Saham Apple Sentuh Rekor Tertinggi Sejak Januari 2021

Oleh Agustina Melani pada 08 Jul 2021, 19:31 WIB
Diperbarui 08 Jul 2021, 19:51 WIB
Apple
Perbesar
Tampilan iPhone 12 yang baru diluncurkan. (Dok Apple)

Liputan6.com, Jakarta - Saham Apple Inc mencatat rekor pertama sejak Januari 2021, dan alami kenaikan tujuh hari berturut-turut pada Rabu, 7 Juli 2021.

Saham Apple naik 1,8 persen menjadi USD 144,57, melampaui rekor penutupan sebelumnya USD 143,16 pada 26 Januari. Kapitalisasi pasar Apple sentuh USD 2,4 triliun.

Saham Apple menguat selama tujuh hari berturut-turut menandai kemenangan beruntun terpanjang dalam waktu tiga bulan. Saham Apple telah naik 8,6 persen selama tujuh sesi terakhir. Saham Apple telah naik 9 persen sepanjang 2021.

"Aliran uang besar sekarang menuju ke Amazon, Apple, Google, Facebook, Microsoft dengan segelintir lainnya, saya pikir itu berlanjut setidaknya hingga pengumuman kinerja pendapatan tiga minggu lagi,” ujar Capital Management President, Gary Kaltbaum dilansir dari Fox Business, Kamis (8/7/2021).

Meski menguat, saham Apple masih tertinggal dari saham teknologi besar lainnya termasuk Google yang naik 44 persen. Saham Microsoft dan Facebook masing-masing naik lebih dari 25 persen. Saham Amazon naik 13,5 persen.

Saham Amazon sentuh rekor tertinggi baru setelah CEO Andy Jassy mengambil alih kepemimpinan dari pendiri Jeff Bezos pekan ini.

Namun pada pra perdagangan Kamis, 8 Juli 2021, saham Apple turun 2,03 persen ke posisi USD 141,63

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penutupan Wall Street pada 7 Juli 2021

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Rabu, 7 Juli 2021. Indeks S&P 500 cetak rekor terbaru seiring investor kembali masuk ke saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 naik 0,34 persen ke level tertinggi di posisi 4.358,13. Indeks Dow Jones mendaki 104,42 poin ke posisi 34.681,79. Indeks Nasdaq ditutup mendatar di posisi 14.665,06 meski mencapai rekor intraday tak lama setelah pembukaan.

Dengan penurunan suku bunga dan wall street mengkhawatirkan puncak pertumbuhan ekonomi, investor kembali ke saham teknologi raksasa. Saham Apple dan Amazon menguat sekitar 15 persen selama sebulan terakhir. Angka ini di atas kinerja indeks S&P 500 naik 3,1 persen. Saham Apple naik 1,8 persen dan Amazon menguat hampir 0,6 persen.

Menentang banyak prediksi, imbal hasil treasury 10 tahun turun ke level terendah 1,296 persen pada Rabu pekan ini. “Seperti yang terjadi selama beberapa waktu, arah imbal hasil obligasi dan saham teknologi telah bergabung,” ujar Chief Investment Strategist Leuthold Group, Jim Paulsen, dilansir dari CNBC, Kamis (8/7/2021).

Ia menambahkan, pelaku pasar akan mengawasi saat indeks teknologi S&P 500 bergerak lebih dekat ke harga relatif tinggi yang ditetapkan September lalu. “Penembusan di atas level itu tentu akan memperkuat siklus kepemimpinan berkelanjutan untuk teknologi,” kata dia.

Di sisi lain, risalah the Federal Reserve dari pertemuan 15-16 Juni, bank sentral AS mempertahankan suku bunga jangka pendek mendekati nol tetapi juga menunjukkan kemungkinan akan menyesuaikan kebijakan sebaliknya pada bulan mendatang. Selain itu, risalah mengungkapkan bank sentral membahas pengurangan pembelian obligasi tetapi tidak terburu-buru untuk memulai proses tersebut.

Saham energi berada di zona merah karena harga minyak turun. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level tertinggi dalam enam tahun pada perdagangan Selasa, 6 Juli 2021. Namun, perdagangan Rabu, 7 Juli 2021, harga minyak kembali turun. Occidental Petroleum turun hampir 3,4 persen, APA Corp dan Pioneer Natural Resources keduanya turun sekitar 2,3 persen.

Sahma bank termasuk Goldman Sachs dan Bank of America melanjutkan penurunan pada Rabu pekan ini karena imbal hasil obligasi jangka panjang turun dalam, dan merusakan prospek keuntungan industri.

Investor mungkin khawatir ekonomi mendekati puncaknya dan koreksi dapat terjadi. Analis menilai, kombinasi dari tekanan margin keuntungan, ketakutan inflasi, rencana pengurangan stimulus the Fed dan kemungkinan pajak lebih tinggi dapat berkontribusi pada penarikan akhirnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya