Seberapa Besar Pengaruh Wall Street terhadap Pasar Modal Indonesia?

Oleh Dian Tami Kosasih pada 12 Jul 2021, 19:37 WIB
Diperbarui 12 Jul 2021, 19:37 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menyebutkan, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street memiliki pengaruh cukup besar untuk pasar modal di Indonesia.

"Jadi sebenarnya korelasinya sangat besar ya (wall street-red) karena memang pasar USA itu yang paling besar memberikan pengaruh, meskipun ada dari Asia dan Eropa, tapi tak sebesar Amerika Serikat karena memang investor mereka masuk ke pasar global seluruh dunia," ujar dia, Senin (12/7/2021).

Terkait pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sangat cepat, Hans menyebut bila distribusi vaksin dan tingkat keberhasilannya menangkal virus yang menyebabkan COVID-19 menjadi kunci utama.

"Peluncuran vaksin mereka sangat cepat dan mereka memiliki Pfizer dan Moderna yang punya efektifitas 95 persen ditambah Johnson and Johnson yang hanya membutuhkan satu suntikan, sehingga Amerika Serikat sudah berhasil menang dari COVID-19 dan mulai kampanye buka masker," ujarnya

Hal tersebut berbanding terbalik dengan kawasan Asia. Saat ini terdapat varian baru Delta, yang membuat ledakan kasus positif di beberapa wilayah dan memaksa sebagian negara untuk melakukan lockdown.

"Hal ini membuat banyak negara di Asia yang lockdown sehingga ekonomi melambat sedikit dan pasar modal kencang naik ke atas. Sedangkan Amerika sudah bergerak duluan jadi naik ke atas," tuturnya.

Oleh karena itu, Hans menyebut, saat ini tugas utama yang harus dibenahi lebih dulu ialah meningkatkan kesehatan setiap masyarakat dan mencegah penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19 semakin parah.

"Tapi saya punya pengalaman kalau pasar turun adalah waktu yang baik untuk membeli saham, jadi kalau punya uang menganggur 5 sampai 6 tahun bisa beli di sana," ujarnya.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Wall Street Cetak Rekor Tertinggi Berkat Saham Bank

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Sebelumnya, Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat sentuh rekor tertinggi pada perdagangan saham Jumat, 9 Juli 2021. Wall street kembali naik dari sesi sebelumnya yang tertekan karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Hal itu didukung dari saham bank yang memimpin penguatan di sektor keuangan.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones menguat 448,23 poin atau 1,3 persen menjadi 34.870,16. Indeks S&P 500 naik 1,1 persen, dan sentuh rekor tertinggi ke posisi 4.369,55. Indeks saham Nasdaq naik 1 persen ke posisi 14.701,92.

Indeks S&P 500 menguat dalam enam minggu. Penguatan pada perdagangan Jumat pekan ini membawa indeks saham acuan utama menguat selama sepekan. Indeks Dow Jones naik 0,2 persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq menanjak 0,4 persen.

Saham bank menguat menjelang akhir pekan ini. Saham Bank of America melompat 3,3 persen, dan memimpin penguatan di sektor keuangan. Saham Royal Carribean naik 3,6 persen dan saham Wynn Resorts menanjak dua persen. Saham American Airlines dan United Airlines masing-masing menguat lebih dari dua persen.

Indeks saham kapitalisasi kecil Russell 2000 reli lebih dari dua persen. Saham General Motors mendaki 4,8 persen setelah Wedbush mengatakan rekomendasi beli saham.

Saham teknologi besar menguat terbatas pada Jumat pekan ini karena Presiden AS Joe Biden teken perintah eksekutif baru yang ditujukan untuk praktik kompetitif oleh raksasa di sektor ini. Saham Amazon melemah 0,3 persen setelah mencapai rekor tertinggi baru sepanjang masa pada Kamis pekan ini.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik tujuh poin menjadi 1,36 persen, meredakan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi. Imbal hasil yang turun telah membingungkan investor akhir-akhir ini dengan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun melemah 1,25 persen ke posisi terendah pada Kamis pekan ini.

Wall street tertekan pada Kamis pekan ini dengan indeks Dow Jones turun hampir 260 poin karena kekhawatiran varian delta COVID-19 yang sangat menular juga memicu kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi global.

Di sisi lain, Olimpiade mengumumkan larangan penonton di pertandingan musim panas Tokyo ketika Jepang mengumumkan keadaan darurat untuk mencegah penyebaran COVID-19.

"Kasus utama adalah Juli yang berombak dengan indeks S&P 500 jatuh ke level terendah 4.100,” ujar Fundstrat Head of Research, Tom Lee dilansir dari CNBC, Sabtu, 10 Juli 2021.

Ia menuturkan, perdagangan saham yang tertekan pada Kamis kemarin menandai puncak ketakutan pertumbuhan. Tom menilai jika benar, saham mungkin bergeser ke arah risiko lebih luas.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya