Top 3: Jurus Jitu Susun Portofolio Saham Supaya Cuan

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 19 Sep 2021, 10:50 WIB
Diperbarui 19 Sep 2021, 10:51 WIB
(Foto: Ilustrasi investasi saham. Dok Unsplash/Austin Distel)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi investasi saham. Dok Unsplash/Austin Distel)

Liputan6.com, Jakarta - Investasi di pasar modal menjanjikan keuntungan menarik. Namun, jika salah langkah, harga saham yang anjlok bisa menjadi pukulan telak dan bisa menghancurkan kondisi finansial seorang investor. Untuk memitigasi risiko tersebut, investor dianjurkan untuk cermat dalam menyusun portofolio sahamnya.

Lebih dari lima tahun berkecimpung di pasar modal, Co-Founder & Chief Marketing Officer Ternak Uang Timothy Ronald berbagi tips untuk menyusun portofolio di pasar modal agar dapat cuan. Pertama, ia mengatakan investor tidak harus selalu mengikuti teori.

Bagi seseorang yang baru akan memulai terjun di pasar modal, sudah menjadi hal yang wajar apabila langkah mereka berpijak pada teori-teori dalam dunia saham.

Artikel jurus jitu susun portofolio saham supaya cuan menyita perhatian pembaca di saham. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di saham? Berikut tiga artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Minggu, (19/9/2021).

1.Jurus Jitu Susun Portofolio Saham Supaya Cuan

Investasi di pasar modal menjanjikan keuntungan menarik. Namun, jika salah langkah, harga saham yang anjlok bisa menjadi pukulan telak dan bisa menghancurkan kondisi finansial seorang investor. Untuk memitigasi risiko tersebut, investor dianjurkan untuk cermat dalam menyusun portofolio sahamnya.

Lebih dari lima tahun berkecimpung di pasar modal, Co-Founder & Chief Marketing Officer Ternak Uang Timothy Ronald berbagi tips untuk menyusun portofolio di pasar modal agar dapat cuan. Pertama, ia mengatakan investor tidak harus selalu mengikuti teori.

Bagi seseorang yang baru akan memulai terjun di pasar modal, sudah menjadi hal yang wajar apabila langkah mereka berpijak pada teori-teori dalam dunia saham.

Berita selengkapnya baca di sini

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

2.Sejarah Indosat, Dikenal Melalui IM3 hingga Merger dengan Tri

Indosat Ooredoo
Perbesar
Ilustrasi Indosat Ooredoo (Foto: Indosat Ooredoo)

Ooredoo QSPC dan CK Hutchison Holdings Limited menandatangani kesepakatan merger untuk pengajuan penggabungan bisnis telekomunikasi masing-masing di Indonesia yaitu PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I).

Perusahaan hasil merger ini akan bernama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison) dan masih akan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada akhir transaksi, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan secara bersama-sama oleh perusahaan induk masing-masing, yakni Ooredoo Group dan CK Hutchison melalui Ooredoo Hutchison Asia, nama baru Ooredoo Asia.

CK Hutchison akan mendapatkan 50 persen saham dari Ooredoo Asia, dengan menukar 21,8 persen sahamnya di Indosat Ooredoo Hutchison untuk 33 persen saham di Ooredoo Asia.

Berita selengkapnya baca di sini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3.S&P Global Paparkan Risiko Bitcoin Jadi Alat Pembayaran di El Salvador

Tolak Bitcoin, Warga El Salvador Bakar ATM Uang Kripto
Perbesar
Seorang pria melintasi mesin ATM bitcoin bernama Chivo yang dibakar dalam protes terhadap Presiden Nayib Bukele di San Salvador, El Salvador, Rabu (15/9/2021). Ribuan warga Salvador berdemonstrasi menentang bitcoin, yang disahkan sebagai alat pembayaran oleh pemerintah. (AP Photo/Ivan Manzano)

El Salvador, salah satu negara yang adopsi bitcoin jadi alat pembayaran sah. Lembaga pemeringkat S&P Global menilai langkah El Salvador tersebut berdampak negatif.

Banyak risiko yang harus ditanggung El Salvador atas tindakan pengadopsian bitcoin. S&P Global menyatakan, risiko utama adalah dapat mengancam harapan El Salvador terkait dukungan program dari Badan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund), naiknya kerentanan fiskal hingga merugikan bank-bank di negara tersebut. Hal itu terjadi

karena tercipta ketidaksesuaian mata uang ketika mereka memberikan pinjaman dalam hal ini berkaitan dengan uang tunai dan saat pembayaran pinjaman dalam bentuk bitcoin.

Berita selengkapnya baca di sini

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya