Ada 26 Pencatatan Saham Baru, Total 738 Perusahaan Tercatat di BEI

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 27 Jul 2021, 13:08 WIB
Diperbarui 27 Jul 2021, 13:09 WIB
BEI Pamer Jumlah Emiten Baru Pecah Rekor
Perbesar
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi memamarkan penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (28/12). Inarno mengatakan, jumlah etimen tahun 2018 tertinggi sejak privatisasi BEI pada tahun 1992. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan jumlah investor pasar modal hingga semester I 2021. BEI mencatat hingga Juni 2021, terdapat 5,6 juta investor baru, atau naik 44 persen dibanding akhir 2020. Per juni 2021 terdapat 5,6 juta investor atau naik 44 persen dibanding akhir tahun lalu.

"Serta terdapat 26 pencatatan saham baru sehingga secara total terdapat 738 perusahaan tercatat di bursa efek," ujar Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi dalam ESG Capital Market Summit 2021, Selasa (27/7/2021).

Adapun data per 23 Juli 2021, BEI mengantongi 26 emiten yang berada di pipeline IPO. Pada Selasa, 27 Juli 2021, satu emiten dari pipeline IPO Bursa melakukan debutnya.

PT Trimegah Karya Pratama Tbk atau Ultra Voucher catatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham UVCR.

Dengan capaian itu, Inarno menilai pandemi COVID-19 tak berimbas banyak pada pasar modal. Hal itu juga tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat tumbuh 2,05 persen ytd per 23 Juli 2021. "Sampai 23 Juli 2021 IHSG tercatat tumbuh 2,05 persen secara year to date,” kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pencatatan Penyaluran Kredit dan Pembiayaan Berwawasan Hijau

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Perbesar
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya Ketua OJK Wimboh Santowo menuturkan, penyaluran kredit dan pembiayaan kepada sektor ekonomi berorientasi hijau lebih dari Rp 800 triliun. Hal ini sejalan dengan respons berbagai stakeholder atau pemangku kepentingan terkait sejumlah kebijakan OJK untuk akomodasi instrument keuangan berwawasan lingkungan.

"Berbagai stakeholder telah merespons kebijakan OJK melalui berbagai inisiatif, yaitu terbentuknya inisiatif keuangan berkelanjutan Indonesia,” ujar dia,

Saat ini ada 13 bank dan PT SMI telah bergabung dalam inisiatif keuangan berkelanjutan Indonesia untuk mendukung implementasi keuangan berkelanjutan.

Bank-bank tersebut antara lain; BNI, BRI, BCA Bank Mandiri, Bank Muamalat, BSI, Bank BJB, Bank Artha Graha, Bank Panin, CIMB Niaga, HSBC, OCBC NISP, dan Maybank.

Kemudian ada penerbitan green bonds di Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar USD 500 miliar, PT BRI USD 1,92 miliar, dan PT Bank Mandiri USD 300 juta.

Dari sisi indeks, indeks SRI-Kehati telah digunakan oleh lebih dari 11 manajer investasi (MI) untuk terbitkan reksa dana ESG, dengan dana kelolaan mencapai Rp 2,5 triliun. Bursa sendiri telah meluncurkan ESG LEader Index untuk mengakomodasi reksa dana ESD dan Exchange Trade Fund.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya