Top 3: Menakar Daya Serap Investor Domestik di Tengah Rencana IPO Startup

Oleh Dian Tami Kosasih pada 25 Jun 2021, 09:31 WIB
Diperbarui 25 Jun 2021, 09:32 WIB
IHSG Ditutup Melemah ke 6.023,64
Perbesar
Pengendara mobil dan sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Sebanyak 205 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah perusahaan rintisan (startup) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, ada Bukalapak yang dikabarkan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Sebelumnya, ada entitas hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia, GoTo Grup, yang juga merencanakan IPO tahun ini. Direktur MNC Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, IPO startup masih menjadi perdebatan di kalangan investor hingga analisis konvensinal dan modern.

Ia menekankan pada daya serap investor domestik terhadap rencana IPO startup. Mengingat banyak emiten yang juga melakukan rights issue. Artinya, kebutuhan dana saat ini juga cukup besar.

Artikel menakar daya serap investor domestic di tengah rencana IPO Startup menyita perhatian pembaca di saham. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di saham?

Berikut sejumlah artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Jumat (25/6/2021):

1.Menakar Daya Serap Investor Domestik di Tengah Rencana IPO Startup

Sejumlah perusahaan rintisan (startup) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, ada Bukalapak yang dikabarkan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Sebelumnya, ada entitas hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia, GoTo Grup, yang juga merencanakan IPO tahun ini. Direktur MNC Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, IPO startup masih menjadi perdebatan di kalangan investor hingga analisis konvensinal dan modern.

Ia menekankan pada daya serap investor domestik terhadap rencana IPO startup. Mengingat banyak emiten yang juga melakukan rights issue. Artinya, kebutuhan dana saat ini juga cukup besar.

Berita selengkapnya baca di sini

2.Melihat Perkembangan PKPU Sritex di Tiga Negara

PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menyampaikan beberapa perkembangan material mengenai proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat.

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) menyampaikan itu dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (24/6/2021). Untuk Indonesia, Majelis Hakim Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Semarang telah memutuskan untuk mengabulkan permintaan Perusahaan untuk memperpanjang proses PKPU hingga 90 hari ke depan.

Perpanjangan ini dimohonkan kepada Pengadilan mengingat kompleksitas proses restrukturisasi utang Perusahaan. Dilansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan berharap perpanjangan ini menjadi proses menuju perdamaian antara PT Sri Rejeki Isman Tbk dengan para stakeholder terkait.

Berita selengkapnya baca di sini

3.Vale Indonesia Gandeng Dua Mitra Garap Fasilitas Pengolahan Nikel Bahodopi

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama dua mitra Taiyuan Iron dan Steel Group Co Ltd dan Shandong Xinhai Technology Ltd teken dokumen perjanjian kerangka kerja sama proyek untuk fasilitas pengolahan nikel Bahodopi pada Kamis, (24/6/2021).

Perjanjian ini telah menyepakati secara prinsip hal-hal utama terkait proyek itu, seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti PT Vale Indonesia Tbk bersama dua mitra akan membentuk perusahaan patungan untuk membangun fasilitas pengolahan nikel di Xinhai Industrial Park, Morowali, Sulawesi Tengah.

Selain itu, perusahaan patungan ini akan membangun delapan lini pengolahan feronikel rotary kiln-electric furnace dengan perkiraan produksi sebesar 73.000 metrik ton nikel per tahun beserta fasilitas pendukungnya.

Berita selengkapnya baca di sini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓