Mengintip Prospek IHSG hingga Akhir 2021

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 01 Agu 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 07:14 WIB
Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Pekerja bercengkerama di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada sisa tahun ini, meski pandemi COVID-19 masih berlangsung.

Secara teknikal, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 6.245 - 6.400.

"Estimasi target IHSG pada 6.245 - 6.400,” ujar dia kepada Liputan6.com, ditulis Minggu (1/8/2021).

Sentimen Pengaruhi IHSG pada Semester II

Pada semester II-2021 ini, William menilai pasar akan lebih fokus pada kinerja emiten. Termasuk penyesuaian tata kelola Perusahaan sepanjang pandemi berlangsung, yang akan tercermin dari laporan keuangan perusahaan terbuka.

"Semester II akan terfokus pada kinerja emiten untuk evaluasi apakah emiten di indonesia sudah mempersiapkan diri terhadap pandemi yang belum selesai ini atau tidak, dengan melakukan efisiensi. Hasil akhirnya adalah pada laporan keuangan, apakah masih mampu bertumbuh atau turun tipis," ujar William.

IMF atau Dana Moneter Internasional kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2021 diprediksi berkisar 3,9 persen (yoy) dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,3 persen.

Namun begitu, William menilai pemangkasan tersebut tak bisa jadi acuan untuk pergerakan IHSG. Mengingat prediksi dan pemangkasan dapat berubah sewaktu-waktu.

"Pemangkasan dan proyeksi tersebut bisa berubah kapan saja sesuai kondisi. Jadi menurut saya tidak bisa jadi acuan untuk mengukur IHSG," ujar dia.

Di sisi lain, William menyebutkan pergerakan dolar Amerika Serikat juga turut diperhatikan karena pasar masih mewaspadai taper tantrum.

Sektor Saham Pilihan

Untuk sektor yang menarik di sisa tahun ini, William menyebutkan di sektor metal ada ISSP, BAJA, dan KRAS. Sektor teknologi ada MTDL dan EMTK. Komoditas ada INCO, ANTM, TINS, ADRO, ITMG, serta consumer goods CLEO, GOOD, dan HOKI.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Riset NH Korindo Sekuritas

Pergerakan IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% atau 33,67 poin ke level 5.116,66 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam riset terbaru NH Korindo Sekuritas (NHKSI), pergerakan IHSG pada sisa tahun ini akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen penting. Sentimen itu antara lain penanganan pandemi COVID-19, progres vaksinasi, perubahan pembobotan pada indeks saham, dan rencana IPO dari beberapa calon emiten besar.

"NHKSI mempertahankan target IHSG akhir tahun 2021 pada level 6.800," seperti dikutip dari laman resmi NHKSI.

Adapun saham-saham pilihan NHKSI untuk semester II-2021, termasuk sektor saham erbankan BBRI dan BMRI, sektor infrastruktur ada TLKM, EXCL, TOWR, dan PTPP. Kemudian sektor konsumer siklikal dan non-siklikal ERAA, MNCN, JPFA, dan untuk bahan baku dasar pilihannya adalah ANTM.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penanganan Pandemi COVID-19 Jadi Perhatian Pasar

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pihaknya masih tetap mempertahankan target IHSG akhir 2021 di posisi 6.320.

"Level 7.221 untuk skenario bullish, dan 5.651 untuk skenario bearish,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Herditya menuturkan, investor sedang mencermati perkembangan ekonomi glonal dan kebijakan moneter yang akan dilakukan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed). Pasar saham juga dipengaruhi oleh perkembangan penanganan COVID-19 baik global dan domestik.

Sedangkan untuk sektor saham pilihan, Herditya masih memilih sektor saham tambang dan perawatan kesehatan. Sektor saham itu jadi pilihan lantaran harga komoditas diprediksi masih berpotensi naik. “Diperkirakan sektor healthcare juga masih diuntungkan dari pandemi ini,” ujar dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Proyeksi IHSG dari OCBC NISP

FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sepanjang Juni, IHSG bergerak agak sideways di kisaran 5,950 – 6,100, menutup bulan hanya dengan kenaikan 0.64 persen. Dalam catatan monthly market outlook oleh Bank OCBC NISP, ancaman terbesar saat ini bagi pasar saham adalah kemungkinan adanya lockdown secara penuh, sementara pemerintah berusaha keras untuk menghindari hal tersebut. Dengan lonjakan kasus baru harian bulan lalu, investor mengambil lebih banyak sikap wait & see daripada sikap panic selling.

"Ke depan, investor yang tenang dan oportunistik akan mencari saham pada sektor-sektor yang kurang baik pada bulan Juni. Seperti transportasi & logistik (-6,72 persen), properti & real estat (-5,54 persen), dan non-cyclicals konsumen (-3,39 persen),” beber Wealth Management Head, Bank OCBC NISP, Juky Mariska dalam laporan tersebut.

Senada dengan riset NHKSI, monthly market outlook oleh Bank OCBC NISP juga melihat rencana IPO sejumlah perusahaan akan menjadi perhatian pasar. IPO yang direncanakan untuk GoTo dan Bukalapak dinilai akan menjadi fokus investor karena akan menjadi ujung tombak revolusi teknologi di Indonesia, membantu menggeser ekonomi lama ke ekonomi baru.

“Kami masih melihat adanya upside di pasar saham dengan proyeksi akhir tahun 6.400 – 6.800,” sebut Juky.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya