Penghimpunan Dana Lewat Rights Issue Melonjak hingga Juli 2021, Ini Alasannya

Oleh Agustina Melani pada 02 Agu 2021, 12:48 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 12:48 WIB
20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444,04-AY2
Perbesar
Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelaksanaan rights issue atau penawaran umum terbatas mencapai Rp 35,7 triliun hingga Juli 2021. Pelaksanaan rights issue itu berasal dari 16 perusahaan.

“Dilihat dari nilainya, rights issue mengalami peningkatan signifikan sebesar 302 persen dibandingkan periode Juli 2020 sebanyak 8 perusahaan tercatat dengan nilai Rp 8,9 triliun,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Senin (2/8/2021).

Nyoman menuturkan, penghimpunan dana melalui rights issue alami kenaikan seiring banyak bank yang melaksanakan rights issue dalam rangka peningkatan modal. Hal ini sebagai bagian dari salah satu upaya pemenuhan POJK Nomor 12/POJK.03/2020 tentang konsolidasi bank umum.

Adapun 62 persen dari total nilai rights issue periode Juli 2021 berasal dari sektor perbankan. Penyebab lain dari peningkatan pelaksanaan rights issue jika dikaitkan dengan pemakaian dana untuk ekspansi usaha.

"Untuk pemenuhan modal kerja, refinancing utang dan beberapa perusahaan berencana melakukan ekspansi usaha,” kata dia.

Hingga kini, BEI masih menunggu pelaksanaan rights issue dari 42 perusahaan tercatat dalam pipeline yang akan rights issue pada 2021.

Hal senada dikatakan Analis PT Sucor Securitas Hendriko Gani. Hendriko mengatakan, emiten menggelar rights issue untuk keperluan belanja modal. Selain itu, ia menuturkan, sejumlah bank juga akan menerapkan bank digital sehingga menambah modal untuk memenuhi kriteria modal minimum dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Bisa buat memperbaiki struktur modal atau memenuhi ketentuan modal minimum kalau untuk bank,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Hendriko menuturkan, rights issue masih marak pada semester II 2021, tetapi tidak terlalu signifikan dibandingkan semester I 2021.

Sebelumnya sejumlah bank sudah melakukan rights issue antara lain PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Harda Tbk, PT Bank IBK Indonesia Tbk, PT Adi Sarana Armada Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk dan lainnya.

Adapun sejumlah emiten yang akan melakukan rights issue antara lain PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Mahaka Media Tbk, PT Weha Transportasi Indonesia Tbk, PT Diamond Citra Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT MNC Investama Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Data OJK

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penghimpunan dana di pasar modal hingga 27 Juli 2021 telah mencapai nilai Rp116,6 triliun atau meningkat 211 persen dari periode yang sama tahun lalu, dengan 27 emiten baru yang melakukan IPO.

Ada juga penawaran umum yang dalam proses dari 86 emiten dengan nilai nominal sebesar Rp54,2 trliun.  IHSG hingga 23 Juli 2021 tercatat menguat ke level 6,102 atau tumbuh 1,9 persen mtd dengan aliran dana nonresiden tercatat masuk sebesar Rp2,02 triliun.

 Pasar SBN juga terpantau menguat dengan rerata yield SBN turun 13,5 bps di seluruh tenor. Namun, investor nonresiden tercatat net sell sebesar Rp11,73 triliun.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya