Asia Sumbang Aset Berkelanjutan Sentuh Rp 731,3 Triliun

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 15 Okt 2021, 19:42 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 19:42 WIB
20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sustainable asset atau aset berkelanjutan akan terus bertumbuh. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan sustainable investment yang signifikan.

Sejak 2018-2020, total aset berkelanjutan dunia telah mencapai USD 35,3 triliun, atau sekitar Rp 496.439,8 triliun (kurs Rp 14.063 per USD).

"Hingga 2020, sustainable asset di dunia telah mencapai USD 35,3 triliun. Kalau di Asia sendiri kami melihat pertumbuhan ini masih akan meningkat didorong oleh beberapa faktor,” ujar Direktur BNP Paribas Asset Management Maya Kamdani dalam CMSE 2021, Jumat (15/10/2021).

Adapun kontribusi Asia yakni sebesar USD 52 miliar atau Rp 731,3 triliun, atau naik 16 persen. Dalam paparannya, Maya menyebutkan faktor-faktor tersebut antara lain, pertama, makin banyak penandatanganan Principles for Responsible Investment (UN PRI) oleh negara-negara di Asia. Dari yang awalnya hanya 30 pada 2012, menjadi 294 pada 2021.

“Kemudian makin banyak dana yang masuk dalam produk invetsaisi berbasis ESG. Oleh sebab itu belakangan ini banyak muncul produk yang mengusung tema ESG karena memenuhi kebutuhan investor,” imbuhnya.

Selanjutnya, komitmen dari beberapa negara di Asia untuk mencapai net zero emission kian nyata. Seperti China yang menargetkannya pada 2060,sama seperti Indonesia. Serta Jepang dan Korea pada 2050.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penerapan ESG Makin Meluas

IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Perbesar
Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Seiring tren environment, social and governance (ESG), sejumlah sektor usaha dinilai akan sulit untuk mencatatkan pertumbuhan ke depan.

Citigroup Head of ASEAN Research, Ferry Wong menyebutkan, salah satunya sektor batu bara, meski saat ini komoditas tersebut tengah naik daun. Ferry menilai, environment, social and governance (ESG) investing di Indonesia mungkin masih sangat kecil dibandingkan negara Eropa.

Namun, penerapannya mengalami pertumbuhan, seiring kesadaran perusahaan untuk menerapkan bisnis yang berkelanjutan.

"Kalau di negara Eropa, ESG sudah berkembang cukup banyak. Kalau kita lihat selama 2-4 tahun belakangan, ESG itu sangat penting dan kita lihat sektor-sektor tertentu foreign ownershipnya turun kalau perusahaan tidak sesuai dengan ESG,” kata dia dalam CMSE 2021, Jumat, 15 Oktober 2021.

“Misalnya sektor alkohol, rokok, itu mungkin agak sulit. Dan juga batu bara,” ia menambahkan.

Di sisi lain, manajer investasi juga akan menyesuaikan portofolio yang mengacu pada perusahaan ESG, sesuai dengan kesadaran investor mengenai isu sustainability.

"Jadi mereka waktu dalam memilih perusahaan, mereka harus memilih faktor-faktor tersebut. Ini untuk sustainable financing,” kata dia.

Ferry menambahkan, ESG investing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah cukup dikembangkan karena terdapat sustainable roadmap 1 dan suistanable roadmap 2. Untuk perusahaan di sektor-sektor tertentu di Indonesia juga sudah mulai melakukan sustainable financing report.

"Jadi sudah cukup bagus terutama perusahaan-perusahaan big cap  seperti sektor perbankan, Astra International, Telkom Indonesia dan juga Barito Pacific. Dan ada beberapa mid cap mereka sudah melakukan sustainable financing report,” ujar dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya