Pasar Modal RI Perlu Cara Baru Dongkrak Jumlah Investor

Oleh Agustina Melani pada 12 Jul 2021, 23:06 WIB
Diperbarui 12 Jul 2021, 23:07 WIB
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT MNC Sekuritas Susy Meilina menilai pasar modal perlu memikirkan cara baru untuk menambah jumlah investor. Hal ini mengingat investor kripto tumbuh lebih cepat ketimbang saham.

Susy mengatakan, generasi milenial dekat dengan sesuatu hal baru di tengah dunia bergerak makin cepat. Salah satu produk yang menarik perhatian generasi milenial itu berkaitan dengan kripto. Susy menuturkan, ada salah satu pelajaran diambil dari kripto mengenai kemudahan sehingga mendongkrak investor kripto dengan cepat.

"Investor (kripto-red) cepat banget naik sudah 5 juta. Investor pasar modal 5,6 juta itu setelah 40 tahun, itu pun sebagian besar investor reksa dana. Pasar modal perlu memikirkan cara pembaharuan supaya investor cepat naik, agar tak kalah dengan produk investasi lain," kata dia, saat diskusi virtual, Senin (12/7/2021).

Sementara itu, Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee menuturkan, kripto bukan termasuk mata uang karena tidak diakui berbagai bank sentral sebagai alat pembayaran. Ia mengatakan, kripto itu sebagai komoditas.

"Sebagai komoditas, tetapi teman-teman harus hati-hati lihat fundamental value-nya, sangat sulit dihitung, tidak punya fundamental value ketika tidak bisa jadi alat pembayaran," kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kripto Dinilai Aset Spekulasi

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Perbesar
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Untuk membentuk fundamental value, menurut Hans, harus diakui sebagai alat pembayaran oleh bank sentral.

“Bank sentral tidak akui. Ini (Kripto-red) sebagai aset spekulasi.tidak menciptakan nilai tambah seperti saham. Kalau saham nilai perusahaan naik,” tutur dia.

Hans menambahkan, kripto berkaitan dengan permintaan dan persediaan. Ia menuturkan, ketika permintaan banyak, harga akan naik, dan ketika ada persediaan akan turun. “Kripto itu lawan seluruh bank sentral. Mata uang ini akan sulit berkembang. Akan berkembang kalau bank sentral keluarkan currency sendiri,” kata dia.

Ia menuturkan, kripto bisa jadi pertimbangan tetapi alokasinya disarankan tidak besar. “Jadi mau investasi di kripto boleh tapi dana jangan besar. Sisanya bisa di saham, obligasi, dan instrumen investasi lain yang menjanjikan,” kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya