Dana Kelolaan Investasi Berkelanjutan Sentuh Rp 2,54 Triliun pada Semester I 2021

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 27 Jul 2021, 16:32 WIB
Diperbarui 17 Agu 2021, 10:53 WIB
Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas di Jakarta, Rabu (14/11). Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin atau 0,39% ke 5.858,29. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat peningkatan investasi berkelanjutan di pasar modal Indonesia. Pada akhir 2020, total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) mencapai Rp 3,06 triliun. Hingga semester I 2021, total dana kelolaan sudah mencapai Rp 2,54 triliun.

"Ada berbagai green bonds yang sudah terbit. Indonesia per tahun ini masih jadi yang terdepan. Di mana jumlah nilai outstanding dari green bonds kita itu melampaui nilai outstanding green bonds negara lain di ASEAN," ungkap Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi dalam Emiten Expose 2021 - Prospek Cerah Emiten Peduli ESG, Selasa (27/7/2021).

Hasan menuturkan, peningkatan juga terjadi pada aset yang underlinenya adalah emiten dengan praktik ESG yang baik. Jumlah reksadana dan ETF yang underline nya adalah indeks berbasis emiten ESG, juga meningkat tajam dalam tiga tahun belakangan.

"Saat ini tidak kurang ada 15 pilihan reksa dana dan ETF dengan asset under management yang bahkan di akhir tahun lalu sempat melampaui angka Rp 3 triliun," kata Hasan.

Hasan menilai, hal itu sebagai respons para penerbit reksa dana dan ETF dalam menjawab tuntutan investor terkait ESG.  Hasan mengakui, ESG mau tak mau sudah jadi tren yang mempengaruhi keputusan investasi investor.

"Para investor kita yang memang trennya semakin hari semakin menjadikan ESG sebagai pertimbangan tujuan investasinya,” pungkas Hasan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Minat Investor untuk Suistanability Bond Masih Tinggi

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Mandiri Sekuritas (Mansek) mencatat permintaan sustainability corporation bonds masih akan tinggi. Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas Harold Tjiptadjaja mengatakan, hal ini merujuk pada perilaku investor di beberapa negara yang menyoroti isu Environmental, Social, and Governance (ESG). Ia menuturkan, sisi minat sangat menarik seiring permintaan dari sustainability corporate bond makin banyak dariluar.

Harold menambahkan, hal itu sejalan dengan tren global. Sustainability corporate bond jadi salah satu pembeda untuk beberapa perusahaan agar lebih terlihat dibandingkan perusahaan lain.

"Kita lihat demand itu makin besar. investor makin lihat itu sebagai diferensiator. Misalnya investor Europe itu sangat sensitif dengan isu ESG. Ini akan jadi diferensiator, bagaimana perusahaan bisa standout dibandingkan perusahaan yang lain,” kata dia, Rabu 21 Juli 2021.

Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan itu, Harold mengatakan tantangan lainnya yakni perusahaan harus mampu merepresentasikan ESG dalam bisnis perseroan. Salah satunya seperti dari sisi profil risiko.

"Kita expect bahwa kalau perusahaan lakukan effort yang lebih untuk ESG ini semoga bisa ditranslasi dengan perbaikan dari risk profile,” kata dia.

Bank Mandiri (BRI) sebelumnya juga telah menerbitkan sustainability corporation bonds yang mengalami oversubscribe. 

Dengan nilai USD 300 juta, penerbitan sustainability bond itu menerima demand order lebih dari USD 2,5 miliar pada saat proses book building. Sehingga terdapat kelebihan permintaan (oversubscription) lebih dari 8,3 kali dari rencana jumlah bond yang diterbitkan. Hal ini menunjukkan persepsi positif dari investor asing terhadap kinerja dan prospek bisnis Bank Mandiri ke depan.

"Transaksi sustainability corporate bond oleh Bank Mandiri sizenya USD 300 juta. Tapi orderbook itu sampai USD 2,5 miliar. Ini menunjukkan bahwa risk profile dari Bank Mandiri sangat menarik,” kata Harold.

Per 30 Juni 2021, Investment Banking Mandiri Sekuritas telah menyelesaikan 15 penjaminan obligasi rupiah (IDR Bonds) dan 7 penjaminan global bond. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya