Fitch Solutions Prediksi Rute Domestik Bakal Topang Pertumbuhan Volume Angkutan Udara

Oleh Agustina Melani pada 07 Jul 2021, 10:40 WIB
Diperbarui 07 Jul 2021, 10:40 WIB
FOTO: Suasana Bandara Soetta Pasca Larangan Mudik Dicabut
Perbesar
Penumpang pesawat berjalan keluar dari Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/5/2021). Berdasarkan data pengelola Bandara Soekarno Hatta pada hari pertama pascalarangan mudik, tercatat ada 651 pergerakan pesawat baik datang maupun pergi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Fitch Solutions memperkirakan ada 673 bandara di Indonesia yang mencerminkan komposisi geografisnya dan pentingnya perjalanan udara untuk mencapai daerah dan pulau lebih terpencil. Dari 186 bandara memiliki landasan pacu beraspal yang meningkatkan konektivitas karena mereka akan mampu menangani pesawat yang besar dan banyak layanan.

Transportasi udara internal untuk barang dan penumpang berkembang baik, dan sebagian besar lokasi dapat dijangkau melalui udara yang penting untuk pulau-pulau yang lebih terpencil dan daerah tidak terlayani dengan baik oleh jalan seperti Selatan Sumatera, Papua Barat dan Kalimantan.

Bandara internasional Soekarno-Hatta di Jakarta dengan bandara internasional lainnya di Surabaya, Jawa, Denpasar di Bali, Medan di Sumatera Utara, dan Makassar di Sulawesi.

Ada juga banyak bandara kecil yang melayani daerah lebih terpencil beberapa di antaranya menawarkan penerbangan internasional ke pusat transportasi udara regional seperti Perth di Australia, Singapura, Kuala Lumpur, Malaysia serta layanan domestik.

Konektivitas maskapai internasional Indonesia baik dari sisi angkutan penumpang maupun barang sangat baik. Penerbangan rute internasional langsung tersedia ke berbagai kota Asia, Timur Tengah, Eropa, Tokyo, Beijing, Seoul, Taipei, Hong Kong, Manila.

Selain itu, Bangkok, Sydney, Jeddah, Doha, Dubai, Amsterdam, Paris, Frankpurt, dan Moskow. Maskapai termasuk Air Asia, Air France, Cathay Pacifik, Emirates, Japan Airlines, KLM dan Virgin Australia.

Layanan kargo internasional tersedia dari Bandara Soekarno-Hatta, Kualanamu, Medan ke berbagai tujuan termasuk Singapura, Hong Kong, Bangkok Abu Dhabi, Paris dan Amsterdam.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertumbuhan Volume Angkutan Udara Tetap Stabil dalam Jangka Menengah

FOTO: Cegah Corona, Calon Penumpang di Bandara Soetta Pakai APD
Perbesar
Sejumlah calon penumpang pesawat menggunakan alat pelindung diri (APD) di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin (11/5/2020). Calon penumpang menggunakan APD untuk melindungi diri dari penularan virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dalam laporan Fitch Solutions bertajuk Indonesia Freight Transport & Shipping Report Quartal III 2021 menyebutkan pertumbuhan volume angkutan udara akan tetap stabil dalam jangka menengah.

"Kami memperkirakan pertumbuhan tahunan rata-rata 6,4 persen lebih pada 2021-2025. Sebuah skenario yang akan melihat total tonase yang ditangani oleh udara mencapai sekitar 1,2 juta ton pada akhir 2025," tulis Fitch Solutions.

Perdagangan intra-Asia sedang berkembang. Fitch Solutions melihat ekspansi stabil dari tren ini di sektor pengiriman peti kemas. "Kami percaya bahwa perkembangannya akan mempercepat pasar angkutan udara dalam jangka menengah,” tulis Fitch.

Secara keseluruhan, Fitch Solutions mengharapkan tingkat penumpang pesawat meningkat di Indonesia dengan pendapatan produk domestic bruto (PDB) per kapita yang tinggi memfasilitasi lebih banyak perjalanan udara di antara pulau-pula di negara kepulauan.

Fitch Solutions melihat sejumlah pembangunan infrastruktur mendukung perjalanan udara antara lain Bandara Kediri di Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang diharapkan selesai pada 2022.

Gudang Garam melalui anak usahanya Surya Dhoho Investama akan habiskan sekitar Rp 10 triliun untuk membangun bandara termasuk pembebasan lahan sekitar 400 hektar. Pembangunan bandara yang dibiayai sepenuhnya oleh perusahaan, diharapkan lebih besar dari Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang, Jawa Timur dan menampung sekitar 5 juta penumpang per tahun.

Setelah selesai, bandara tersebut akan memiliki landasan pacu 3.000 m yang akan mampu menampung berbagai pesawat dari Boeing B777 hingga Airbus A350, serta terminal penumpang, terminal kargo, dan area parkir.

Pembangunan bandara tersebut diharapkan dapat kurangi beban berlebih bandara internasional Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur yang sekitar dua jam perjalanan dari Kediri.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prediksi Jangka Panjang

Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta)
Perbesar
Suasana Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)

Dalam jangka panjang, Fitch Solutions melihat kapasitas angkutan udara akan didukung oleh investasi infrastruktur bandara yang signifikan selama dekade mendatang. Ada hal yang berkaitan dengan perluasan fasilitas bandara yang ada dan proposal untuk membangun bandara untuk meningkatkan asesibilitas berbagai lokasi di Indonesia.

Berdasarkan data Fitch Solutions, ada 21 proyek bandara sedang dalam proses. Nilai proyek senilai USD 12,1 miliar. Proyek itu termasuk rencana pembangunan bandara baru Banten Selatan dan perluasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sudah ada di Jakarta. Keduanya masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Selama dekade terakhir, jumlah penumpang domestik yang ditangani  meningkat rata-rata 10,7 persen year on year (yoy) per tahun dari 75 juta penumpang menjadi hampir 200 juta penumpang pada 2017 membebani fasilitas yang ada.

Demikian pula, Fitch Solutions mencatat pertumbuhan yang tinggi di lalu lintas penumpang internasional, meski pun tetap merupakan sebagian kecil dari total penumpang yang ditangani.

Ke depan, Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengharapkan Indonesia menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia menangani lebih dari 400 juta penumpang pada 2037. Berkontribusi untuk ini adalah Bandara Kediri yang diharapkan selesai dalam dua tahun. Bandara ini diharapkan lebih besar dari Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang, Jawa Timur dan menampung sekitar 5 juta penumpang per tahun.

"Kami percaya sebagian besar peningkatan lalu lintas akan didorong oleh sektor penerbangan domestik dengan rencana Jokowi untuk mengembangkan jurusan lainnya lokasi di luar Jawa yang memerlukan peningkatan konektivitas udara di seluruh nusantara serta kenaikan kesejahteraan masyarakat yang menjadi faktor utama,” tulis Fitch Solutions.

Selain itu, pengenalan rute domestik baru dan perluasan ukuran armada oleh maskapai berbiaya rendah domestik seperti Citilink, Lion Air dan Air Asia Indonesia merupakan sinyal yang mendukung pertumbuhan permintaan perjalanan domestik.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya