Bank Mega Catat Kenaikan Laba Bersih 32 Persen pada Semester I 2021

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 30 Jul 2021, 20:50 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 20:51 WIB
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mega Tbk (MEGA) mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp 1,56 triliun pada semester I-2021, atau tumbuh 32 persen dibandingkan periode yang sama di 2020.

Merujuk laporan keuangan Bank Mega dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/7/2021), laba tersebut berasal dari dua segmen. Yakni pendapatan bunga bersih atau net interest income naik 23 persen menjadi Rp 2,4 triliun pada semester I-2021, dibandingkan posisi Rp 1,98 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pendapatan bersih operasional lainnya tercatat sebesar Rp 1,04 triliun. Setelah dikurangi beban operasional lainnya, diperoleh laba sebelum pajak sebesar Rp 1,94 triliun.

Pada periode yang sama, Bank Mega telah menyalurkan kredit sebesar Rp 52,46 triliun. Dari sisi aset Perseroan tercatat sebesar Rp 115,87 triliun, naik dibandingkan akhir 2020 sebesar Rp 112,20 triliun. Serta liabilitas yang naik dari Rp 94 triliun di akhir 2020, menjadi Rp 98,88 per Juni 2021.

Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menjelaskan, kenaikan aset dan liabilitas tersebut pada akhir kuartal II-2021, giro pada Bank Indonesia jumlahnya mencapai Rp 5,52 triliun, meningkat sebesar 151,76 persen dibandingkan akhir 2020 yang sebesar Rp 2,2 triliun.

Peningkatan tersebut karena peraturan terbaru dari Bank Indonesia terkait perhitungan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dalam pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penempatan pada BI dan Bank Lain

Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Selanjutnya, penempatan pada Bank Indonesia (BI) dan bank lain. Penempatan pada BI dan bank lain pada akhir kuartal II-2021 jumlahnya mencapai Rp 3,03 triliun, menurun sebesar 22,93 persen dibandingkan akhir 2020 yang sebesar Rp 3,93 triliun. Penurunanan terbesar berasal dari penempatan pada BI yang menurun dari Rp 2,91 triliun menjadi Rp 2,51 triliun pada akhir kuartal II-2021.

Lalu efek-efek pada akhir kuartal II-2021 jumlahnya mencapai Rp 38,16 triliun, meningkat sebesar 38,44 persen dibandingkan akhir 2020 yang sebesar Rp 27,57 triliun. Peningkatan terbesar berasal dari obligasi pemerintah yang meningkat dari Rp 23,42 triliun menjadi Rp 37,11 triliun pada akhir kuartal II-2021.

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali pada akhir kuartal II-2021 mengalami penurunan sebesar 71,66 persen dari Rp 18,82 triliun menjadi Rp 5,33 triliun.

Penurunan terjadi karena efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali tersebut telah jatuh tempo dan merupakan obligasi pemerintah yang dibeli terbesar dengan Bank Indonesia. Kemudian, pada akhir kuartal II-2021 tagihan derivatif mengalami penurunan sebesar 24,38 persen yaitu dari Rp 110,86 miliar menjadi sebesar Rp 83,83 miliar pada akhir kuartal II-2021.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Gerak Saham MEGA

FOTO: IHSG Akhir Tahun Ditutup Melemah
Perbesar
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Juli 2021, saham PT Bank Mega Tbk (MEGA) melemah 0,32 persen ke posisi Rp 7.875 per saham. Saham MEGA dibuka stagnan di posisi Rp 7.900.

Saham MEGA berada di level tertinggi Rp 7.975 dan terendah Rp 7.800 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 26 kali dengan volume perdagangan 56. Nilai transaksi saham MEGA Rp 44,1 juta.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya