Wall Street Beragam Imbas Kekhawatiran Varian Delta COVID-19

Oleh Agustina Melani pada 03 Agu 2021, 06:14 WIB
Diperbarui 03 Agu 2021, 06:15 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street beragam pada perdagangan Senin, 2 Agustus 2021. Wall street yang mengalami tekanan seiring kekhawatiran varian delta COVID-19 dan puncak pertumbuhan ekonomi membebani hasil laba yang kuat.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 97,31 poin atau 0,28 persen menjadi 34.831,16. Indeks S&P 500 susut 0,18 persen menjadi 4.387,16. Indeks Nasdaq naik 0,06 persen ke posisi 14.681,07. Indeks Dow Jones sempat sentuh rekor intraday baru sebelum kehilangan tenaga di wall street.

Wall street yang merosot pada awal pekan juga terjadi lantaran imbal hasil surat berharga AS dan harga minyak turun. Ini menandakan beberapa investor mungkin khawatir tentang pertumbuhan ekonomi bahkan ketika hasil kinerja keuangan menunjukkan kekuatan.

"Pasar mengalami kesulitan mengambil keputusan karena investor mencari katalis berikutnya di dua arah,” ujar Analis Canaccord Genuity, Tony Dwyer dalam sebuah catatan kepada klien, dilansir dari CNBC, Selasa (3/8/2021).

Ia menambahkan, ketakutan atas varian Delta COVID-19 dan sisi lain dari “puncak segalanya” membuat investor gelisah. Sementara dukungan moneter dan fiskal untuk ekonomi ditambah dengan pendapatan yang kuat secara historis membuat likuiditas tetap tinggi.

Imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun turun menajdi sekitar 1,17 persen, menempatkannya pada posisi terendah baru-baru ini pada pertengahan Juli 2021. Imbal hasil obligasi ini berbalik dengan harga.

Pergerakan imbal hasil surat berharga AS itu juga dibayangi indeks manajer pembelian Institute for Supply Management turun sedikit pada Juli, dan memperkuat beberapa kekhawatiran tentang puncak pertumbuhan ekonomi.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mulai Kembali Perketat Protokol Kesehatan

Ilustrasi pakai masker | Maksim Goncharenok dari pexels
Perbesar
Ilustrasi pakai masker | Maksim Goncharenok dari pexels

Chief Fixed Income Strategist Charles Schwab, Kathy Jones menuturkan, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi dan varian delta dapat menjadi alasan imbal hasil surat berharga bergerak lebih rendah. Akan tetapi, hal itu masih tidak dapat menjelaskan level obligasi saat ini.

“Saya pikir seluruh dunia mengharapkan imbal hasil untuk naik, dan mungkin itu sebabnya mereka tidak bisa,” ujar dia.

Di sisi lain AS mencatat rata-rata lebih dari 63.000 kasus COVID-19 sehari dalam tujuh hari terakhir, berdasarkan data CDC terbaru, mendekati level tertinggi sejak April 2021.

Pemerintah daerah dan perusahaan mulai memberlakukan aturan baru termasuk Target yang mewajibkan masker untuk pekerja di daerah berisiko tinggi. Selain itu, Equinox yang mewajibkan bukti vaksinasi untuk anggota dan staf gym.

Pejabat di San Francisco membawa kembali mandat masker pada pekan ini. Sementara pejabat di New York mendorong warga untuk memakai masker di dalam ruangan, bahkan jika mereka telah divaksinasi sepenuhnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sentimen Positif di Wall Street

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Saham-saham perjalanan paling terpukul oleh pembatasan kesehatan baru termasuk maskapai besar, bergerak lebih rendah pada Senin sore, 2 Agustus 2021. Namun, indeks utama masih diperdagangkan mendekati level tertinggi sepanjang masa bahkan ketika kekhawatiran tentang varian delta berkembang.

Pendiri Sevens Report, Tom Essaye memberikan dua catatan mengenai pasar saham. Pertama, pasar saham didorong oleh hasil kinerja keuangan perusahaan. Kedua, perkembangan kasus COVID-19 mulai berdampak negatif. “Saham dapat tetap tangguh,” ujar dia.

Salah satu sumber optimisme pada awal pekan ini dari Washington ketika para senator memperkenalkan RUU Infrastruktur bipartisan. RUU tersebut mencakup USD 550 miliar dalam pengeluaran selama lima tahun. Sebelumnya data yang disetujui sekitar USD 45 miliar.

Saham infrastruktur termasuk Caterpillar, melonjak ketika pasar saham dibuka tetapi berubah negatif pada sesi selanjutnya.

Salah satu pemain top di wall street adalah Square yang sahamnya naik lebih dari 10 persen setelah perusahaan pembayaran Jack Dorsey itu melaporkan kesepakatan USD 29 miliar untuk membeli penyedia pinjaman angsuran Australia Afterpay.

Square juga melaporkan pendapatan kuartal II dengan menyampaikan laba kotr naik 91 persen dari tahun ke tahun. Aplikasinya memiliki 40 juta pelanggan aktif bulanan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kinerja Indeks Acuan

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Selain itu, saham Tesla naik 3,3 persen. Musim laporan keuangan dengan hasil yang kuat secara keseluruhan terus menjadi penarik bagi pasar.

Sejauh ini, 88 persen dari perusahaan S&P 500 melaporkan telah melampaui perkiraan earning per share. Pada kuartal II, S&P 500 berada di jalur untuk mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 85,1 persen yang menjadi tingkat pertumbuhan terbaik sejak 2009.

Adapun indeks S&P 500 mencatat kenaikan enam bulan berturut-turut pada Juli meskipun volatilitas meningkat di tengah kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi dalam menghadapi varian delta COVID-19 yang menyebar.

Ini adalah kemenanganan beruntun bulanan terbarik sejak 2018. Indeks Nasdaq dan Dow Jones masing-masing naik 1,2 persen dan 1,3 persen. Indeks S&P 500 menguat 2,3 persen pada Juli 2021.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya