Kasus Positif COVID-19 Mengganas, Bagaimana Efeknya ke IHSG?

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 23 Jul 2021, 18:54 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 18:55 WIB
Pergerakan IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% atau 33,67 poin ke level 5.116,66 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya mengatakan, rumah sakit berpotensi mendulang lebih banyak pendapatan dari rawat inap pasien COVID-19.

"Kinerja rumah sakit akan terbantu dengan kasus COVID-19 yang meroket di Indonesia. Rumah sakit yang menangani COVID-19 akan mendapatkan pendapatan lebih dari rawat inap 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan pasien non-covid," kata dia dalam webinar Market Outlook Mirae Asset Sekuritas, Jumat (23/7/2021).

Sebagai gambaran, Hariyanto mengatakan, orang yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 rata-rata selama 7 hari. Lebih lama dibandingkan pasien non-COVID 19 dengan durasi rawat inap rata-rata 3 hari.

"Selain itu, katalis jangka pendek untuk rumah sakit adalah pendapatan kuartalan mereka yang kuat," ujar dia.

Di sisi lain, Hariyanto mengatakan naiknya angka COVID-19 ini tidak akan memberikan pukulan berarti bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal itu merujuk pada kondisi pasar modal India saat terjadi ledakan kasus COVID-19. Hariyanto menuturkan, indeks saham India saat itu relatif stabil, bahkan cenderung naik.

"Walaupun tren COVID-19 seandainya capai 100 ribu kasus per hari, saya percaya IHSG tidak akan collapse. Walaupun volatilitas mungkin akan lebih tinggi tapi tidak collapse,” ujar dia.

Ia menambahkan, hal itu dengan melihat kondisi pasar saham di Indonesia relatif stabil. “Kalau belajar dari India, di April hingga Mei kasusnya naik. Tapi kalau lihat tren indeks saham di India relatif stabil bahkan cenderung naik,” ujar dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penutupan IHSG pada 23 Juli 2021

IHSG Dibuka di Dua Arah
Perbesar
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah menjelang akhir pekan ini.  Pada penutupan perdagangan Jumat, (23/7/2021), IHSG merosot 0,58 persen ke posisi 6.101.

Indeks saham LQ45 susut 1,32 persen ke posisi 845,71. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan. Sebanyak 277 saham melemah sehingga menekan IHSG. 191 saham menguat dan 172 saham diam di tempat.

Menjelang akhir pekan ini, IHSG berada di posisi tertinggi 6.166,30 dan terendah 6.090,60. Total frekuensi perdagangan 1.367.738. Total volume perdagangan 23,2 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 12,4 triliun. Investor asing jual saham Rp 162,5 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.506.

Sebagian besar sektor saham melemah kecuali indeks sektoral IDXsiklikal naik 1,27 persen, indeks sektoral IDXproperti mendaki 0,20 persen, indeks sektoral IDXtekno menanjak 0,59 persen dan indeks sektoral IDXtransportasi menguat 2,43 persen.

Sementara itu, indeks sektoral IDXnonsiklikal melemah 1,82 persen, IDXindustri susut 1 persen dan IDXinfrastruktur melemah 0,86 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya