Telkom Indonesia Berharap Regulasi Baru demi Genjot Digitalisasi Nasional

Oleh Dian Tami Kosasih pada 13 Jul 2021, 14:16 WIB
Diperbarui 13 Jul 2021, 14:16 WIB
Ilustrasi bayar tagihan
Perbesar
Kini, bayar tagihan Telkom tak lagi harus di kantor Telkom atau bank. Seperti apa metode pembayaran barunya?

Liputan6.com, Jakarta - Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo terkait transformasi digital di Tanah Air, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berharap ada beberapa regulasi tambahan yang nanti bisa mendorong sektor ini.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk, Ririek Adriansyah menyebut, jumlah penduduk Indonesia 271 juta jiwa menjadi pasar menarik bagi para pelaku industri telekomunikasi dan pemain digital global.

"Wilayah yang tersebar menjadi tantangan untuk kelayakan bisnis bagi para operator, pemerataan infrastruktur menjadi kurang optimal," kata Ririek.

Tak hanya itu, perusahaan BUMN ini juga menegaskan bila raksasa teknologi dengan modal besar saat ini mulai masuk ke wilayah domestik dengan memanfaatkan celah-celah regulasi.

"Dengan hal ini, kami juga berharap adanya dukungan karena Telkom Grup ini tak bisa melakukannya sendirian, tapi juga membutuhkan stakeholder yang ada termasuk juga regulasi yang ada," tuturnya.

Terdapat empat hal yang dipaparkan Ririek terkait regulasi yang dibutuhkan, pertama ialah  dukungan keberpihakan pada produk dan layanan dalam negeri yang mendorong percepatan pertumbuhan industri dan ekonomi digital di Indonesia.

Hal yang kedua ialah mendukung terjadinya persaingan usaha yang sehat dan menumbuhkan investasi di Indonesia dengan tetap memberlakukan batasan kepemilikan asing sebagai bentul perlindungan terhadap industri ekssisting yang sudah berjalan baik, pengamanan pencapaian program pemerintah dan peningkatan ketahanan nasional.

Selanjutnya, mendukung hak dan kewajiban yang seimbang antara para raksasa teknologi dengan operator telekomunikasi lokal, baik dalam perlindungan data, kewajiban pembayaran pajak, PNBP maupun kesepakatan bisnis.

Terakhir mendukung pertumbuhan optimal industri telekomunikasi yang mampu menyediakan sumber daya, harmonis antara Perda dan peraturan pusat serta mendorong pertumbuhan dan pemerataan layanan di seluruh pelosok Indonesia. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Telkom Siap Perluas Jaringan

Telkom Indonesia.
Perbesar
PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom).

Sebelumnya, Pemerintah berharap kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia diharapkan meningkat hingga 18 persen atau setara dengan Rp4.531 triliun pada 2030.

Untuk mendukung hal ini, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengaku siap menjangkau 12 ribu desa di seluruh Indonesia yang saat ini masih sulit mendapatkan akses digital.

"Saat ini mungkin ada 12 ribu desa yang belum terjangkau. Ini menjadi PR kita bersama. Kami di Telkom siap mensuport, tentunya dengan dukungan dari Kominfo. Tahun depan paling enggak bisa menjangkau 12 ribu desa itu," kata Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk, Ririek Adriansyah secara virtual, Selasa, 13 Juli 2021.

Dalam pemaparannya, Ririek menegaskan bila Telkom saat ini telah membangun 168 ribu fiber optik, 35,8 ribu tower, 133 transponder satelit, dan 26 data center.

"Kami di Telkom sudah membangun fiber optic di seluruh Indonesia yang menghubungkan ibu kota dan kabupaten. Kami juga memiliki satelit untuk daerah terpencil, termasuk tower dan data center," ujarnya.

Melalui anak usahanya Telkomsel, Ririek juga menegaskan bila pihaknya telah berhasil menjangkau 99 persen populasi di Indonesia. Meski demkian, 25 persen penggunannya masih belum menggunakan ponsel pintar.

"Untuk mobile melalui Telkomsel kita sudah membangun 231 ribu BTS yang secara populasi sudah menjangkau 99 persen. Hanya saja tantangannya di kita masih ada 25 persen yang belum menggunakan smart phone, jadi masih terbatas saat mengakses data dan aplikasi," tuturnya.  

Tak hanya itu, tantangan lain yang juga menjadi perhatian Telkom ialah beberapa keluarga masih belum memiliki ponsel pintar untuk sistem belajar daring yang saat ini diterapkan pemerintah.

"Untuk belajar jarak jauh kami juga memberikan suport. Memang ada tantangan, seperti dalam satu keluarga itu belum tentu memiliki smart phone, selain itu juga, mungkin bapaknya yang punya memiliki anak dua, jadi harus bergantian menggunakannya," katanya.

Dengan fenomena ini Ririek berharap ke depan sistem digital akan semakin baik dan merata.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya