WIKA Garap Infrastruktur Bandara Hang Nadim Batam, Ini Keuntungannya

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 27 Jul 2021, 18:57 WIB
Diperbarui 27 Jul 2021, 18:58 WIB
Logo PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).
Perbesar
Logo PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengumumkan rencana untuk menjalankan kegiatan usaha kebandarudaraan. Termasuk investasi pada Bandara Hang Nadim, Batam, dengan masa pengelolaan 25 tahun.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (27/7/2021), Perseroan menyampaikan rencana tersebut setelah memperoleh penunjukkan dari Panitia Pengadaan Proyek KPBU Bandara Hang Nadim di bawah Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP Batam).

Wijaya Karyaakan melaksanakan kegiatan manajemen infrastruktur bandara dan penunjangnya. Perseroan bersama PT Angkasa Pura I dan Incheon International Airport Corporation telah membentuk konsorsium AP1 - IIAC - WIKA, yang ditetapkan sebagai pemenang lelang proyek kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) Bandar Udara Hang Nadim.

Selanjutnya, konsorsium diwajibkan untuk membentuk perusahaan patungan atau badan usaha pelaksana (BUP) untuk menjalankan kegiatan usaha di bidang kebandarudaraan.

Dengan penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan berpotensi memperoleh omzet kontrak (OK) konstruksi atas hak right to match. Selain itu, juga berpotensi meraih pendapat recurring selama masa kerjasama. Terdapat pula potensi aset recycling setelah COD dengan nilai lebih besar dari PBV. Serta memperoleh transfer pengetahuan dalam bisnis aviasi.

Perseroan menyatakan akan menjalankan kegiatan usaha di bidang kebandarudaraan dalam rangka pengembangan usahanya. Hal ini melihat potensi usaha bandar udara memiliki fungsi sebagai akses perhubungan internasional yang pengelolaannya diharapkan dapat menambah portofolio proyek strategis bagi perseroan.

Wijaya Karya perkirakan net present value dari proyeksi dividen yang akan diterima oleh perseroan berdasarkan rencana porsi kepemilikan 19 persen adalah Rp 523,27 miliar atau rata-rata Rp 158,66 miliar per tahun selama masa proyeksi 25 tahun.

Dalam laporan pendapat kelayakan oleh penilai independent KJPP Doli Siregar (KJPP DSR)  berdasarkan analis perhitungan dan data-data yang diterima, studi kelayakan investasi perseroan layak dengan syarat semua asumsi-asumsi selama proyeksi dapat terpenuhi.

Selanjutnya, rencana ini dimintakan restu pemegang saham Perseroan pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan digelar 2 September 2021.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Gerak Saham WIKA

Akhir 2019, IHSG Ditutup Melemah
Perbesar
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Juli 2021, saham WIKA turun 1,01 persen ke posisi Rp 985 per saham. Saham WIKA dibuka naik 10 poin ke posisi Rp 1.005 per saham.

Saham WIKA berada di level tertinggi Rp 1.025 dan terendah Rp 980 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.177 kali dengan. Volume perdagangan 537.000 dan nilai transaksi Rp 53,6 miliar.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya