JP Morgan Dongkrak Investasi di Negara Berkembang dan Jepang

Oleh Liputan6.com pada 19 Sep 2021, 14:36 WIB
Diperbarui 19 Sep 2021, 14:36 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, Jakarta - Bank investasi JPMorgan meningkatkan investasi di negara emerging market atau negara berkembang dan Jepang pada September 2021. Selain itu, JPMorgan juga tetap bullish pada pasar saham ke depan.

JP Morgan telah mendorong investor untuk akumulasi saham negara berkembang setiap terjadi koreksi. Sedangkan di Jepang, pergantian perdana Menteri Jepang bakal dongkrak yek dan indeks Nikkei jika sejarah adalah segalanya.

JPMorgan juga melihat tanda-tanda gelombang varian delta COVID-19 sekarang sedang merosot. Namun, tetap pro risiko.

"Kami meningkatkan lebih banyak investasi kami (rekomendasi beli) di EM (emerging markets) dan Jepang bulan ini mengingat kinerja mereka yang kurang baik baru-baru ini dan dorongan yang diantisipasi di Jepang dari perubahan rezim politik,” ujar analis bank dalam laporan alokasi aset global, dikutip dari Antara, ditulis Minggu (19/9/2021).

Bank JPMorgan juga memandang pemulihan ekonomi berlanjut di jalurnya yang kuat dan mengembalikan produk domestik bruto (PDB) global ke lintasan sebelum krisis 2022. Oleh karena itu, pihaknya  tetap bullish pada arah pasar saham secara keseluruhan.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Survei Deutsche Bank

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Sebelumnya, mengutip Antara, pasar ekuitas global turun sebesar 5-10 persen pada akhir 2021 adalah prediksi mayoritas dalam survei sentimen pasar September yang diterbitkan oleh Deutsche Bank pada Senin,  13 September 2021 sebagai tanda terbaru dari kehati-hatian pasar perjalanan bullish ekuitas akan berakhir.

Menurut laporan survei yang dilakukan pada 7-9 September dan mencakup lebih dari 550 profesional pasar secara global, 58 persen responden mengatakan mereka memperkirakan aksi jual ekuitas pada akhir tahun.

Dibantu oleh sejumlah besar stimulus dari bank-bank sentral, saham telah melonjak dari posisi terendah yang mereka capai pada Maret 2020 ketika pandemi COVID-19 menakuti pasar dan memicu penurunan tajam dalam ekuitas.

Indeks ekuitas dunia MSCI telah naik hampir dua kali lipat sejak saat itu. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan perusahaan telah pulih lebih cepat dari yang diperkirakan, tetapi sekarang data dari Amerika Serikat dan China menunjukkan pemulihan mungkin kehabisan tenaga.

COVID-19 masih dianggap sebagai risiko terbesar terhadap stabilitas pasar, dengan 53 persen peserta survei Deutsche Bank menyatakan kekhawatiran atas varian virus baru yang melewati vaksin. Ini diikuti oleh inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Sekitar sepertiga responden (32 persen) menyebutkan pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak terwujud atau berumur pendek, dan kesalahan kebijakan bank-bank sentral, sebagai risiko terhadap stabilitas pasar.

Survei pada September juga menunjukkan bahwa kepercayaan pada inflasi sementara - seperti yang ditandai oleh bank-bank sentral - turun meskipun masih menjadi konsensus. Bank termasuk BofA, Morgan Stanley, Citi dan Credit Suisse, pekan lalu mengatakan kepada klien mereka untuk memangkas eksposur ke saham.

BNP Paribas menyebutkan dalam catatan klien pekan lalu bahwa mereka memperkirakan indeks S&P 500 berada pada level saat ini pada akhir tahun.

"Mengingat risiko pajak dan suku bunga yang lebih tinggi, kami secara luas netral pada ekuitas AS dan melihat lebih banyak kenaikan di saham Eropa," kata BNP Paribas.

Deutsche Bank juga mensurvei para profesional pasar tentang niat mereka untuk kembali bekerja setelah pandemi dan menemukan sekitar satu dari lima orang masih belum kembali ke kantor mereka sejak Maret 2020, ketika pandemi memicu penguncian secara global. Jumlah ini bahkan lebih rendah di Amerika Serikat pada satu dari tiga orang, kata Deutsche Bank.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya