BEI Kantongi 23 Perusahaan Antre IPO hingga Juli 2021

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 07 Jul 2021, 11:19 WIB
Diperbarui 08 Jul 2021, 09:01 WIB
Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengantongi daftar sejumlah perusahaan yang berencana go public (Initial Public Offering/IPO).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna membeberkan, hingga saat ini ada 23 perusahaan antre di pipeline pencatatan saham BEI.

"Hingga saat ini, terdapat 23 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI, 3 di antaranya diprediksi akan tercatat pada bulan Juli 2021,” kata dia kepada awak media, Rabu (7/7/2021).

Adapun hingga 6 Juli 2021, telah tercatat 736 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), 24 di antaranya merupakan perusahaan tercatat baru pada 2021.

Merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline. Antara lain, 2 Perusahaan aset skala kecil dengan aset aset di bawah Rp 50 miliar, 10 Perusahaan aset skala menengah dengan aset antara Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar.

Serta 11 Perusahaan aset skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Sementara rincian sektornya adalah sebagai berikut:

• 3 Perusahaan dari sektor Consumer Non-Cyclicals;

• 2 Perusahaan dari sektor Basic Materials;

• 3 Perusahaan dari sektor Technology;

• 4 Perusahaan dari sektor Consumer Cyclicals;

• 2 Perusahaan dari sektor Transportation & Logistic;

• 4 Perusahaan dari sektor Industrials;  

• 1 Perusahaan dari sektor Energy;

• 2 Perusahaan dari sektor Financials;

• 1 Perusahaan dari sektor Healthcare;

• 1 Perusahaan dari sektor Retailing;

Scroll down untuk melanjutkan membaca

BEI Ungkap Prospek IPO Unicorn di Indonesia

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Sejak pagi IHSG terjebak di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan penyesuaian, termasuk dari sisi regulasi untuk mengakomodir perusahaan rintisan (startup) untuk melantai di Bursa. Tak terkecuali bagi startup dengan level unicorn.

Komisaris BEI, Pandu Putra Sjahrir menilai, pandemi COVID-19 mendorong sejumlah perusahaan berbasis teknologi digital naik daun. Hal itu merupakan buntut dari pemberlakuan pembatasan sosial. Sehingga mau tidak mau masyarakat beralih mengandalkan layanan daring untuk memenuhi hampir semua kebutuhan sehari-hari.

"Perusahaan-perusahaan e-commerce yang akan masuk ke bursa itu akan memberikan tambahan quality of emiten yang besar-besar, jadi saya rasa positif,” ujar Pandu dalam Mid Year Economic Outlook Day #1, Selasa, 6 Juli 2021.

Pandu mengakui. pandemi COVID-19 memang mendorong akselerasi digital di dalam negeri. Bahkan, dengan progres yang saat ini berlangsung, Pandu mengatakan akselerasi teknologi di dalam negeri bisa berlangsung 3-5 tahun lebih cepat dari perkiraan.

“Gara-gara COVID-19, akselerasi teknologi kita 3-5 tahun lebih cepat. Sekarang mau enggak mau semua menggunakan teknologi untuk sehari-hari karena lebih efisien," ujar dia.

Saat ini, Pandu melihat implementasi digitalisasi ini banyak ditemukan di kota besar, termasuk transaksi tanpa uang tunai (cashless).

Namun ke depan, Pandu mengatakan hal ini akan diadopsi oleh kota kecil lainnya di tanah air. Bahkan, kini digitalisasi sudah merambah pada sektor UMKM. "Dengan adanya (perusahaan teknologi) tadi, akan jadi game changer untuk bursa kita," ujar Pandu.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya