke kuartal. Analis Jefferies Brent Thill mengatakan lesunya pertumbuhan dapat meningkatkan kekhawatiran tentang kejenuhan pasar AS.

Saham Pinterest Inc. mengikuti jejak Twitter, jatuh lebih rendah sebanyak 5,3 persen pada Rabu, 27 Oktober 2021.

Sehingga memperpanjang kemerosotan baru-baru ini. Perusahaan dijadwalkan untuk melaporkan hasil kuartal III pada Kamis, 4 November 2021. Snap dan Facebook juga turun, masing-masing sebanyak 6,1 persen dan 1,1 persen.

 

Reporter: Ayesha Puri

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya