Saham Unit Mobil Listrik China Evergrande Anjlok pada Awal Pekan

Oleh Liputan6.com pada 28 Sep 2021, 07:20 WIB
Diperbarui 28 Sep 2021, 07:20 WIB
Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Saham unit mobil listrik China Evergrande anjlok 26 persen pada Senin, 27 September 2021 setelah mendapat peringatan menghadapi masa depan yang tidak pasti yang dihadapi Evergrande mau tidak mauharus ada suntikan uang tunai sesegera mungkin.

Langkah tersebut sebagai risiko karena Evergrande tidak akan melanjutkan rencana untuk menerbitkan saham RMB. China Evergrande New Energy Vehicle Group mengeluarkan peringatan setelah pasar ditutup pada Jumat, 24 September 2021. Ini adalah tanda paling jelas krisis likuiditas pengembang properti memburuk di bagian bisnis lainnya.

Saham unit mobil listrik turun ke level 1,66 dolar Hong Kong pada awal perdagangan sebelum memangkas kerugian hingga jatuh 2,2 persen. Saham China Evergrande naik 5 persen menjadi stabil di dekat level terendah satu dekade yang mereka buat minggu lalu. Sementara itu, obligasi dolar Evergrande berada pada level tertekan.

Dalam lingkup pasar yang lebih luas, ketakutan keruntuhan Evergrande dapat mendorong krisis global. Analis Brokerage IG Markets, Kyle Rodda menilai pasar telah memperhitungkan keseimbangan probabilitas. Entah kejutan atau kekaguman yang akan diberikan perushaan pengembang itu.

“Pasar benar-benar hanya mengharapkan dari sini, sebuah perusahaan yang ditakdirkan gagal jangan sampai menimbulkan risiko besar terhadap sistem keuangan China atau penularan itu tidak menyebar ke pasar global,” ujar Rodda, dilansir dari ChannelNewsAsia, ditulis Selasa, (28/9/2021).

Evergrande melewatkan tenggat waktu pemabayaran obligasi luar dalam dolar AS pekan lalu. Sikap diamnya terkait masalah ini memicu pertanyaan di benak para investor global.

Pertanyaan yang mungkin adalah apakah mereka harus menelan kerugian besar ketika masa tenggang 30 hari berakhir. Belum usai mendapat jawaban dari ujian pertamanya, Evergrande sudah dihadapkan ujian besar lainnya di pasar utang publik.

Pengembang properti China harus membayar bunga obligasi senilai USD 47,5 juta atau sekitar Rp 677,5 miliar (estimasi kurs Rupiah dengan dolar di kisaran 14.258)  atas obligasi dolar yang memiliki bunga 9,5 persen pada Maret 2024. Pembayaran ini jatuh  tempo pada Rabu, 29 September 2021.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Evergrande Terlilit Utang Jumbo

Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Dengan kewajiban sekitar USD 305 miliar  atau sekitar Rp4.350,7 triliun-, Evergrande telah kehabisan uang tunai. Cobaan ini lantas membuat menjadi masalah perusahaan terbesar di Beijing. Ditambah dengan para investor yang gelisah akan keruntuhan yang berisiko sistemik pada sistem keuangan China.

Evergrande China dilanda kesulitan mengumpulkan dana untuk membayar pemberi pinjaman dan pemasok. Perusahaan berada di antara kehancuran yang berantakan dengan dampak yang luas, keruntuhan yang dikelola, atau kemungkinan terkecil adalah prospek bailout oleh Beijing.

 

Reporter: Ayesha Puri

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya