Bursa Saham Asia Menguat Ikuti Wall Street

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 20 Okt 2021, 08:48 WIB
Diperbarui 20 Okt 2021, 09:05 WIB
Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Rabu pagi (20/10/2021) mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang positif.

Di bursa saham Asia, indeks Jepang Nikkei naik 0,72 persen pada awal sesi perdagangan, sementara itu indeks Topix menguat 0,63 persen. Indeks Korea Selatan Kospi bertambah 0,52 persen. Indeks Australia bertambah 0,91 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,29 persen.

Investor akan mengawasi sektor properti China setelah Reuters melaporkan kalau pengembang terbesar kedua China Evergrande Group mengesampingkan rencana untuk menjual saham mayoritas dalam bisnis layanan propertinya. Demikian dilansir dari CNBC, Rabu pekan ini.

China mengumumkan suku bunga pinjaman terbarunya pada Rabu pagi ini. Mayoritas trader dan analis memperkirakan tidak ada perubahan bail dalam suku bunga dasar pinjaman (LPR) satu tahun dan lima tahun.

Di sisi lain The International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi pada 2021 untuk Asia. IMF perkirakan ekonomi di kawasan tersebut tumbuh sebesar 6,5 persen pada 2021. Pertumbuhan itu lebih rendah dari perkiraan April sebesar 7,6 persen.

Di wall street, indeks S&P 500 naik 0,74 persen ke posisi 4.519,63. Sementara itu, indeks Dow Jones menguat 198,70 poin menjadi 35.457,31. Indeks Nasdaq bertambah 0,71 persen menjadi 15.129,09.

Indeks dolar AS berada di posisi 93,80, dari posisi sebelumnya 93,6. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 114,52 per dolar AS.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penutupan Wall Street pada 19 Oktober 2021

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 19 Oktober 2021 seiring perusahaan-perusahaan besar terus melaporkan pendapatan kuartal III 2021 yang kuat. Hal ini meredakan kekhawatiran kasus COVID-19 yang terus menerus dan kenaikan biaya akan menggagalkan pemulihan laba perusahaan AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 naik 0,7 persen menjadi 4.519,63, dan alami kenaikan dalam lima hari berturut-turut. Indeks Dow Jones bertambah 198,70 poin atau 0,6 persen menjadi 35.457,31. Indeks Nasdaq bertambah 0,7 persen menjadi 15.129,09.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 kini berada di bawah satu persen dari posisi tertingginya sepanjang masa.

Saham Dow Travelers naik 1,6 persen setelah laporan pendapatan kuartalan perusahaan asuransi melampaui harapan. Johnson&Johnson juga mengalahkan harapan pendapatan kuartal III sebesar 25 sen per saham. Saham perawatan kesehatan menguat 2,3 persen.

Saham Procter and Gamble melanjutkan tren bullish dengan pendapatan lebih baik dari perkiraan, tetapi sahamnya turun. Raksasa produk konsumen itu mengatakan menaikkan harga untuk menutupi kenaikan komoditas dan biaya pengiriman. Perseroan juga memperingatkan inflasi dapat terus berlanjut.

Di sisi lain, saham Walmart naik 2,1 persen setelah Goldman Sachs menambahkan dalam daftar beli, dan menyebutkan saham itu bisa reli hampir 40 persen.

82 persen dari perusahaan S&P 500 telah melaporkan pendapatan yang mengalahkan harapan, berdasarkan FactSet. Dengan mempertimbangkan laporan dan perkiraan yang akan datang, FactSet menyebutkan pertumbuhan laba kuartal III akan mencapai 30 persen.

Laporan kinerja keuangan lainnya setelah bel termasuk Netflix dan United Airlines. Sementara itu, laporan kuat, investor mencari komentar dari perusahaan AS tentang masalah rantai pasokan dan inflasi.

“Musim laporan keuangan dimulai dengan awal yang kuat. Namun, jujur saja, COVID-19 dan masalah rantai pasokan tidak akan mempengaruhi grup ini,” ujar Chief Market Strategis LPL Financial Ryan Detrick.

Ia menambahkan, saat ini menajdi sangat menarik untuk melihat apa yang akan dikatakan industri lain tentang kesehatan pemulihan ekonomi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pelanggan Netflix

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Selain itu, Netflix memperkirakan pelanggan bersih berbayar bertambah 3,5 juta, sementara analis memperkirakan sekitar 3,84 juta, menurut StreetAccount. Analis memperkirakan panduan pelanggan kuartal IV sebesar 8,5 juta yang akan jadi prospek tertinggi sejak kuartal I 2021.

Saham Netflix telah diperdagangkan lebih rendah. Selain itu, penghasilan dari United Airlines harus memberi investor ukuran tentang pemulihan perjalanan dari pandemi COVID-19.

Chief US Equity Strategist Morgan Stanley, Mike Wilson mengatakan, koreksi di pasar yang lebih luas kepada klien meski fundamental memburuk, pasar tampaknya tahan terhadap kemunduran lebih besar.

“Apakah kita akhirnya mendapatkan langkah akhir ini pada tingkat indeks tahun ini atau tidak akan sangat bergantung pada partisipasi ritel, pesan yang dibawa oleh pendapatan kuartal III dari sudut pandang panduan dan jalur PMI hingga akhir tahun,” kata Wilson.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya